Terapi Sel Imun untuk Kanker Bukan Pengganti Kemoterapi, Begini Penjelasan Pakar
Anita K Wardhani September 02, 2026 02:38 PM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketika mendengar istilah terapi sel untuk kanker, sebagian masyarakat mungkin membayangkan adanya pengobatan baru yang dapat langsung menggantikan kemoterapi atau pengobatan kanker lainnya.

Padahal, terapi sel imun tidak berdiri sendiri. Dokter, pakar terapi sel punca kedokteran regeneratif di Indonesia, sekaligus Deputy Director of Stem Cell and Cancer Institute, dr. Sandy Qlintang, M.Biomed, menjelaskan terapi sel untuk kanker memiliki posisi sebagai bagian dari rangkaian pengobatan.

Baca juga: Industri Farmasi Dorong Penguatan Edukasi Masyarakat Terkait Keamanan Terapi Sel Punca

Hal ini penting dipahami masyarakat agar terapi sel tidak dianggap sebagai jalan pintas dalam pengobatan kanker.

Terapi Kanker Memiliki Tahapan

Lebih lanjut, dr Sandi yang juga merupakan Presiden Direktur Regenic, Director of PT Bifarma ini menjelaskan, pengobatan kanker memiliki sejumlah tahapan.

Kemoterapi menjadi salah satu terapi yang paling terstandar.

Selain itu terdapat tindakan pembedahan untuk membuang jaringan kanker serta radioterapi.

Dalam perkembangan berikutnya, terdapat terapi yang lebih advanced, salah satunya produk biologi berupa monoclonal antibody yang bekerja secara targeted.

Ia mencontohkan penggunaan terapi targeted seperti trastuzumab dan terapi sejenisnya pada kanker payudara.

Setelah berbagai modalitas tersebut, terapi sel menjadi salah satu bagian yang dapat digunakan dalam rangkaian pengobatan.

Dengan demikian, terapi sel bukan berarti seluruh pengobatan sebelumnya harus ditinggalkan.

Justru, menurut Sandy, berbagai modalitas tersebut perlu diintegrasikan.

“Jadi terapi cell itu adalah ajufan. Jadi menambah memperkuat,"ungkapnya pada Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 bertema “Where Science Meets Purpose, Growth and Hope: The Next Chapter of Precision Medicine & Cell Therapy” yang diselenggarakan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) di The St. Regis Jakarta, Senin (31/8/2026).

Sel Imun Pasien Diperkuat di Laboratorium

Dalam terapi sel imun, sel yang digunakan berasal dari tubuh pasien sendiri.

Sel sistem imun pasien diambil terlebih dahulu.

Sel tersebut kemudian diperkuat di laboratorium sebelum dimasukkan kembali ke tubuh pasien.

Tujuannya adalah membantu sel tersebut menyerang sel kanker.

Sandy menjelaskan terapi sel imun dapat bekerja lebih efektif ketika kondisi sel kanker memungkinkan untuk diserang.

Dalam penjelasannya, kemoterapi dapat membuat sel kanker berada dalam kondisi yang disebut lebih “panas”.

Pada kondisi tersebut, terapi sel kemudian diarahkan untuk menyerang sel kanker.

Karena itu, terapi sel tidak diposisikan sebagai pengobatan yang berjalan sendirian.

Sandy menekankan perlunya integrasi dengan modalitas pengobatan kanker yang sudah ada.

“Harus barengan. Harus membuat suatu integrasi yang baik antara terapi-terapi modalitas yang sudah ada,"imbuhnya. 

Tidak Semua Kanker Bisa Langsung Menggunakan Terapi Sel

Hal lain yang perlu diketahui masyarakat adalah terapi sel imun untuk kanker masih dalam tahap penelitian.

Artinya, tidak semua jenis kanker saat ini dapat langsung mendapatkan terapi tersebut sebagai pengobatan yang sudah tersedia secara umum.

Sandy menyebut terapi sel imun untuk kanker di seluruh dunia masih berada dalam penelitian.

Di Indonesia, salah satu pengembangan yang disebutnya adalah Kintara.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Green Cross Korea.

Baca juga: Indonesia Siap Masuki Era Baru Pengobatan Pasien Kanker & Penyakit Genetik dengan Terapi Sel dan Gen

Produk tersebut dikembangkan untuk terapi kanker hati dan telah mendapatkan persetujuan dari Korean FDA di Korea.

Sementara di Indonesia, terapi tersebut masih berada dalam konteks penelitian.

Proses untuk mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga masih berlangsung.

Untuk kanker selain kanker hati, pengembangannya masih dalam penelitian.

Artinya, masyarakat perlu berhati-hati membedakan antara terapi yang sedang dikembangkan melalui penelitian dengan terapi yang sudah mendapatkan izin untuk digunakan secara luas.

Deteksi Dini Tetap Menjadi Kunci

Meskipun teknologi pengobatan kanker terus berkembang, Sandy kembali menekankan pentingnya deteksi dini.

Menurutnya, tingkat keberhasilan atau kelangsungan hidup pasien kanker sangat berkaitan dengan seberapa dini kanker ditemukan.

Karena itu, pemeriksaan untuk mendeteksi kanker sejak awal tetap penting.

Ia menyebut sejumlah pemeriksaan, antara lain pap smear, kolonoskopi, dan mammografi.

Semakin dini kanker ditemukan, peluang survival rate juga semakin tinggi.

Sebaliknya, ketika kanker sudah berada pada kondisi lebih lanjut dan telah menyebar ke berbagai bagian tubuh, pengobatan menjadi lebih sulit.

Karena itu, pemeriksaan diagnostik juga menjadi penting ketika kanker sudah ditemukan.

Pemeriksaan biomarker dan diagnostik dapat membantu menentukan pengobatan yang lebih tepat.

Pengembangan pemeriksaan genomik, ctDNA atau circulating tumor cell DNA, serta pemeriksaan marker kanker juga menjadi bagian yang dibutuhkan untuk menentukan terapi yang lebih tepat sasaran.

Pendekatan tersebut berkaitan dengan targeted immunotherapy.

Jangan Menunggu Kanker Sudah Menyebar

Menurut Sandy, masyarakat juga perlu mendapatkan pengobatan dari dokter yang memiliki kompetensi di bidang kanker.

Hal tersebut menjadi penting karena kanker bukan penyakit yang dapat ditangani hanya dengan memilih terapi berdasarkan tren atau tawaran pengobatan tertentu.

Ketika kanker sudah memasuki kondisi lebih lanjut dan menyebar, pilihan penanganannya menjadi lebih sulit.

Karena itu, perkembangan terapi sel tidak menghilangkan kebutuhan terhadap pemeriksaan dan pengobatan kanker yang sudah ada.

Justru, teknologi tersebut perlu ditempatkan dalam rangkaian pengobatan yang tepat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.