TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Ancaman penyakit ginjal kronis kini tak lagi melulu menyerang kelompok lansia.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan bahaya gangguan organ ini sudah mengintai kelompok usia produktif, bahkan menyasar remaja sejak usia 15 tahun.
Meningkatnya tren kasus di usia muda ini sejalan dengan catatan BPJS Kesehatan yang merekam sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis harus menjalani prosedur cuci darah (hemodialisis).
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi, dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD-KGH, FINASIM, menjelaskan tantangan terbesar penanganan penyakit ini adalah sifat kerusakannya yang berjalan perlahan.
Banyak penderita merasa tubuhnya bugar karena kerusakan ginjal kerap tanpa gejala di fase awal.
Diabetes dan hipertensi masih menjadi dua faktor risiko utama pemicu kerusakan ginjal.
Kadar gula darah yang tinggi merusak sistem penyaringan, sementara tekanan darah tinggi merusak pembuluh darah ginjal.
Dr. Mutalib meluruskan bahwa konsumsi minuman manis tidak secara langsung merusak ginjal, melainkan memicu obesitas dan diabetes yang berujung pada kerusakan organ tersebut.
Selain gula berlebih, beberapa kebiasaan harian yang perlu diwaspadai antara lain:
Meski samar di awal, masyarakat diimbau tidak mengabaikan beberapa tanda fisik saat fungsi ginjal mulai menurun:
Pemeriksaan berkala melalui tes darah (kreatinin dan eGFR) serta tes urine sangat disarankan, terutama bagi penderita hipertensi atau diabetes.
Vonis penyakit ginjal sendiri tidak serta-merta mewajibkan pasien langsung cuci darah.
Prosedur tersebut baru dilakukan jika fungsi organ sudah menurun sangat berat. Langkah pencegahan seperti menjaga pola makan, aktif bergerak, dan bijak menggunakan obat tetap menjadi kunci utama.