TRIBUNKALTIM.CO - Karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan tak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga mulai mengancam aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Kondisi udara yang memburuk akibat kabut asap membuat pemerintah daerah perlu menyesuaikan kegiatan pendidikan dengan situasi di masing-masing wilayah.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah daerah di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, keberlangsungan sekolah tidak boleh mengesampingkan kesehatan siswa dan guru.
Baca juga: 2 Kecamatan di Balikpapan Berpotensi Karhutla karena Pembukaan Lahan Melalui Cara Dibakar
Jika kondisi udara akibat kabut asap tidak memungkinkan pembelajaran dilakukan secara tatap muka, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dapat menjadi salah satu pilihan agar pendidikan tetap berlangsung tanpa menempatkan peserta didik dan tenaga pendidik dalam kondisi yang berisiko.
“Ya, tentu kami juga sudah menyarankan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat yang terdampak karhutla ini agar pertama, pendidikan kita tidak terhenti,” kata Lalu, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat menjadi salah satu opsi, jika kondisi karhutla dan kualitas udara tidak memungkinkan siswa maupun guru melakukan kegiatan belajar mengajar secara langsung di sekolah.
“Apakah nanti mekanismenya melalui pembelajaran jarak jauh atau seperti apa, ya tentu sudah kami sampaikan,” ujar politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.
Meski demikian, Lalu menegaskan keberlangsungan pendidikan tidak boleh mengorbankan kesehatan peserta didik dan tenaga pendidik.
Pria kelahiran 20 Desember 1979 menilai kesehatan siswa dan guru harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan mekanisme pembelajaran selama karhutla berlangsung.
“Yang menjadi prioritas adalah kesehatan para peserta didik, siswa-siswi kita maupun guru-guru kita yang ada di situ. Kesehatan menjadi faktor yang sangat penting sekali,” ucapnya.
Di sisi lain, Lalu meminta pemerintah tetap menjamin hak siswa untuk memperoleh pendidikan meski aktivitas sekolah terdampak bencana asap.
Baca juga: Curhat ke Ulama, Tangis Istri Gubernur Kalteng Pecah Usai Viral Ucapan Ultah Saat Karhutla
Menurutnya, pemerintah perlu mencari solusi agar proses pendidikan tetap berjalan tanpa menempatkan siswa dan guru dalam kondisi yang membahayakan kesehatan.
“Di samping kita juga harus tetap memperhatikan dan menjamin proses belajar mengajar tidak terhenti oleh karena karhutla tersebut,” kata lulusan Teknik Industri di STT Telkom Bandung tersebut.
Lalu juga mendorong pemerintah segera mengatasi persoalan karhutla agar aktivitas masyarakat, termasuk pendidikan, dapat kembali berjalan normal.
“Kami juga menyampaikan kepada pemerintah agar suasana ini segera bisa teratasi, sehingga siswa-siswi kita yang melaksanakan proses belajar mengajar, termasuk guru-guru yang ada di sana, juga bisa lanjut untuk melaksanakan proses belajar mengajar tersebut,” tandasnya.
Kualitas udara di sejumlah kota di Pulau Kalimantan berada pada level mengkhawatirkan di tengah kabut asap yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data AQI Indonesia per 30 Agustus 2026 menunjukkan enam kota di Kalimantan memiliki indeks kualitas udara mulai kategori Sedang hingga Berbahaya.
Dari enam kota tersebut, Palangka Raya tercatat memiliki angka AQI paling tinggi, yakni 783, disusul Pontianak dengan AQI 647.
Sementara itu, Banjarmasin berada pada angka 214, Tanjung Selor 112, Balikpapan 98, dan Samarinda 81.
Skala AQI standar umumnya berhenti pada angka 500.
Karena itu, angka seperti 647 atau 783 menunjukkan konsentrasi polutan yang sudah berada jauh di atas batas kategori "Berbahaya".
Platform pemantauan dapat menampilkan angka lebih dari 500 untuk menggambarkan tingkat keparahan polusi.
Baca juga: 10 Wilayah dengan Kualitas Udara Terburuk 30 Agustus 2026: Kutai Barat Masuk Daftar dengan ISPU 346
Berikut peringkat kualitas udara berdasarkan data yang ditampilkan AQI Indonesia:
1. Palangka Raya - AQI 783
Palangka Raya menjadi kota dengan angka AQI tertinggi dalam daftar tersebut.
Angka 783 berada jauh di atas batas atas kategori AQI standar. Dalam skala umum, angka 301-500 sudah masuk kategori Berbahaya.
Palangka Raya merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Kota ini berada di kawasan yang dikelilingi bentang alam berupa hutan dan lahan gambut.
Lahan gambut menjadi salah satu konteks penting dalam persoalan karhutla di Kalimantan.
Gambut adalah lapisan tanah yang terbentuk dari tumpukan material tumbuhan yang mengalami pembusukan dalam kondisi sangat basah.
Ketika mengering, gambut dapat lebih mudah terbakar dan api dapat menjalar di bawah permukaan sehingga penanganannya menjadi lebih sulit.
2. Pontianak - AQI 647
Di posisi kedua terdapat Pontianak, Kalimantan Barat, dengan AQI 647 dan kategori Berbahaya.
Pontianak dikenal sebagai kota yang dilalui garis khatulistiwa.
Kota ini berada di wilayah dataran rendah dan menjadi salah satu pusat aktivitas pemerintahan, perdagangan, serta transportasi di Kalimantan Barat.
Baca juga: Kualitas Udara di Wilayah Kaltim Pagi Ini: IKN Tidak Sehat, Balikpapan Baik
3. Banjarmasin - AQI 214
Banjarmasin tercatat memiliki AQI 214, masuk kategori Sangat Tidak Sehat.
Kota ini merupakan ibu kota Kalimantan Selatan dan dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki karakter geografis kuat dengan sungai dan kawasan rawa.
Dengan AQI di atas 200, kondisi udara masuk tingkat yang perlu diwaspadai masyarakat luas.
4. Tanjung Selor - AQI 112
Tanjung Selor, ibu kota Kalimantan Utara, berada di peringkat keempat dengan AQI 112.
Angka tersebut masuk kategori Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif.
Kelompok sensitif yang dimaksud antara lain anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki kondisi tertentu yang membuat sistem pernapasan atau jantung lebih mudah terpengaruh oleh polusi udara.
Tanjung Selor berada di Kabupaten Bulungan dan menjadi pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Utara.
5. Balikpapan - AQI 98
Balikpapan tercatat memiliki AQI 98, masih dalam kategori Sedang.
Balikpapan merupakan salah satu kota penting di Kalimantan Timur. Kota ini dikenal sebagai pusat industri, jasa, perdagangan, dan energi.
AQI 98 belum masuk kategori tidak sehat untuk masyarakat umum, tetapi kelompok sensitif tetap perlu memperhatikan perubahan kualitas udara, terutama apabila angka AQI terus meningkat.
6. Samarinda - AQI 81
Samarinda berada di posisi keenam dengan AQI 81, juga masuk kategori Sedang.
Samarinda merupakan ibu kota Kalimantan Timur dan berada di tepian Sungai Mahakam.
Sebagai salah satu pusat aktivitas perkotaan terbesar di Kalimantan Timur, perubahan kualitas udara di Samarinda penting diperhatikan, terutama ketika terjadi peningkatan polusi regional akibat asap.
Baca juga: Kualitas Udara IKN Terdampak Karhutla, Masuk Kategori Tidak Sehat dengan ISPU 138
AQI (Air Quality Index) atau Indeks Kualitas Udara merupakan angka yang digunakan untuk menggambarkan seberapa tercemar udara dan seberapa besar potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Secara umum, semakin tinggi angka AQI, semakin buruk kualitas udara.
Berikut gambaran kategorinya:
Lalu bagaimana dengan AQI 647 dan 783?
Angka tersebut sudah melewati rentang maksimum 500 dalam skala AQI standar.
Salah satu polutan yang sangat berpengaruh dalam kondisi kabut asap karhutla adalah PM2.5.
Dengan demikian, angka AQI 783 tidak sebaiknya dibaca sebagai "kategori baru setelah 500", melainkan sebagai indikasi bahwa tingkat pencemaran yang terukur sudah jauh melampaui ambang kategori Berbahaya pada skala yang umum digunakan.
Karhutla menghasilkan asap yang membawa berbagai jenis polutan ke udara.
Salah satu perhatian utama adalah partikulat halus seperti PM2.5.
Ketika jumlah partikulat meningkat, kualitas udara memburuk dan angka indeks kualitas udara ikut naik.
Kondisi tersebut juga dapat diperparah oleh faktor cuaca dan kondisi atmosfer. Ketika asap tidak cepat terdilusi atau terbawa angin, konsentrasi polutan di suatu wilayah dapat meningkat.
Karena itu, angka AQI merupakan gambaran kondisi pada saat dan lokasi tertentu. Nilainya dapat berubah seiring perubahan arah angin, hujan, aktivitas pembakaran, serta kondisi atmosfer.
Palangka Raya dan Pontianak Jadi Perhatian Utama
Dari enam kota yang tercantum, dua angka paling mencolok adalah Palangka Raya 783 dan Pontianak 647.
Keduanya bahkan melampaui angka 500 yang menjadi batas atas kategori Berbahaya dalam skala AQI standar.
Sementara itu, Banjarmasin dengan AQI 214 sudah berada di tingkat Sangat Tidak Sehat.
Adapun Balikpapan dan Samarinda masih berada dalam kategori Sedang berdasarkan data tersebut.
Perbedaan angka antarwilayah menunjukkan bahwa dampak kabut asap dan polusi udara tidak selalu sama di seluruh Kalimantan.
Kondisi udara sangat dipengaruhi lokasi sumber polusi, arah angin, kondisi cuaca, serta karakter geografis masing-masing wilayah. (*)