Proyek CA-EDC Chandra Asri Bidik Devisa Ekspor Rp5 Triliun per Tahun, Ini Progresnya
Seno Tri Sulistiyono September 02, 2026 03:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengembangkan proyek hilirisasi industri kimia melalui pembangunan fasilitas ChlorAlkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC), Cilegon, Banten.

Fasilitas yang dibangun melalui anak usaha TPIA, PT Chandra Asri Alkali (CAA) dengan nilaiinvestasi lebih dari US$800 juta. 

Hingga Juli 2026, progres pembangunannya telah mencapai 72n ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Baca juga: Nilai Ekspor RI Per Juli 2026 Tembus 167,03 Miliar Dolar AS 

Salah satu produk yang dihasilkan fasilitas CA-EDC, yakni ethylene dichloride (EDC), diarahkan untuk pasar ekspor. Produksi EDC tersebut berpotensi menghasilkan devisa hingga US$300 juta atau sekitar Rp5 triliun per tahun.

Di sisi lain, produksi soda kaustik cair dari fasilitas tersebut berpotensi menggantikan impor hingga 827.000 ton per tahun dengan nilai sekitar US$293 juta atau setara Rp4,9 triliun.

Kombinasi produksi untuk pasar ekspor dan substitusi impor menjadi bagian dari pengembangan fasilitas CA-EDC yang dinilai memiliki keterkaitan dengan struktur industri kimia nasional.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan, pembangunan fasilitas CA-EDC memiliki arti strategis bagi industri Indonesia, terutama melalui peningkatan produksi bahan kimia krusial seperti soda kaustik dan EDC.

“Kehadiran fasilitas ini dapat memperkuat substitusi impor untuk bahan kimia krusial seperti soda kaustik dan ethylene dichloride. Dengan meningkatnya produksi dari dalam negeri, ketahanan pasokan bagi industri domestik akan semakin kuat dan ketergantungan terhadap pasokan luar negeri dapat ditekan,” ujar Esther dikutip dari Kontan, Rabu (2/9/2026).

EDC merupakan salah satu bahan penting dalam industri kimia dan plastik. Sementara soda kaustik antara lain digunakan untuk produksi sabun dan deterjen serta pemurnian alumina.

Ketersediaan bahan baku tersebut di dalam negeri dapat memberikan kepastian pasokan bagi industri sekaligus mendukung daya saing sektor hilir.

Selain substitusi impor, Esther menyebut dampak pembangunan CA-EDC dapat berkaitan dengan pengembangan rantai industri yang menggunakan produk tersebut sebagai bahan baku.

“Apabila rantai pasoknya juga melibatkan UMKM dan pelaku usaha lokal, multiplier effect-nya akan semakin besar, baik melalui penciptaan lapangan kerja maupun pembentukan ekosistem industri kimia yang lebih kuat,” ujarnya.

Dalam pengembangannya, CA-EDC juga mendapat dukungan investasi dari Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA) sebagai mitra strategis.

Pada tahap konstruksi, proyek tersebut telah melibatkan sekitar 3.000 tenaga kerja. Ketika beroperasi penuh, fasilitas CA-EDC diproyeksikan menciptakan sekitar 250 lapangan kerja baru.

Chandra Asri Group juga mengembangkan infrastruktur distribusi, penyimpanan, dan logistik untuk mendukung integrasi rantai pasok CA-EDC.

TPIA turut menyiapkan studi kelayakan CA-EDC Tahap II dengan estimasi investasi sekitar US$1 miliar. Tahap lanjutan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperkuat ekosistem industri kimia nasional.

Kinerja Saham TPIA

Pada perdagangan hari ini, saham TPIA dibuka ke level Rp2.030, di mana sejak dibuka pukul 09.00 WIB dan berlanjut sesi II pukul 14.02 WIB, saham TPIA bergerak pada rentang Rp1.980 hingga Rp2.040.

Dalam lima hari perdagangan, saham TPIA sudah menguat 8,11 persen atau 150 poin dari posisi Rp1.850 per saham pada Kamis 27 Agustus 2026.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.