SURYA.co.id, SURABAYA – Biji cabai, semangka, atau buah-buahan tertentu masih kerap dituding sebagai penyebab usus buntu pada anak. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A, Subsp.G.H.(K), menegaskan biji-bijian yang tertelan bukan penyebab spesifik terjadinya apendisitis.
Menurut Himawan, peradangan usus buntu memang dapat diawali oleh penyumbatan pada saluran apendiks.
Namun, material penyumbat tidak secara khusus berasal dari biji-bijian.
Himawan menyebut anggapan biji-bijian yang tertelan kemudian masuk ke usus buntu dan menyebabkan peradangan merupakan mitos.
“Kalau makan biji-bijian bisa menyebabkan usus buntu langsung, itu mitos. Apendikolit atau kotoran yang menyumbat itu bisa berasal dari apa pun, tidak hanya dari biji-bijian,” jelas Himawan dalam seminar IDAI, Selasa (1/8/2026).
Ia menjelaskan, makanan yang masuk ke saluran pencernaan akan melalui berbagai proses penghancuran dan penyerapan.
Terutama ketika mencapai usus halus, makanan akan mengalami proses sehingga bentuknya tidak lagi seperti ketika pertama kali ditelan.
“Usus kita suatu organ pintar. Apa pun makanan yang masuk, sekeras apa pun, biasanya di daerah usus halus sudah melalui proses penyerapan dan penghancuran sehingga bentuknya terurai,” ujarnya.
Karena itu, biji yang tertelan tidak bisa begitu saja dianggap akan tetap utuh lalu menyumbat usus buntu.
Meski tidak secara spesifik menyebabkan apendisitis, makanan pedas tetap dapat memberikan efek terhadap sistem pencernaan.
Himawan mengatakan cabai mengandung kapsaisin, senyawa yang menimbulkan sensasi pedas dan dapat memicu respons pro-radang pada saluran pencernaan.
Efek tersebut tidak secara khusus menyerang usus buntu.
Namun, pada kondisi tertentu, konsumsi cabai dapat memengaruhi organ pencernaan lain seperti lambung dan usus besar.
“Cabai sifatnya radang. Zat pedasnya, kapsaisin, bisa menyebabkan pro-radang saluran cerna. Bukan spesifik usus buntu, tetapi bisa ke lambung atau usus besar dan menyebabkan diare,” jelasnya.
Dengan demikian, makanan pedas tidak dapat secara sederhana disebut sebagai penyebab langsung usus buntu pada anak.
Sembelit juga sering dikaitkan masyarakat dengan munculnya usus buntu.
Namun, Himawan menjelaskan keduanya merupakan kondisi yang terjadi pada bagian saluran pencernaan yang berbeda.
Apendiks berada di bagian awal usus besar, tepatnya di area pertemuan antara usus halus dan usus besar. Sementara sembelit berkaitan dengan proses pengeluaran feses.
Karena perbedaan tersebut, sembelit tidak bisa langsung dianggap sebagai penyebab apendisitis.
Meski begitu, sumbatan pada saluran apendiks oleh material feses atau kotoran tetap dapat menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan terjadinya peradangan.
Pada anak-anak, terdapat faktor lain yang juga perlu diperhatikan, salah satunya pembesaran kelenjar getah bening di sekitar saluran pencernaan.
Menurut Himawan, kondisi tersebut dapat turut berkaitan dengan terjadinya penyumbatan pada saluran usus buntu.
Hal itu menunjukkan bahwa penyebab apendisitis pada anak cukup kompleks dan tidak bisa hanya dikaitkan dengan satu jenis makanan.
Himawan pun mengingatkan orang tua agar lebih fokus mengenali gejala yang mengarah pada apendisitis dan segera membawa anak untuk diperiksa apabila muncul keluhan yang mengkhawatirkan.