Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan MBG, DPR Sebut Pengawasan BGN Masih Lemah
Hasanudin Aco September 02, 2026 02:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, menilai pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) masih lemah usai terjadinya kasus keracunan massal makan bergizi gratis (MBG) yang menimpa ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

"Masih terjadinya kasus keracunan menunjukkan masih lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh BGN. Monitoring perlu dilakukan setiap minggu terhadap seluruh kepala dapur," kata Yahya kepada Tribunnews.com, Rabu (2/9/2026).

Politikus Partai Golkar ini mendesak agar seluruh korban keracunan ditangani dengan maksimal.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan harus ditanggung sepenuhnya oleh BGN.

Menurut Yahya insiden berulang kasus ini menjadi bukti bahwa tata kelola program MBG mendesak untuk diperbaiki. 

Meskipun Kepala BGN yang baru telah mengambil langkah tegas namun hal tersebut dinilai belum menyentuh seluruh operasional dapur umum yang ada.

"Sebagian besar kasus keracunan terjadi akibat kelalaian pengelolaan makanan yang menjadi tanggung jawab kepala dapur. Terkait dengan masalah tersebut, saya minta BGN melakukan peningkatan kapasitas kepala dapur supaya lebih profesional, berintegritas, dan penuh kedisiplinan," ujarnya. 

Yahya juga meminta BGN melakukan investigasi yang tuntas dan terbuka terkait insiden di Sidoarjo. 

Ia mengapresiasi langkah BGN yang langsung menutup sementara dapur penyebab keracunan dan mencopot kepala dapurnya, namun tindakan itu harus diikuti evaluasi menyeluruh.

Untuk mencegah kasus serupa, Komisi IX DPR mendorong pembentukan Satuan Tugas (Satgas) MBG di setiap daerah. 

"Saya minta BGN meningkatkan pengawasan secara berkala dan presisi terhadap setiap dapur dengan membentuk Satgas MBG dengan melibatkan BPOM, pemerintah daerah, dinas kesehatan, kepala sekolah dan orangtua murid," imbuhnya.

Kronologi kasus keracunan MBG di Sidoarjo

Teranyar kasus keracunan massal menimpa 500 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (1/9/2026). 

Berdasarkan data penanganan medis terbaru, dari total 500 santri yang ditangani, sebanyak 320 pasien sudah diperbolehkan pulang atau keluar rumah sakit (KRS). 

Sementara itu, 65 pasien harus menjalani rawat inap (MRS), dan 115 pasien sisanya masih dalam penanganan observasi di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Sidoarjo, RSI Siti Hajar, dan RS Delta Surya.

Insiden bermula ketika hidangan MBG yang dikirimkan oleh pihak SPPG tiba di pondok pesantren sekitar pukul 11.30 WIB. Makanan tersebut kemudian disantap serentak oleh para santri pada pukul 13.00 WIB.

"Awalnya makan siang bersama. Makan MBG sekira jam 13.00 WIB. Lauknya telur dadar tapi kuahnya apa saya tidak tahu. (Kebetulan) saya tidak ikut makan," kata Hasan, salah satu santri yang ikut mengantar temannya di RSUD Sidoarjo.

Gejala keracunan seperti sakit perut dan mual mulai dirasakan meluas ketika para santri bersiap mengikuti jam pelajaran sekolah pada sore hari. 

Ketua Asrama Putra, Ferdiansyah, memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi para korban sepenuhnya merupakan kiriman dari SPPG, bukan dari dapur internal pesantren.

"Para siswa dan siswi sempat salat Ashar bersama. Kemudian setelah itu, saat masuk pelajaran jam pertama sekira jam 16.00 WIB, mulai ada yang mengeluh mual-mual. Jam 16.20 WIB sudah banyak yang masuk UKS masing-masing," ungkap Ferdiansyah. 

Buntut dari kejadian ini, Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengambil tindakan tegas. BGN resmi menghentikan sementara (suspend) operasional SPPG Kalitengah selaku pemasok makanan ke pesantren tersebut untuk keperluan investigasi sampel makanan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.