TRIBUNBANTEN.COM - Lahan yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan gedung SMPN 25 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) di kawasan Bukit Nusa Indah, Ciputat, menjadi perhatian warga setempat.
Sejumlah spanduk penolakan bahkan terpasang di area lahan tersebut.
Rencana pembangunan sekolah itu berada di tengah kawasan permukiman warga.
Kondisi lokasi dan akses jalan lingkungan yang digunakan masyarakat sehari-hari menjadi salah satu hal yang dipersoalkan warga terkait rencana pembangunan SMPN 25 Tangsel.
Pantauan TribunTangerang.com di lokasi, Rabu (2/9/2026), lahan yang direncanakan menjadi lokasi SMPN 25 Tangsel berada di area yang dikelilingi rumah-rumah warga.
Baca juga: 14.073 KPM Bansos di Lebak Banten Dinonaktifkan, Terindikasi Gunakan Bantuan untuk Judol
Akses menuju lokasi melewati jalan lingkungan yang digunakan sebagai jalur aktivitas sehari-hari masyarakat di kawasan tersebut.
Di atas lahan itu telah terpasang sejumlah spanduk penolakan dari warga. Salah satu spanduk bertuliskan, "Kami Warga RW 016 Bukit Nusa Indah menolak pembangunan sekolah SMPN 25 di lokasi ini".
Spanduk lainnya memuat aspirasi warga terkait kebutuhan fasilitas lingkungan. "Warga Bukit Nusa Indah memerlukan RTH dan lapangan olahraga".
Di bagian lahan masih terlihat puing-puing bekas bangunan sekolah swasta yang sebelumnya berdiri di tempat tersebut. Bangunan lama itu sudah tidak lagi digunakan dan telah dihancurkan sebelum rencana pembangunan sekolah negeri muncul.
Warga menyebut luas lahan yang akan digunakan untuk pembangunan SMPN 25 tersebut sekitar 2.500 meter persegi. Di atas lahan itu, pemerintah disebut merencanakan pembangunan gedung sekolah bertingkat.
Ketua RT 3 RW 16, Triyuni Damayanti, mengatakan warga mengetahui rencana pembangunan sekolah tersebut setelah mengikuti sejumlah pertemuan dengan pihak pemerintah. Dalam pertemuan itu, warga disebut mendapat informasi sekolah yang direncanakan akan dibangun memiliki empat lantai.
"Ternyata di sana malah menjelaskan kalau ini mau dibangun empat lantai. Nah di situ warga benar-benar menolak," ujar Triyuni kepada TribunTangerang.com, Ciputat, Tangsel, Rabu (2/9/2026).
Menurut Triyuni, persoalan yang menjadi perhatian warga bukan semata-mata pembangunan sekolah.
Kondisi lahan dan lingkungan sekitar dinilai perlu diperhitungkan jika bangunan tersebut nantinya menampung jumlah siswa dalam skala besar.
"Ya dengan keadaan lokasi seperti ini, dengan luas tanah cuma 2.500 meter, lebar jalan kurang lebih 4 meter, dibangun empat lantai, jumlah siswa jadi 1.000 siswa itu kan kayaknya sudah enggak masuk di akal," ujarnya.
Kondisi jalan di sekitar lokasi menjadi salah satu hal yang mudah terlihat ketika menuju lahan tersebut. Jalan lingkungan yang disebut warga memiliki lebar sekitar 4 meter terdapat sejumlah bagian yang membuat kendaraan harus memperhitungkan ruang ketika berpapasan.
Dwi Jatmiko, warga setempat, mengatakan kondisi tersebut akan berbeda ketika volume kendaraan meningkat pada jam masuk dan pulang sekolah.
Menurut dia, jalan yang saat ini masih dapat digunakan kendaraan secara bergantian berpotensi menjadi padat apabila harus melayani aktivitas sekolah dalam jumlah besar.
"Kalau dengan jumlah yang banyak, itu kalau berpapasan mobil dua sudah enggak bisa," ujar Dwi.
Ia menilai persoalan akses tidak hanya berkaitan dengan kendaraan warga, tetapi juga kendaraan yang nantinya mengantar dan menjemput siswa.
Menurutnya, perlu ada ruang yang jelas untuk kendaraan masuk, berhenti, menurunkan penumpang, kemudian keluar kembali tanpa mengganggu aktivitas warga.
Warga mempertanyakan ruang parkir dan area penampungan kendaraan apabila sekolah tersebut benar-benar dibangun dan beroperasi. Sebab, kapasitas yang disebut mencapai 1.000 siswa belum termasuk guru serta tenaga kependidikan yang akan beraktivitas di dalam sekolah.
Dwi memperkirakan jumlah orang yang berada di kawasan sekolah nantinya bisa mencapai lebih dari 1.000 orang apabila siswa, guru, dan tenaga kekpendidikan turut diperhitungkan.
Karena itu, menurut dia, kondisi lahan tidak cukup hanya dilihat dari bentuk bangunan yang dapat didirikan, tetapi juga dari kemampuan lingkungan sekitarnya menampung aktivitas sekolah.
"Bayangin empat lantai, semua rumah-rumah warga bisa melihat dari atas kegiatan aktivitas warga. Itu udah enggak sehat sebenarnya kalau kayak gitu," ujarnya.
Dari kondisi lapangan tersebut, pertanyaan warga kemudian mengarah pada daya dukung lokasi. Apakah lahan seluas sekitar 2.500 meter persegi, bangunan empat lantai, kapasitas hingga 1.000 siswa, serta akses jalan lingkungan sekitar 4 meter dapat berjalan beriringan tanpa menimbulkan persoalan bagi warga maupun pengguna sekolah?
Pertanyaan itu yang kini menjadi salah satu dasar keberatan warga terhadap rencana pembangunan SMPN 25 Tangsel.
Disdikbud Tangsel hingga kini belum memberikan tanggapan terkait polemik rencana pembangunan SMPN 25 tersebut.