Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Anjloknya Jembatan Gantung Pongpet di Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, saat prosesi peresmian pada Minggu (30/8/2026) sore menuai kritik keras.
Insiden itu terjadi ketika jembatan dihadiri Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, Dandim 0625/Pangandaran, serta jajaran Forkopimda.
Aktivis Sosial Pangandaran, Ridwan Fauzi, menilai kejadian itu tidak boleh dipandang sebatas persoalan teknis, tapi harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap aspek keselamatan infrastruktur publik.
Menurut Ridwan, jembatan yang semestinya menjadi simbol kemajuan dan peningkatan akses masyarakat justru memperlihatkan persoalan dalam aspek keamanan dan pengawasan konstruksi.
"Pasal 28H Ayat (1) UUD 1945 menjamin setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, termasuk infrastruktur yang aman. UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menegaskan bahwa penyediaan infrastruktur dasar adalah tanggung jawab pemerintah daerah," ujar Ridwan melalui WhatsApp, Rabu (2/9/2026) siang.
Baca juga: Citra Pitriyami Berharap Tidak Ada Lagi Pembangunan Jembatan Gantung di Pangandaran
Ia menegaskan, keterlibatan unsur TNI dalam pembangunan jembatan tidak berarti menghilangkan kewajiban penerapan standar teknis keselamatan konstruksi, termasuk pengujian dan pengawasan terhadap kapasitas beban.
"Pemerintah dan pihak terkait harus bertanggung jawab. Jangan hanya berhenti pada klarifikasi. Keselamatan rakyat bukan komoditas yang bisa diganti dengan permintaan maaf," katanya.
Ridwan pun menyoroti pelaksanaan peresmian yang tidak boleh lebih mengedepankan aspek seremonial dibandingkan kesiapan dan keselamatan infrastruktur.
"Foto bersama, pengguntingan pita, dan narasi ‘destinasi wisata kembali terbuka’ lebih diutamakan daripada perhitungan risiko keselamatan. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap etika tanggung jawab publik," ucap Ridwan.
Ridwan menilai setiap pembangunan infrastruktur harus berorientasi pada kemaslahatan masyarakat dan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.
"Ketika infrastruktur yang baru diresmikan langsung bermasalah, yang runtuh bukan hanya tali sling, melainkan kepercayaan publik terhadap komitmen pembangunan," ujarnya.
Menurutnya, keberadaan Jembatan Pongpet memiliki arti penting bagi masyarakat Margacinta. Jembatan itu menjadi akses warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, mulai dari pendidikan, kegiatan ekonomi petani, hingga hubungan sosial antarwarga.
Antusiasme warga yang memadati jembatan saat peresmian, tentu menunjukkan besarnya harapan masyarakat terhadap keberadaan infrastruktur tersebut.
Namun, kondisi itu juga harus diimbangi dengan pengendalian kapasitas dan sistem keselamatan yang jelas.
"Antusiasme warga yang memadati jembatan justru bukti besarnya harapan publik. Namun, ketiadaan kontrol kapasitas menunjukkan lemahnya literasi keselamatan dan koordinasi antarlembaga. Ini contoh klasik ‘pembangunan dari atas’ yang kurang melibatkan partisipasi masyarakat," kata Ridwan.
Pasca-insiden Jembatan Gantung Pongpet, Ridwan mendesak pemerintah dan pihak terkait mengambil empat langkah konkret.
Pertama, melakukan evaluasi teknis secara menyeluruh dan memperbaiki jembatan dengan standar keselamatan yang ketat serta melibatkan tenaga ahli independen.
Kedua, membuka hasil audit kepada publik secara transparan dan menjatuhkan sanksi administratif apabila ditemukan adanya kelalaian.
Ketiga, memberikan sosialisasi mengenai kapasitas maksimal jembatan serta melibatkan masyarakat dalam pengawasan infrastruktur.
Keempat, mengubah paradigma pembangunan dengan menempatkan keselamatan dan keberlanjutan sebagai prioritas, bukan sekadar kegiatan seremonial.
"Insiden Jembatan Pongpet harus jadi pelajaran pahit. Infrastruktur publik yang gagal di tengah pesta peresmian bukan hanya soal tali yang putus. Ia adalah cerminan bagaimana negara mengelola amanah rakyat," ujarnya.
Ridwan memastikan akan terus mengawal persoalan itu. Ia menegaskan keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap pembangunan infrastruktur.
"Karena jembatan yang baik bukan yang indah saat diresmikan, melainkan yang kokoh saat dilalui rakyat setiap hari," ucapnya.(*)