TRIBUNNEWS.COM - Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke Kota Vladivostok, Rusia, untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) 2026.
Dia tiba di Bandara Internasional Vladivostok (Knevichi), Rabu, (2/9/2026), sekitar pukul 10.20 waktu setempat.
Prabowo ditemani sejumlah pejabat, yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Kepala negara dijadwalkan menjadi salah satu pembicara dalam sesi pleno EEF 2026.
Dalam forum itu, Presiden Rusia Vladimir Putin akan hadir bersama sejumlah pemimpin Asia lainnya, yakni Perdana Menteri Mongolia Nyam-Osoryn Uchral, Wakil Presiden Myanmar Nyo Saw, dan Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang.
EEF 2026 dilangsungkan pada tanggal 1 hingga 4 September di Vladivostok, sebuah kota pelabuhan di Rusia bagian timur, di tepi Samudra Pasifik.
Dikutip dari laman resminya, EEF adalah forum yang bertujuan untuk mengembangkan ekonomi daerah Timur Jauh dan memperluas kerja sama ekonomi kawasan Asia Pasifik.
Para peserta EEF akan mendapat akses langsung terhadap mitra, investor, regulator, dan saluran ke pasar baru.
EFF bakal menghadirkan para perwakilan pemerintah, perusahaan, dan pakar dari Rusia dan negara lain guna merumuskan solusi, kerja sama, dan proyek baru secara bersama-sama.
Adapun fokus utama pada EFF 2026 ialah persoalan kerja sama internasional, pengembangan teknologi, peningkatan kualitas hidup, cara menarik investasi, dan penerapan proyek infrastruktur.
Baca juga: Prabowo Tiba di Bandara Vladivostok Rusia Hadiri Eastern Economic Forum dan Temui Putin
Forum ini diorganisir oleh Yayasan Roscongress, sebuah lembaga nonkeuangan yang berorientasi sosial. Yayasan ini didirikan lewat keputusan Presiden Putin.
EEF digelar setiap tahun sejak 2015, kecuali tahun 2020 karena pandemi. Kampus Universitas Federal Timur Jauh di Vladivostok dipilih menjadi tempat digelarnya forum.
Tujuan utama EEF
Berikut sejumlah tujuan diadakannya EEF.
Lima agenda
Terdapat lima agenda forum dalam EEF 2026 sebagai berikut.
Pada EEF 2025 terdapat lebih dari 8.000 peserta dan perwakilan dari media, lebih dari 2.600 perwakilan perusahaan, dan lebih dari 1.000 pembicara dan moderator.
Ada perwakilan dari 75 negara dan 14 kepala satuan diplomatik. Adapun Tiongkok, Jepang, Laos, India, dan Mongolia menjadi negara dengan jumlah delegasi terbanyak.
Diklaim sudah ada 358 kesepakatan yang tercapai dalam forum ini.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan kehadiran Presiden Prabowo sebagai tamu kehormatan utama dalam forum tersebut mencerminkan semakin eratnya hubungan Indonesia dan Rusia, sekaligus menunjukkan posisi strategis Indonesia yang semakin diperhitungkan di kawasan Asia-Pasifik dan dunia.
"Presiden Putin secara khusus mengundang Bapak Presiden Prabowo sebagai tamu kehormatan utama EEF. Ini merupakan cerminan hubungan erat Indonesia dan Rusia yang terus dibangun dan diperkuat melalui diplomasi langsung kedua pemimpin," ujar Seskab Teddy.
"Ini kali kedua Presiden Prabowo dipercaya menjadi tamu kehormatan dalam forum ekonomi internasional yang diselenggarakan oleh Rusia, setelah sebelumnya pada tahun lalu hadir dalam St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF)," lanjutnya.
Menurut Seskab, Rusia menempatkan Indonesia sebagai salah satu mitra penting dan strategis di kawasan Asia-Pasifik.
Indonesia juga dipandang sebagai anggota ASEAN yang memiliki peran penting, sekaligus salah satu representasi utama Global South dan dunia muslim.
"Indonesia dipandang Rusia sebagai salah satu mitra utama dan strategis di Asia-Pasifik, anggota ASEAN yang dihormati, serta salah satu negara penting yang merepresentasikan Global South dan dunia Muslim. Ini menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam percaturan global," kata Seskab.
Seskab mengatakan, kehadiran Presiden Prabowo di Vladivostok juga akan dimanfaatkan untuk mendorong kerja sama bilateral yang semakin konkret dan saling menguntungkan antara Indonesia dan Rusia, terutama di bidang ekonomi, perdagangan, investasi, energi, dan sektor strategis lainnya.
"Politik luar negeri Indonesia tetap bebas aktif. Bapak Presiden Prabowo membangun hubungan baik dengan semua negara, memperluas persahabatan, sekaligus memastikan diplomasi Indonesia menghasilkan manfaat konkret bagi kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat," katanya.
(Tribunnews/Febri/Taufik Ismail)