BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, mulai memetakan kemampuan sumber air untuk memastikan lahan persawahan tetap mendapat pasokan hingga tanaman memasuki masa generatif.
Sebanyak 19 unit embung yang tersebar di sejumlah desa menjadi salah satu tumpuan dalam mendukung aktivitas pertanian, terutama di tengah ketidakpastian curah hujan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika mengatakan, 19 embung tersebut tersebar di 13 desa dengan konsentrasi terbanyak berada di Desa Rias, Tanjung Labu, dan Payung. Ketiga desa itu masing-masing memiliki tiga unit embung, sementara Desa Rias juga memiliki satu bendungan yakni Mentukul. Adapun 10 desa lainnya, yakni Desa Gadung, Desa Penutuk, Desa Delas, Desa Ranggung, Desa Sebagin, Desa Jeriji, Desa Serdang, Desa Pergam, Desa Pongok, dan Desa Gudang, masing-masing memiliki satu unit embung.
“Kalau tersedia khusus untuk di Kabupaten Bangka Selatan ada kurang lebih antara 10 sampai 19 embung yang tersebar di wilayah desa masing-masing,” kata Risvandika kepada Bangkapos.com, Rabu (2/9/2026).
Risvandika menjelaskan, keberadaan embung tidak serta-merta menjamin kebutuhan air tanaman padi sepanjang musim tanam. Kemampuan tampungan dan sumber air harus dihitung berdasarkan kebutuhan tanaman hingga memasuki fase generatif, sehingga pengolahan lahan yang sudah dilakukan tidak berakhir sia-sia akibat kekurangan air. Pemerintah daerah juga menyesuaikan potensi penanaman dengan kondisi sumber air di masing-masing wilayah.
Kondisi tampungan air di setiap wilayah saat ini juga tidak seragam karena bergantung pada sumber dan saluran air yang tersedia. Di kawasan Desa Rias, misalnya, ketersediaan air pada Embung Pumpung disebut masih berada pada kisaran 60 hingga 70 persen, sedangkan wilayah Desa Pergam masih di atas 70 persen karena kondisi saluran air yang dinilai cukup baik. Perbedaan tersebut membuat pemetaan kebutuhan air harus dilakukan secara spesifik di setiap lokasi.
“Ada beberapa desa yang menyesuaikan dengan kondisi di lapangan,” jelas Risvandika.
Menurutnya kondisi cuaca dalam beberapa pekan ke depan menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menentukan waktu penanaman. Berdasarkan perkiraan BMKG, pemerintah masih mencermati kemungkinan puncak kondisi kering terjadi pada pertengahan atau akhir September 2026. Jika hujan datang lebih lambat, proses tanam juga berpotensi mengalami keterlambatan dan berdampak terhadap waktu panen.
Karena itu, pemerintah menargetkan aktivitas penanaman dapat tetap berjalan sehingga panen pada Desember 2026 dapat direalisasikan. Target tersebut dinilai penting untuk membantu memenuhi kebutuhan konsumsi beras masyarakat di Kabupaten Bangka Selatan. Namun, pencapaian target tersebut tetap bergantung pada kemampuan sumber air dalam menopang tanaman sampai masa generatif.
“Mudah-mudahan Desember 2026 itu ada panen yang dilakukan. Sehingga untuk hitungan dari pada produksi beras kita di Kabupaten Bangka Selatan,” urainya.
Untuk mengantisipasi kekurangan air apabila hujan belum turun hingga akhir September, sejumlah instansi mulai menyiapkan alternatif sumber air bagi wilayah yang memiliki potensi pertanian cukup tinggi. Dinas Pertanian bersama Balai Wilayah Sungai, BPBD, serta pemerintah daerah melalui dinas teknis terkait akan mencari solusi berdasarkan kondisi masing-masing kawasan. Salah satu opsi yang disiapkan adalah pembangunan sumur dalam atau pemboran di wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan air.
Risvandika menegaskan, ukuran kecukupan air tidak hanya dilihat dari seberapa banyak embung yang tersedia, tetapi juga dari luasan lahan yang dapat dilayani sumber air tersebut. Pemerintah bersama Balai Wilayah Sungai akan menghitung kemampuan setiap sumber air untuk menopang luasan hektare tertentu sebelum menentukan potensi penanaman. Dengan pola tersebut, ketersediaan air menjadi dasar utama dalam menentukan luasan lahan yang aman untuk ditanami.
“Sumber air yang kita ada itu kita hitung dan kita bersama-sama dari pihak BWS itu bisa untuk cukup berapa hektare,” ucapnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)