Imbas Viral Tarif Rp600 Ribu, Pengelola Rumah Pengabdi Setan Pangalengan Klaim Pengunjung Menurun
Kemal Setia Permana September 02, 2026 06:47 PM

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Adi Ramadhan Pratama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengelola Rumah Pengabdi Setan di Pangalengan, Kabupaten Bandung, mengaku mengalami dampak setelah video wisatawan asal Malaysia viral.

Wisatawan itu sebelumnya mengeluhkan adanya tarif Rp600 ribu untuk membuat konten di lokasi. Pasca video itu ramai di media sosial, jumlah pengunjung disebut mengalami penurunan.

Pengelola Rumah Pengabdi Setan, Asep Suparman mengungkapakan bahwa kondisi tersebut terlihat dari jumlah wisatawan yang datang. Terutama setelah kejadian viralnya terkait tarif tersebut.

"Untuk saat ini, memang dampak daripada yang viral tersebut itu sangat rugi sekali. Bagi pengelola di sini bisa lihat untuk pengunjung saat ini memang hanya sedikit," ujarnya kepada Tribun Jabar pada Rabu (2/9/2026).

Sebelumnya, pengelola telah memberikan klarifikasi bahwa nominal Rp600 ribu bukan merupakan harga tiket masuk bagi pengunjung biasa. Tarif itu merupakan ketentuan untuk aktivitas bersifat komersial.

Diketahui, tarif-tarif komersial itu seperti kegiatan Fun Game, Pre-wedding, Family Gathering, Photoshoot Produk Lokal, pembuatan film, hingga membuat konten (vlog) atau live.

Untuk Fun Game, Family Gathering, hingga pembuatan konten atau live, pihak pengelola mematok hRp600-Rp5 juta. Pre-wedding Rp600 ribu, Photoshoot Produk Rp7 juta. Sedangkan pembuatan film Rp7-Rp10 juta.

Baca juga: Pengelola Rumah Pengabdi Setan Bantah Tarif Tiket Masuk Rp600 Ribu, Sebut Khusus Kegiatan Komersial

Sementara untuk pengunjung biasa, tarif yang dikenakan berada di kisaran Rp15 ribu hingga Rp25 ribu untuk wisatawan lokal dan Rp25 ribu hingga Rp35 ribu untuk wisatawan mancanegara.

Berdasarkan pantauan Tribun Jabar di lokasi, aktivitas pengelolaan kawasan Rumah Pengabdi Setan masih berjalan meski jumlah wisatawan yang datang terlihat tidak terlalu ramai.

Sejumlah petugas tampak berada di area pintu masuk untuk menyambut dan melayani wisatawan yang datang. Di bagian dalam, petugas lainnya terlihat melakukan aktivitas kebersihan untuk menjaga lingkungan.

Selain itu, terdapat pula pekerja yang sedang melakukan perbaikan pada bagian rumah yang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Rumah Pengabdi Setan.

Asep menjelaskan, biaya yang diperoleh dari tiket masuk maupun aktivitas komersial salah satunya digunakan untuk menunjang kebutuhan operasional dan pengembangan destinasi.

"Biaya-biaya itu sebetulnya di sini untuk pengembanga terkait dengan destinasi, lalu juga operasional juga untuk pengembangan di Rumah Pengabdi Setan," katanya.

Selain untuk kebutuhan perawatan dan pengembangan kawasan, pendapatan tersebut juga digunakan untuk membiayai para pekerja yang terlibat dalam pengelolaan Rumah Pengabdi Setan.

Menurut Asep, saat ini terdapat sekitar 15 orang yang bekerja di lokasi tersebut. Di mana, para pekerja tersebut merupakan warga yang berasal dari wilayah Pangalengan.

Baca juga: Pembangunan Depo BRT Terminal Cicaheum Dimulai, Seluruh Bangunan Kini Rata dengan Tanah

Dengan adanya polemik tersebut, Asep berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi pihaknya.

Ia juga menyebut bakal melakukan perbaikan terhadap sistem penyampaian informasi.

"Untuk semua masyarakat, mohon maaf dengan kegaduhan yang kemarin atas keviralan ini. Saya harapkan jangan termakan isu dengan tiket Rp600 ribu itu. Itu hanya untuk khusus komersial,"

"Mudah-mudahan ini sebagai momen untuk evaluasi juga, untuk kami sebagai pengelola. Mudah-mudahan ini menjadi pembelajaran, terkait dengan SOP-nya lebih ditingkatkan, diperbaiki," ucapnya. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.