TRIBUNNEWS.COM - Bupati Sidoarjo Subandi memimpin langsung proses evakuasi atau pemindahan para santri korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, ke rumah sakit.
Ada sebanyak 35 orang santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans pada Rabu siang, (2/9/2026).
Sebelumnya, para santri itu dirawat di masjid kompleks pesantren. Namun, mereka diputuskan dirujuk ke rumah sakit lantaran kondisi tak kunjung membaik,
“Kita pindahkan ke rumah sakit. Supaya mendapat perawatan lebih bagus dan supaya anak-anak kita bisa segera membaik,” kata Subandi ketika mengoordinasikan para tenaga kesehatan yang membawa santri naik ke ambulans, dikutip dari Tribun Jatim.
Sebelumnya, terdapat 531 santri yang dibawa ke rumah sakit. Sebagian besar sudah dibolehkan pulang lantara kondisi sudah membaik. Kemudian, masih ada 88 santri yang dirawat di rumah sakit.
“Kemudian ditambah yang kita kirim hari ini. Jadi total semua ada 566 santri yang kita tangani secara keseluruhan. Sejauh ini semua kondisinya stabil. Semoga dalam waktu cepat anak-anak bisa kembali membaik semua,” ujar Subandi di pesantren.
H. Subandi, S.H., M.Kn. atau yang akrab dipanggil Ayah Bandi lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 23 Oktober 1972.
Dia adalah seorang politikus yang sempat bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak 2018. Namun, saat maju di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sidoarjo 2024 sebagai calon bupati, Subandi resmi mundur dari PKB.
Pada Pemilu Bupati Sidoarjo 2024, Subandi maju bersama sang calon wakil bupati Mimik Idayana sebagai pasangan cabup-cawabup nomor urut 1.
Partai pengusung dan pendukung mereka antara lain Gerindra, Golkar, Demokrat, Hanura, Buruh, PKN, Garuda, Perindo, serta Ummat.
Baca juga: 6 Pekan Pimpin BGN, Sudaryono Dihadapkan Kasus 512 Orang Diduga Keracunan MBG di Sidoarjo
Subandi-Mimik berhasil terpilih setelah unggul atas pasangan cabup-cawabup nomor urut 2 Achmad Amir Aslichin-Edi Widodo.
Namun, perjalanan mereka sebagai pemimpin Kabupaten Sidoarjo sempat diterpa masalah.
Pada Maret 2025, Subandi pernah menyebut tugas dewan “menghambur-hamburkan uang rakyat”.
Ucapan Subandi tersebut memicu reaksi keras fraksi DPRD hingga menuntut klarifikasi dan permintaan maafnya. Meski Subandi meminta maaf, Fraksi Gerindra menolaknya.
Salah satu alasannya, Mimik yang juga Ketua DPC Gerindra Sidoarjo merasa sering diabaikan dalam keputusan penting, seperti penyusunan Peraturan Bupati (Perbup) tentang insentif pajak dan pengelolaan P3K.
Masalah selanjutnya muncul pada Rabu (17/9/2025), saat Subandi melantik 61 Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pendopo Delta Wibawa usai melakukan mutasi.
Pelantikan ini menjadi sorotan karena tidak ada kehadiran Mimik. Kebijakan mutasi tersebut juga dinilai Mimik janggal dan cacat prosedur.
Mimik lantas melaporkan kebijakan tersebut ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan melayangkan surat bernomor 000.6.3.4/11268/438.1/2025 pada Rabu (24/9/2025).
Dalam surat tersebut, Mimik meminta Kemendagri turun tangan mengevaluasi kebijakan mutasi yang dianggap menyimpang dari kesepakatan awal.
Pendidikan
Baca juga: 6 Pekan Pimpin BGN, Sudaryono Dihadapkan Kasus 512 Orang Diduga Keracunan MBG di Sidoarjo
Organisasi
Karier
Kasus dugaan keracunan di Pondok Pesantren Manbaul Hikam terjadi pada Senin (1/9/2026). Sebanyak 500 santri dilaporkan mendapatkan penanganan medis setelah menyantap makanan yang dikirimkan melalui SPPG Kalitengah.
Berdasarkan data penanganan medis terbaru, sebanyak 320 pasien telah diperbolehkan pulang atau keluar rumah sakit (KRS). Sebanyak 65 pasien masih menjalani rawat inap (MRS), sedangkan 115 pasien lainnya masih dalam penanganan observasi di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Sidoarjo, RSI Siti Hajar, dan RS Delta Surya.
Insiden bermula setelah hidangan MBG yang dikirimkan SPPG tiba di pondok pesantren sekitar pukul 11.30 WIB. Makanan tersebut kemudian disantap bersama oleh para santri sekitar pukul 13.00 WIB.
"Awalnya makan siang bersama. Makan MBG sekira jam 13.00 WIB. Lauknya telur dadar tapi kuahnya apa saya tidak tahu. (Kebetulan) saya tidak ikut makan," kata Hasan, salah satu santri yang ikut mengantar temannya di RSUD Sidoarjo, Rabu.
Baca juga: Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan MBG, DPR Sebut Pengawasan BGN Masih Lemah
Keluhan berupa sakit perut dan mual mulai muncul ketika para santri bersiap mengikuti kegiatan belajar pada sore hari.
Ketua Asrama Putra, Ferdiansyah, mengatakan makanan yang dikonsumsi para santri yang mengalami keluhan berasal dari SPPG dan bukan dari dapur internal pesantren.
"Para siswa dan siswi sempat salat Ashar bersama. Kemudian setelah itu, saat masuk pelajaran jam pertama sekira jam 16.00 WIB, mulai ada yang mengeluh mual-mual. Jam 16.20 WIB sudah banyak yang masuk UKS masing-masing," ungkap Ferdiansyah.
Rincian jumlah pasien dan tempat mereka dirawat.
Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jatim sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, mengatakan dapur yang menyediakan makanan dihentikan operasionalnya untuk sementara waktu.
“Untuk dapur yang menyediakan menu MBG, yaitu di SPPG Kalitengah, jelas dapur itu di-suspend dulu,” kata , Rabu (2/9/2026).
“Per pagi ini tercatat ada 512 pasien yang terlapor dilarikan ke RS. Pasien tidak hanya dari ponpes Mambaul Hikam. Ada 19 lembaga yang sama-sama menerima dari SPPG Kalitengah, Kec Tanggulangin, Sidoarjo,” kata Emil.
Dia berkata kasus dugaan keracunan itu masih diselidiki. Menurutnya, penyebab keracunan tidak bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan makanan tertentu yang dikonsumsi para korban.
Adapun sebelumnya ada dugaan bahwa olahan makanan tertentu yang menjadi penyebab keracunan. Sejumlah santri menyebut mengalami gejala keracunan setelah memakannya.
“Ada yang nyebut sayuran tapi ada juga yang nggak nyentuh sayurnya, tapi juga mengalami masalah keracunan makanan,” ujarnya,
Menurutnya, hal itu belum bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa sayuran menjadi sumber masalah.
(Tribunnews/Febri/Nina/Rizkianingtyas/Tribun Jatim/M. Taufik)