BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Air di Embung Yamin, Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan ( Basel ), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ( Babel ), terus menyusut akibat kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Permukaan air yang sebelumnya menutupi hampir seluruh dasar embung kini perlahan surut. Gundukan tanah mulai bermunculan, sementara rumput hijau tumbuh di sejumlah bagian dasar embung yang telah terbuka.
Di dinding batu embung, garis kuning keemasan tampak mengikuti bekas batas permukaan air. Kondisi tersebut menjadi penanda bahwa debit air terus mengalami penurunan.
Penyusutan paling kentara terlihat di bagian timur embung, dengan ketinggian air kini hanya mencapai betis orang dewasa. Beranjak ke sisi barat, genangan masih setinggi lutut, tetapi sejumlah bagian dasar embung sudah mulai terbuka dan ditumbuhi rumput menghijau. Kondisi tersebut telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir dan terus mengalami penurunan.
Rohim (49), anggota Kelompok Tani Setia Kawan Desa Rias, mengatakan, penyusutan debit air di Embung Yamin saat ini terus terjadi. Alhasil kekeringan membuat petani tidak dapat memulai penanaman padi sesuai jadwal tahunan. Padahal, setiap Agustus hingga September biasanya menjadi masa pengolahan lahan untuk MT 3. Namun, kemarau yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir membuat pengolahan lahan terhenti sehingga jadwal tanam diprediksi mundur bahkan tidak terealisasi sama sekali.
“Masalahnya saat ini adalah kekeringan. Jadi petani tidak bisa menanam padi pada musim tanam ketiga tahun 2026,” kata Rohim kepada Bangkapos.com, Rabu (2/9/2026).
Menurut Rohim, dampak kekeringan tidak hanya dirasakan kelompoknya, tetapi hampir seluruh kelompok tani di wilayah sebelah Bendungan Pumpung hingga Embung Yamin. Ia memperkirakan ada sekitar delapan hingga sembilan kelompok tani yang terdampak dengan luas lahan mencapai 400 hingga 500 hektare sawah. Seluruh hamparan itu kini menunggu ketersediaan air untuk memulai pengolahan lahan.
Rohim menyebut saat kondisi normal, setiap petak sawah mampu menghasilkan lebih dari satu ton gabah kering panen. Jika mengacu pada produktivitas rata-rata satu petak sawah menghasilkan sekitar 1 ton Gabah Kering Panen (GKP) dan terdapat empat petak dalam satu hektare, maka potensi produksi MT 3 yang terancam tidak terealisasi mencapai sekitar 1.600 hingga 2.000 ton GKP.
“Saat ini hasil panen bisa mencapai berat satu ton lebih untuk satu petak lahan sawah. Itu untuk gabah kering panen,” jelas Rohim.
Selama kekeringan berlangsung, sebagian besar petani terpaksa menghentikan aktivitas bertanam padi. Rohim menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar dua bulan sehingga banyak petani sementara menganggur menunggu perubahan cuaca. Meski demikian, ia menilai situasi ini merupakan siklus kemarau yang tidak selalu terjadi setiap tahun.
“Karena kekeringan saat ini rata-rata petani sementara menganggur,” sebut Rohim.
Pemerintah daerah sebenarnya telah menyediakan mesin penyedot air sebagai alternatif untuk membantu pengairan sawah. Namun, menurut Rohim, penggunaan pompa bukan solusi yang mudah karena membutuhkan biaya tambahan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) dan operasional. Dengan luasan sawah yang besar, biaya tersebut menjadi beban tersendiri bagi petani.
Satu unit mesin penyedot air dapat menghabiskan sekitar 20 liter solar dalam waktu sehari semalam ketika digunakan mengairi sawah. Dengan kebutuhan sekitar 20 liter BBM per hari untuk satu mesin pompa, petani harus mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp136 ribu jika menggunakan Bio Solar subsidi. Sementara apabila menggunakan Dexlite, ongkos pengairan dapat mencapai Rp403 ribu per hari.
Sehingga pompanisasi dinilai cukup membebani biaya produksi petani. Kondisi itu membuat biaya produksi meningkat, terlebih kebutuhan air tidak hanya sekali selama masa tanam. Ia menjelaskan pompanisasi juga sulit diterapkan secara maksimal karena sawah membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan. Petani tidak mungkin setiap hari menyalakan mesin untuk menyedot air karena biaya operasional akan terus membengkak. Di sisi lain, kondisi alam yang masih kering membuat pasokan air tetap terbatas.
“Enggak mungkin sekali tanam, setiap butuh air harus menyedot terus. Saat ini alamnya mungkin masih belum bersahabat,” ujar Rohim.
Sejumlah petani juga sempat mencoba melakukan penanaman secara mandiri dengan memanfaatkan air yang tersedia. Upaya itu belum membuahkan hasil maksimal karena tidak semua petani melakukan tanam secara bersamaan sehingga pengelolaan air menjadi kurang efektif. Rohim mengatakan kekompakan dalam menentukan waktu tanam menjadi salah satu tantangan di tengah keterbatasan air.
“Sebelumnya sudah mencoba melakukan alakadarnya untuk melakukan penanaman sendiri. Cuma karena ada beberapa petani tidak kompak melakukan masa tanam jadi banyak kendalanya,” urainya.
Di tengah tertundanya musim tanam padi, sebagian petani mulai beralih menanam sayuran dan palawija untuk menambah penghasilan dengan memanfaatkan sisa ketersediaan air. Rohim menyebut langkah tersebut menjadi pilihan sementara sambil menunggu hujan turun. Ia memastikan seluruh petani siap kembali mengolah sawah begitu musim hujan tiba.
“Apabila nanti sudah mulai masuk musim hujan, petani langsung melakukan penanaman. Karena yang ditunggu air, kan. Kalau sudah ada air langsung turun ke sawah,” ucapnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)