TRIBUBPADANG.COM, PADANG - Fenomena kabut asap tebal menyelimuti Kota Padang sejak Rabu (2/9/2026) pagi hingga siang. Asap kiriman diduga akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari provinsi tetangga tersebut mulai dikeluhkan warga karena memicu gangguan pernapasan.
Kabut asap tersebut diduga dipicu oleh kebakaran yang terjadi di Provinsi Riau dan Jambi. Provinsi Sumatera Barat, termasuk Kota Padang, terdampak oleh karhutla dari dua provinsi tetangga tersebut.
Akibat kabut asap ini, sejumlah warga mengaku mulai mengalami gangguan kesehatan seperti sesak napas hingga sakit tenggorokan.
Ghafar, warga Bariang, Kecamatan Kuranji, mengaku ikut terdampak lantaran mulai mengalami sakit tenggorokan akibat paparan asap tersebut.
Baca juga: Polisi Selidiki Penemuan Janin Bayi Terkubur di Solok, Jasad Ditemukan Tersisa Tulang Belulang
Paparan kabut asap juga dirasakan sangat pekat di kawasan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Padang, saat berkunjung.
Kondisi kabut asap yang semakin menebal ini sudah dirasakannya dalam beberapa hari terakhir.
"Saya sakit tenggorokan sudah dua hari ini, saat menghirup udara akhir-akhir ini hidung terasa tidak nyaman," ujarnya.
Ghafar juga sempat merasakan sesak napas saat beraktivitas di luar ruangan.
Menurutnya, kualitas udara di Kota Padang beberapa waktu terakhir tidak cukup baik akibat kabut asap.
"Sejak terjadi kabut asap, dada terasa sesak, saya baru merasakannya dua hari ini, biasanya masih aman," tambahnya.
Baca juga: Jadwal SIM Keliling Padang Rabu 2 September 2026: Hadir di 3 Lokasi Berbeda
Sementara itu, warga Anduring, Kecamatan Kuranji, Uwat (74), mengaku pekatnya kabut asap sejauh ini belum mengganggu kesehatannya.
Meski begitu, Uwat merasakan cuaca terasa lebih panas, walaupun paparan kabut asap tersebut belum berdampak pada kesehatannya.
Ia mengatakan saat beraktivitas di luar ruangan, cuaca panas membuat kulit terasa perih dan kondisi ini berbeda dari biasanya.
"Saat ini belum merasakan batuk dan sesak napas, tapi cuaca sangat panas, padahal kan langit tertutup kabut," sebutnya.
Menanggapi itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumatera Barat membenarkan terkait kualitas udara di Kota Padang memburuk sejak Rabu (2/9/2026) pagi.
Berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diberikan DLH Sumbar, polusi udara saat ini tercatat pada PM.25, mencapai angka 131 pada pukul 10.00 WIB.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatera Barat, Desrizal, mengatakan bahwa kualitas udara di Padang tercatat memburuk pada pada Rabu pagi.
"Polusi udara di Padang terdata pada PM2.5, artinya kualitasnya sangat tidak sehat," ucapnya.
Kata dia, pada Rabu pagi sekitar pukul 04.00 WIB, PM2.5 tercatat di angka 85 dan masih berada pada kategori sedang.
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sumbar 2 September 2026: Agam Siaga Hujan Sangat Lebat
Nilainya kemudian menurun pada angka 84 pada pukul 05.00 hingga pukul 07.00 WIB pada PM.25.
"PM2.5 ini mulai meningkat menjadi 89 pada pukul 08.00 WIB. Satu jam kemudian, angkanya kembali naik menjadi 110," sebutnya.
Puncak kenaikannya terjadi pada pukul 10.00 WIB, konsentrasi PM2.5 mencapai 131 dan masuk kategori tidak sehat.
Hingga kini, kondisi yang sama masih berlangsung hingga pukul 12.00 WIB.
Di sisi lain, pihaknya mengaku tidak bisa memprediksi kualitas udara akan memburuk atau tidak ke depannya.
"Ini tidak bisa diprediksi, kadang naik drastis, kadang menurun. Tapi yang jelas, sejak pagi kualitas udara di Padang masuk kategori tidak sehat," tambahnya.
Baca juga: Dua Pemain Alami Cedera Jelang Laga Perdana Semen Padang FC Kontra Persiraja di Liga 2
Sementara itu, berdasarkan pantauan TribunPadang.com di kawasan Anduring sejak pukul 10.37 WIB, kabut asap terlihat cukup pekat hingga mengurangi jarak pandang.
Langit Kota Padang tampak memutih akibat tertutup lapisan asap. Bahkan, saat memandang ke arah Limau Manis atau kampus Universitas Andalas (Unand), kabut asap terlihat jauh lebih tebal.
Selain itu, paparan udara terasa mulai tidak nyaman di hidung saat dihirup. Di lokasi, sejumlah warga tampak mengantisipasinya dengan memakai masker, meski sebagian lainnya masih beraktivitas tanpa pelindung pernapasan.(*)