TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Layanan pengelolaan dan area parkir di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar mengundang keluhan dari sejumlah pengunjung dan keluarga pasien.
Fasilitas parkir di rumah sakit rujukan terbesar di Bali tersebut dinilai masih semrawut, terbatas, dan menerapkan skema tarif progresif yang memberatkan masyarakat.
Kondisi penataan yang dinilai tidak rapi membuat pengunjung kesulitan mendapatkan tempat parkir, terutama saat jam-jam sibuk. Selain kapasitas area bawah yang sering membludak, area parkir terbuka di bagian atas juga dianggap tidak nyaman.
Seorang keluarga pasien asal Seminyak, Carita, menuturkan kekecewaannya terhadap kondisi lapangan serta tingginya tarif parkir berbayar per jam di lokasi tersebut.
Baca juga: Wamenkes Pantau Implementasi CKG dan Integrasi Layanan Primer di RSUP Prof Ngoerah Bali
"Semrawut juga tempatnya ini, enggak rapi. Susah juga (nyari parkir). Ya kita untungnya pakai motor ya sedapatnyalah. Kalau pakai mobil lebih hancur lagi," kata Carita saat ditemui di area rumah sakit pada, Rabu 2 September 2026.
Ia juga menyoroti tarif progresif yang terus naik seiring lamanya durasi parkir di RSUP Prof. Ngoerah.
"Masuk sih bagus pakai tiket itu, ya, bayar per jam. Cuma di sini enggak kayak di tempat lain. Kadang kalau menjelang 3 jam kemudian, naik lagi tarifnya gitu di sini standarnya kan Rp3 ribu naik lagi nanti Rp6 ribu. Tapi kalau misalkan kita pasien ada kondisi lagi darurat gitu, bolak-balik, otomatis kita harus perlu biaya uang receh gitu," ungkapnya.
Carita menambahkan bahwa fasilitas parkir di area terbuka bagian atas juga memprihatinkan karena minim perlindungan dari cuaca.
"Lebih parah lagi. Enggak ada atapnya lagi. Kadang kalau hujan ya kehujanan, panas kepanasan. Debu juga gitu. Bawahnya juga enggak rapi. Ya masih banyak kekurangan sebenarnya untuk parkiran ini," ujarnya.
Baca juga: RSUP Prof Ngoerah Edukasi Penyakit Gangguan Gerak di Mall
Ia berharap pihak manajemen rumah sakit segera membenahi pengelolaan fasilitas tersebut agar pengguna layanan merasa nyaman.
"Ya ke depannya sih minta dibenahi lah. Biar lebih baik lagi, buat untuk pelanggan juga biar puas gitu. Kenyamanan dan pelayanannya lebih ditingkatkan lagi," harap Carita.
Keluhan serupa disampaikan pengunjung lain, Ayu Pertiana. Ia menilai penataan kendaraan semakin tidak teratur ketika jumlah pengunjung melonjak pada awal pekan.
"Cukup semrawut pada saat pasiennya penuh, terutama pagi dan hari Senin biasanya. Fasilitas cukup, cuman yang kadang-kadang ada pengunjung yang nakal yang parkirnya tidak pada tempatnya tuh kayak gitu tuh, di pinggir gitu. Pengunjungnya buru-buru, malas nyari parkir," terang Ayu.
Ayu menceritakan pengalaman buruknya akibat kesemrawutan dan kendaraan yang diparkir secara asal di jalur melintas.
"Kemarin kaki saya tuh kena itu, karena banyak yang di pinggir kita enggak bisa lewat, jedar gitu. Baru mau masuk, mau parkir, kita udah ketabrakan karena kanan-kiri mereka parkir saking penuhnya gitu. Nah, itu yang perlu dikontrol," tegas Ayu.
Guna mencegah area parkir melebihi kapasitas (overload), Ayu menyarankan agar ada tindakan tegas dari petugas untuk menutup akses parkir jika lahan sudah penuh.
"Kalau saya sih sebagai pemakai parkir, sebaiknya kalau sudah penuh jangan dikasih tuh yang kayak gitu. Ada yang kontrol dan kalau sudah full, tutup gitu," pungkasnya. (*)