Harga Tiga Jenis BBM Nonsubsidi Naik, Sopir Truk di Kalsel Terjepit Biaya Operasional
Hari Widodo September 02, 2026 07:52 AM

 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang dijual PT Pertamina Patra Niaga secara nasional mengalami perubahan mulai Selasa (1/9/2026).

Di Kalimantan Selatan, Pertamax Turbo dari Rp 19.100 naik menjadi Rp 20.000, kemudian Pertamina Dex dari Rp 22.100 menjadi Rp 25.750 dan Dexlite dari Rp 20.550 menjadi Rp 24.200.        

Kenaikan harga BBM nonsubsidi khususnya Dexlite ini membuat biaya operasional sopir truk makin berat. Di sisi lain, mendapatkan Solar subsidi atau Biosolar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), masih menjadi persoalan tersendiri.

Seorang sopir truk di Kalsel yang meminta identitasnya disamarkan, mengaku membutuhkan sekitar 80 liter Solar setiap hari untuk perjalanan pulang-pergi.

Baca juga: Resmi Naik Rp4.050! Daftar Harga BBM Terbaru 1 September 2026, Pertamax Melonjak, Cek di Kalsel

Sebelum harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan, kebutuhan tersebut masih bisa dipenuhi dengan biaya di bawah Rp 1 juta. Namun, kondisi berbeda ketika pasokan Solar subsidi sulit diperoleh.

Ia mengaku terpaksa membeli Solar eceran dengan harga yang jauh lebih mahal. Harga Solar eceran yang sebelumnya sekitar Rp 10 ribu per liter, menurutnya, kini bisa mencapai Rp 17 ribu hingga Rp 20 ribu per liter.

“Sehari ini saya pakai Solar 80 liter pulang-pergi. Sebelum Dexlite naik drastis, 80 liter itu dapat di bawah sejuta. Tapi setelah Dexlite naik, berkali lipat harga Solar di eceran,” ujarnya kepada BPost, Selasa (1/9/2026).

Kondisi tersebut membuat pengeluaran operasionalnya ikut membengkak. Terlebih, jika Solar eceran tidak tersedia, pilihan yang tersisa adalah menggunakan BBM nonsubsidi. “Kadang kalau tidak ada sama sekali di eceran, terpaksa beli Dexlite di SPBU,” katanya.

Menurut dia, persoalan lain muncul ketika sopir memilih mengantre Solar subsidi di SPBU. Ia mengaku antrean tidak hanya menyita waktu, tetapi juga menemukan dugaan praktik pungutan kepada sopir.

Ia menyebut istilah yang biasa digunakan di kalangan sopir adalah “bayar parkir”.

Menurut pengakuannya, besaran “bayar parkir” tersebut berbeda-beda di setiap SPBU yang menyediakan Bio Solar.

Warga Banjarmasin Utara itu menyebut nominalnya bisa mencapai sekitar Rp 200 ribu. Namun, ia tidak merinci SPBU mana saja yang dimaksud.

Selain dugaan pungutan, antrean juga disebut semakin panjang ketika berbarengan dengan kendaraan yang diduga melakukan pembelian Solar subsidi berulang kali.

Ia menyebut adanya kendaraan dengan kapasitas tangki yang menurutnya sudah tidak seperti standar kendaraan pada umumnya.

Sementara bagi pelaku usaha ekspedisi, kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak masalah selama ketersediaan bahan bakar tetap terjamin. Masalah yang mereka hadapi selama ini adalah pasokan yang terbatas.

Owner Ekspedisi Azhar Jaya Utama Express, Rozi, mengaku mereka masih dapat melakukan penyesuaian terhadap biaya operasional selama kenaikan harga BBM tidak menghilangkan margin usaha dan kemampuan perusahaan memenuhi hak karyawan.

“Kalau tanggapan saya, yang penting mau Dexlite atau Solar naik, intinya stoknya ada. Masalah kenaikan itu relatif, bagaimana perspektifnya,” ujar Rozi saat ditemui di kantornya di Jalan Sultan Adam, Banjarmasin, kemarin.

Baca juga: Tarif Angkutan Travel Kotabaru-Banjarmasin Naik, Biaya Perawatan dan BBM Jadi Pertimbangan

Menurutnya, perusahaan memiliki strategi tersendiri untuk menekan biaya operasional agar kenaikan harga BBM tidak langsung membebani keberlangsungan usaha.

Selama keuntungan perusahaan masih dapat dipertahankan dan kebutuhan karyawan terpenuhi, penyesuaian terhadap biaya operasional masih bisa dilakukan.

Meski begitu, Rozi mengakui mendapatkan Solar di lapangan masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha.

“Untuk Solar memang agak susah, cuma alhamdulillah masih bisa kita dapatkan sejauh ini,” katanya.(Banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.