BANJARMASINPOST.CO.ID - Turun ke titik api, Sherina berjibaku padamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan.
Rela meninggalkan kehidupan nyaman di Ibu Kota, aktris sekaligus penyanyi Sherina Munaf turun meninjau lokasi bencana Karhutla.
Sherina terbang ke Kalimantan Tengah (Kalteng) dari Jakarta di tengah berlanjutnya bencana karhutla.
Momen keberangkatan diabadikan dan diunggah dalam unggahan instagram Sherina, Selasa (1/9/2026).
Dalam unggahan lewat story, Sherina merekam suasana di luar pesawat saat berada di wilayah udara Kalimantan.
Asap tebal nampak begitu pekat di luar pesawat. Pandangan Sherina lewat jendela nyaris tertutup sepenuhnya karena asap Karhutla.
Ia mengaku, asap karhutla sampai menembus ke dalam kabin pesawat yang ditumpanginya.
"Berangkat dari Jakarta seharusnya jam sebelas lebih lima belas boarding, cuma delay ada kesulitan visibilitas. Jadi asap tebal sekali dikhawatirkan nanti ketika landing susah gitu visibilitasnya," ujar Sherina, dikutip dari story instagram @sherinamunaf, Rabu (2/9/2026).
Sherina menuturkan, terbatasnya penglihatan di luar jendela pesawat bukan lagi karena awan biasa, melainkan kabut asap yang menyengat hingga menembus kabin pesawat.
"Dan ketika mulai descending untuk landing itu mulai tuh mulai keruh mulai keruh sampai akhirnya enggak kelihatan apa-apa dan itu bukan awan itu adalah asap dan bau asapnya itu sampai masuk ke dalam pesawat. Aku langsung otomatis pakai masker karena lama-lama gatal. Baru agak kelihatan lagi visible Kalimantan dari atas itu ketika mendekati ground ketika mendekati atap-atap tapi sebelumnya itu benar-benar asap, asap, asap," terang Sherina.
Setibanya di Palangka Raya, Sherina bergerak cepat menemui para petugas dan relawan penanganan karhutla.
"Lalu kita langsung ke Dinas Kehutanan bertemu dengan teman-teman yang bekerja susah payah ikut memadamkan api. Aku memberikan semangat dan juga beberapa bantuan logistik bersama BOSF. Selain dari itu kita juga ke BKSDA untuk koordinasi dengan tim BKSDA dan tim pemadam titik mana yang akan mereka kunjungi besok," jelas Sherina.
Dalam perjalanan, ia juga menyaksikan langsung bagaimana sisa-sisa titik kebakaran masih menyimpan potensi bahaya besar bagi lingkungan sekitar.
"Jadi aku melihat api yang sekecil itu aja impact asapnya udah parah banget dan aku enggak kebayang warga di sana terdampaknya seperti apa tiap hari," tambahnya.
Selama berada di Kalimantan Tengah, Sherina telah menyusun sejumlah agenda peninjauan, terutama yang berkaitan dengan keselamatan satwa liar dilindungi termasuk orangutan.
"Hari ini kita istirahat besok rencananya jadwalnya kita bangun pagi akan ke Nyaru Menteng ke pusat rehabilitasi BOSF untuk melihat sekolah hutan bagaimana beroperasi di kala seperti ini. Kadang-kadangnya terdampak asap itu seperti apa dan kira-kira tindakan preventif apa saja yang tim BOSF lakukan untuk mengamankan dua ratus individu orang utan yang ada di sana," papar Sherina.
Tak sekadar meninjau dan menyalurkan bantuan, Sherina terlihat ikut terjun langsung ke lokasi hutan melakukan proses pembasahan atau pengembalian kelembapan kembali bersama petugas dan mahasiswa untuk menyemprotkan air memadamkan sisa-sisa bara api di lahan tanah gambut yang berasap tebal.
Tak berhenti di situ, aksinya berlanjut hingga ke titik lokasi pemadaman yang tergolong rawan dan berisiko tinggi di kawasan Tambore.
"Lalu kita akan bersama Dinas Kehutanan untuk ketemu dengan tim dan memberi bantuan logistik dan semangat. Baru sore jam tiga kita akan berangkat ke Tambore dan itu sekitar dua setengah jam dari Palangka Raya.
Baca juga: Tindakan Doktif Picu Ketegangan di Ruang Sidang, Kuasa Hukum Richard Lee Naik Pitam
Di situ yang memang bermasalah banget apinya kayak dipadamkan terus nanti muncul lagi. Kita akan menyaksikan upaya para pemadam membuat sumur sampai jam tiga pagi. Kita akan melihat itu semua besok," pungkasnya.
Sherina sempat membagikan suasana ketika bertemu dengan orangutan.
Ia juga menggalang donasi bersama Powerful Voices dan mengunjungi Sekolah Hutan Orangutan Nyaru Menteng milik Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).
Sherina memperlihatkan kondisi sekolah orangutan yang turut terdampak bencana karhutla.
"Para orangutan perlu tetap sekolah untuk mengasah kemampuan siap liar," jelasnya.
Selain aksi pemadaman di lapangan, Sherina bersama tim BOSF juga menghadiri penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Universitas Palangka Raya (UPR) pada Rabu (2/9/2026).
Kolaborasi strategis ini difokuskan pada bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat guna mendukung konservasi orangutan serta ekosistemnya di Kalimantan Tengah.
Tak cuma di Kalimantan Tengah, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan juga belum dapat dikendalikan sepenuhnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat 2.332 kejadian karhutla sepanjanh periode 1 Januari hingga 1 September 2026, dengan luasan terdampak mencapai 12.339,74 hektare.
Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra mengatakan, pihaknya terus memantau dan mencatat perkembangan kejadian serta titik panas sebagai dasar penanganan di lapangan.
“Data ini menjadi bagian dari pemantauan harian dalam upaya pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan,” katanya, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan data, Kabupaten Banjar tercatat sebagai daerah paling luas terdampak, dengan total 2.737,51 hektare dan 441 kejadian. Disusul Hulu Sungai Selatan, dengan luas lahan terdampak 2.203,97 hektare dari 324 kejadian.
Kemudian Tanahlaut, dengan 359 kejadian dan total luas terdampak mencapai 2.072,35 hektare.
Sementara, Kota Banjarbaru mencatat jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni total 474 kali dengan luas lahan terdampak 1.831,80 hektare.
Di Tapin, tercatat 183 kejadian dengan luas lahan terdampak 1.244,68 hektare. Baritokuala mengalami 168 kejadian dengan luas 971,70 hektare, sedangkan Hulu Sungai Utara mencatat 98 kejadian dengan luas 532,85 hektare.
Di Tanahbumbu, tercatat 69 kejadian dengan luas 197,60 hektare, Balangan 66 kejadian dengan luas 196,51 hektare, serta Hulu Sungai Tengah 58 kejadian dengan luas 156,11 hektare.
Tabalong mencatat 29 kejadian dengan luas lahan terdampak 135,13 hektare. Kotabaru tercatat mengalami 48 kejadian dengan luas 58,07 hektare, sementara Kota Banjarmasin mengalami 15 kejadian dengan luas terdampak 1,45 hektare
Selain kejadian kebakaran, pemantauan juga mencatat sebanyak 17.093 titik panas di wilayah Kalsel.
Data hotspot tersebut bersumber dari SIPONGU Kementerian Kehutanan berdasarkan pemantauan satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20.
Ronny mengatakan pemantauan titik panas digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang memerlukan perhatian dan penanganan lebih lanjut.
“Pengendalian karhutla membutuhkan sinergi seluruh pihak. Pemantauan data, kesiapsiagaan personel dan respons cepat di lapangan menjadi bagian penting dalam menekan dampak kebakaran,” ujarnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Tribunsumsel.com)