PSM Makassar Tanpa Penonton Dua Laga Home, Kehilangan Rp850 Juta Penutupan Tribune Selatan
Sudirman September 02, 2026 07:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – PSM Makassar memulai dua pertandingan kandang tanpa penonton Super League 2026/2027.

Yaitu melawan Arema FC pekan kedua dan Persita Tangerang pekan ketiga.

Laga PSM Makassar vs Arema FC di Stadion BJ Habibie, Kota Parepare, Sulsel, Minggu (13/9/2026).

Duel PSM Makassar vs Persita Tangerang Stadion BJ Habibie, Kota Parepare, Sabtu (19/6/2026).

PSM Makassar tanpa dukungan suporter buntut sanksi dijatuhkan oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI musim lalu.

Tribune Selatan Stadion BJ Habibie harus ditutup selama semusim penuh.

Baca juga: Luka Cumic Pilih Tantangan Baru, Pakai Nomor Keramat 9 PSM Makassar

Hal ini disampaikan Manajer PSM Makassar Muhammad Nur Fajrin saat Sarasehan dan Talkshow Suara ke-12 PSM Fest di Pantai Indah Bosowa, Minggu (30/8/2026).

Pantai Indah Bosowa berada Jl Metro Tanjung Bunga, Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

“Jadi PSM Makassar dapat sanksi disiplin dual laga home tanpa penonton dan pengosongan Tribune Selatan selama semusim,” katanya.

Sanksi tersebut menjadi konsekuensi yang harus dijalani bersama.

Ia pun mengajak seluruh suporter PSM Makassar menutup lembaran buruk musim lalu.

Jangan ada saling menyalahkan. Mari duduk bersama dan berkolaborasi menghadapi segala tantangan menanti di depan.

Sebab, manajemen tak bisa berjalan sendiri mengembalikan kejayaan PSM Makassar.

Pihaknya butuh keterlibatan suporter.

“Kita butuh kolaborasi sebanyak mungkin untuk kembalikan PSM Makassar ke posisi seharusnya, itu kita harapkan,” ucapnya.

Ia juga menegaskan, sanksi pengosongan Tribune Selatan bukan ditujukan untuk memboikot kelompok suporter tertentu.

Tribune Selatan diisi oleh kelompok suporter Curva Sud Mattoanging (CSM) dan PSM Fans.

“Bukan boikot kelompok tertentu, tribunenya ditutup,” sebutnya.

Fajrin mengaku penutupan Tribune Selatan semusim penuh sangat merugikan secara teknis dan materi.

Secara teknis, PSM Makassar kehilangan sekira 1.000-an suporter yang selalu hadir mendukung.

“Penutupan itu merugikan karena secara kebutuhan teknis, kami kehilangan 1.000 suporter yang selalu bernyanyi, memberi tambahan energi bagi kami selama 90 menit,” akunya.

Sedangkan dari segi materi, PSM Makassar kehilangan potensi pendapatan tiket.

Dengan asumsi 1.000 tiket terjual dengan harga Rp50 ribu dalam 17 laga kandang, potensi pendapatan yang hilang mencapai sekitar Rp850 juta.

“Itu kehilangan PSM Makassar dari sisi materi. Kita sama-sama kehilangan,” ucapnya.

Meski demikian, Fajrin mengajak suporter tidak menjadikan sanksi tersebut sebagai alasan untuk berhenti mendukung tim kebanggaannya.

Pihaknya membuka opsi dukungan dalam bentuk lain, seperti menggelar kegiatan bersama di Makassar maupun nonton bareng (Nobar)

“Kami terbuka dukungan dengan bentuk lain. Kita mau buat aktivasi di Makassar, ayo sama-sama dilakukan. Mau nobar ayo, selama itu untuk kebaikan PSM Makassar,” ucap alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) ini.

Sementara suporter PSM Makassar Imam Mahdi mengatakan, komunikasi dua arah harus dibangun antara manajemen dan suporter.

Manajemen perlu terbuka dengan suporter terkait kondisi dialami.

Tujuannya, menghindari kesalahpahaman yang kadang muncul.

Di sisi lain, suporter harus pula memahami situasi dialami manajemen.

“Terpenting adalah komunikasi untuk hindari hal tak diinginkan. Manajemen dan suporter saling memahami satu sama lain,” katanya Rabu (2/9/2026).

Pria akrab disapa Imam ini pun berharap, musim depan tak ada lagi kerusuhan di pertandingan kandang PSM Makassar apapun hasil diraih.

Jika terdapat hasil kurang memuaskan, manajemen dan suporter membicarakannya di luar lapangan.

“Selesaikan masalah di luar lapangan. Kita ingin yang terbaik untuk PSM Makassar,” ucapnya. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.