Harga Ikan dan Kangkung Naik Akibat Cuaca, BPS Catat Inflasi Bulanan Beltim 0,65 Persen
Ardhina Trisila Sakti September 02, 2026 12:38 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung Timur mengeluarkan data perkembangan indeks harga konsumen terbaru untuk periode Agustus 2026.

Berdasarkan data BPS, Kabupaten Belitung Timur mengalami inflasi sebesar 0,65 persen month to month (m-to-m) pada bulan Agustus 2026.

Selain itu, BPS juga mencatat inflasi year on year (y-to-y) Belitung Timur yang berada di angka 3,27 persen, serta inflasi year to date (y-to-d) sebesar 1,95 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong kenaikan harga selama Agustus 2026 dan menyumbang andil inflasi terbesar hingga 0,49 persen.

"Pada Agustus 2026, semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi terutama kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas penyumbang utama inflasi m-to-m adalah ikan bulat sebesar 0,23 persen, ikan kerisi sebesar 0,23 persen, dan kangkung sebesar 0,09 persen," ujar Kepala BPS Kabupaten Belitung Timur, Dwi Widiyanto, Rabu (2/9/2026). 

Dwi menjelaskan, melonjaknya harga komoditas hasil laut seperti ikan bulat dan ikan kerisi sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca laut yang kurang bersahabat.

Gelombang tinggi dan angin kencang, kata dia, berimbas langsung pada penurunan volume tangkapan nelayan lokal. Sehingga, pasokan ikan segar di pasar-pasar tradisional berkurang drastis. 

Sementara untuk kelompok hortikultura, fenomena kemarau panjang yang melanda wilayah Belitung Timur mulai berdampak pada produktivitas sektor pertanian.

Dwi mengatakan keterbatasan pasokan air untuk irigasi menyebabkan hasil panen komoditas sayuran hijau seperti kangkung mengalami penurunan volume. Akibatnya mendorong kenaikan harga di pasaran.

"Keterbatasan air menyebabkan hasil panen petani menurun sehingga pasokan sayuran hijau di pasar berkurang dan mendorong kenaikan harga," ucapnya. 

Bupati Belitung Timur Kamarudin Muten melalui Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi, dan Keuangan Bayu Priyambodo, meminta seluruh instansi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi krisis pasokan.

"Terutama potensi kenaikan harga sayuran akibat berkurangnya produksi, bahkan kemungkinan gagal panen. Beberapa komoditas lainnya juga perlu kita perhatikan agar tidak memberikan tekanan terhadap inflasi," tegas Bayu. 

Bayu menginstruksikan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) serta dinas-dinas terkait untuk rutin memantau pergerakan harga dan kelancaran stok pangan di tingkat distributor hingga pedagang. 

Pemerintah daerah juga saat ini sedang mengkaji opsi penyelenggaraan Operasi Pasar Murah maupun Gerakan Pangan Murah (GPM) jika terjadi fluktuasi harga kebutuhan pokok yang tidak wajar di lapangan.

Selanjutnya, Pemkab Beltim mengupayakan penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk menutupi defisit pasokan komoditas pangan tertentu. Kerja sama tersebut diharapkan dapat mengamankan ketersediaan stok, memulihkan daya beli masyarakat, serta menjaga laju inflasi daerah.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.