TRIBUNJOGJA.COM – Pernah nggak sih, Tribunners merasa sulit mengatakan “tidak” ketika seseorang meminta bantuan?
Padahal sedang sibuk, lelah, atau sebenarnya tidak ingin melakukannya.
Namun, ada perasaan tidak enak untuk menolak.
Takut orang lain kecewa, marah, atau menganggap kita sebagai orang yang tidak peduli.
Kalau sering mengalami hal seperti ini, Tribunners mungkin pernah mendengar istilah people pleaser.
Istilah ini cukup sering digunakan dalam pembicaraan sehari-hari, terutama ketika membahas cara seseorang berhubungan dengan orang lain.
Sebenarnya, apa itu people pleaser?
People pleaser merupakan istilah untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kecenderungan untuk menyenangkan orang lain.
Mereka biasanya berusaha menjaga perasaan orang lain, menghindari konflik, serta memenuhi keinginan orang di sekitarnya.
Contohnya sederhana.
Ketika seorang teman meminta bantuan, Tribunners sebenarnya sedang punya banyak pekerjaan.
Ingin menolak, tetapi muncul pikiran seperti, “Nanti dia kecewa nggak, ya?” atau “Kalau aku nolak, dia bakal mikir aku gimana?”
Akhirnya, bantuan tersebut tetap diterima meskipun diri sendiri sedang kewalahan.
Suka membantu orang lain tentu bukan sesuatu yang salah.
People pleasing lebih berkaitan dengan pola yang membuat seseorang kesulitan mengutamakan kebutuhan dirinya sendiri dan menetapkan batas dengan orang lain.
Ada beberapa kebiasaan yang cukup dekat dengan perilaku people pleasing.
1. Sulit mengatakan “tidak”
Menolak permintaan orang lain terasa sangat sulit bagi seorang people pleaser.
Kalimat sederhana seperti “maaf, aku nggak bisa” bisa terasa berat untuk diucapkan.
Mereka sering memilih menerima permintaan meskipun sedang tidak punya waktu atau tenaga.
2. Takut mengecewakan orang lain
People pleaser biasanya sangat memikirkan perasaan orang lain.
Mereka tidak ingin membuat orang kecewa dan cenderung menghindari hal-hal yang berpotensi membuat hubungan menjadi tidak nyaman.
3. Sering merasa bersalah
Pernah merasa bersalah setelah menolak ajakan atau permintaan seseorang?
Perasaan tersebut juga dapat muncul pada people pleaser.
Mereka bisa terus memikirkan keputusan yang sudah dibuat dan bertanya-tanya apakah dirinya sudah bersikap terlalu egois.
4. Terlalu memikirkan penilaian orang lain
Pendapat orang lain bisa menjadi hal yang sangat diperhatikan.
People pleaser dapat merasa khawatir dianggap tidak baik, tidak perhatian, atau egois ketika memilih kepentingan dirinya sendiri.
5. Sering mengesampingkan kebutuhan sendiri
Waktu, tenaga, dan kenyamanan pribadi sering ditempatkan setelah kebutuhan orang lain.
Misalnya tetap membantu teman ketika sedang lelah, mengikuti keinginan orang lain meskipun tidak nyaman, atau mengubah keputusan sendiri agar orang lain merasa senang.
6. Sulit menyampaikan pendapat
Mengungkapkan ketidaksetujuan juga bisa menjadi tantangan.
Daripada terlibat dalam perdebatan, people pleaser lebih memilih diam atau mengikuti keputusan orang lain.
Baca juga: Apa Itu Love Language? Kenali 5 Jenisnya dan Penjelasannya
Setiap orang tentu memiliki pengalaman yang berbeda.
Kecenderungan menjadi people pleaser dapat berkaitan dengan pengalaman hidup, lingkungan, pola hubungan, hingga cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Ada orang yang terbiasa mendapatkan penerimaan ketika dirinya membantu atau memenuhi harapan orang lain.
Ada juga yang merasa tidak nyaman dengan konflik sehingga memilih selalu mengalah untuk menjaga hubungan.
Rasa takut ditolak atau ditinggalkan juga bisa membuat seseorang lebih sering menyesuaikan diri dengan orang lain.
Belum tentu.
Suka membantu, memiliki empati, dan memperhatikan perasaan orang lain merupakan hal yang positif.
Perbedaannya bisa dilihat dari kemampuan seseorang dalam menentukan batas.
Orang yang senang membantu tetap bisa mengatakan “tidak” ketika memang tidak mampu.
Sementara itu, people pleaser cenderung merasa kesulitan menolak meskipun dirinya sendiri sedang keberatan.
Kalimat “aku nggak bisa kali ini” seharusnya bukan sesuatu yang membuat seseorang merasa menjadi orang jahat.
Memiliki batasan juga merupakan bagian dari hubungan yang sehat.
Tribunners, menjadi orang yang baik bukan berarti harus selalu tersedia untuk semua orang.
Kita tetap boleh membantu ketika mampu, mengatakan tidak ketika keberatan, dan menyampaikan apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Jadi, pernahkah Tribunners melakukan sesuatu hanya karena takut mengecewakan orang lain? (MG Eka Robiatul Adawiyah)