546 Tangki Air Sudah Didrop, 24 Ribu Warga Boyolali Belum Lepas dari Ancaman Kekeringan
Putradi Pamungkas September 02, 2026 02:14 PM

Laporan Wartawan TribunSoloc.com, Tri Widodo 

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Krisis air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah belum juga mereda. 

Hingga 1 September 2026, BPBD Boyolali telah menyalurkan 2.592.000 liter air bersih, tetapi 24.706 warga masih menghadapi ancaman kekeringan.

Air bersih tersebut BPBD distribusikan menggunakan 546 tangki ke 11 kecamatan, 32 desa/kelurahan, dan 95 dukuh yang terdampak kekeringan.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengatakan distribusi air tersebut untuk memenuhi kebutuhan 7.974 kepala keluarga (KK) atau 24.706 jiwa.

"Sampai saat ini kita sudah melakukan dropping air bersih di 11 kecamatan terdampak. Total yang sudah kita salurkan kurang lebih 2,5 juta liter untuk memenuhi kebutuhan 7.974 KK atau 24.706 jiwa," ujar Ari, Rabu (2/9/2026).

KRISIS AIR - Ilustrasi warga saat mendapatkan bantuan air bersih, belum lama ini. Krisis air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Boyolali belum juga mereda. Hingga 1 September 2026, BPBD Boyolali telah menyalurkan 2.592.000 liter air bersih, tetapi 24.706 warga masih menghadapi ancaman kekeringan.
KRISIS AIR - Ilustrasi warga saat mendapatkan bantuan air bersih, belum lama ini. Krisis air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Boyolali belum juga mereda. Hingga 1 September 2026, BPBD Boyolali telah menyalurkan 2.592.000 liter air bersih, tetapi 24.706 warga masih menghadapi ancaman kekeringan. (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Wonosamodro dan Wonosegoro Terima Distribusi Terbanyak

Dari 11 kecamatan yang terdampak kekeringan, Wonosamodro dan Wonosegoro menjadi wilayah dengan distribusi air bersih terbanyak.

Di Wonosamodro, BPBD Boyolali telah mengirim 218 tangki atau sekitar 982 ribu liter air bersih.

Sementara itu, Wonosegoro menerima 129 tangki atau sekitar 674 ribu liter air.

Sejumlah desa juga telah menerima distribusi air dalam jumlah ratusan ribu liter.

Desa Bojong, Kecamatan Wonosegoro, misalnya, menerima sekitar 297 ribu liter air bersih.

Kemudian Desa Gargangan, Kecamatan Wonosamudro, menerima 257 ribu liter.

Sedangkan Desa Bengle, Kecamatan Wonosegoro, mendapat sekitar 232 ribu liter air.

Meski distribusi air bersih terus dilakukan, volume tersebut belum mampu mengakhiri ancaman kekeringan di Boyolali.

Baca juga: Kisah Warga Wonosamodro Boyolali Bertahan saat Kemarau, Cari Air di Dasar Sungai

Kekeringan Boyolali Berpotensi Lebih Ekstrem

Ari mengatakan kondisi kekeringan di Boyolali tahun ini berpotensi menyamai, bahkan lebih ekstrem dibandingkan kekeringan pada 2023.

"Kalau kita bandingkan dengan data di tahun 2023, ada kemungkinan bahwa kekeringan di tahun ini kemungkinan sama ataupun bahkan jauh lebih ekstrem dibandingkan di tahun 2023," katanya.

BPBD Boyolali terus melakukan mitigasi dengan menyiapkan pasokan air bersih untuk wilayah yang terdampak.

Langkah tersebut bertujuan memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama musim kemarau panjang.

Kemarau Diprediksi Berlangsung hingga November

Ancaman kekeringan juga belum akan berakhir dalam waktu dekat. 

Berdasarkan data BMKG, kemarau tahun ini diprediksi berlangsung cukup panjang karena dipengaruhi fenomena El Nino.

Ari menyebut kondisi El Nino berada pada kategori moderat hingga kuat.

"Sesuai dengan data dari BMKG bahwa kemarau ini akan cukup panjang. El Nino itu moderat ke strong. Sehingga ada kemungkinan kemarau ini sampai di bulan November, bahkan tidak menutup kemungkinan itu nanti berlangsung sampai awal tahun 2027," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, kebutuhan air bersih warga Boyolali diperkirakan masih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

BPBD Boyolali berharap hujan mulai turun pada Desember 2026 sehingga tekanan akibat kekeringan di sejumlah wilayah dapat segera berkurang.

"Tapi harapan nanti di bulan Desember ini semoga sudah ada curah hujan sehingga dampak dari kekeringan ini dapat diminimalisir," pungkas Ari. 

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.