TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Jembatan Pengaduan merupakan jembatan yang menyambungkan Jalan RE Martadinata, Tanah Sareal, Kota Bogor melintasi Sungai Cibalok.
Terpantau, Rabu (2/9/2026), Jembatan Pengaduan ini ada dua ruas jembatan yang berdampingan.
Satu jembatan adalah jembatan modern atau Jembatan Pangaduan baru yang masih digunakan hingga sekarang.
Sementara satu jembatan lainnya merupakan jembatan tua yang diperkirakan sudah ada sejak era Kolonial Belanda.
Dari cerita warga sekitar, nama 'Pengaduan' di jembatan ini berasal dari desain jembatan lama atau jembatan Belanda.
Jembatan lama dari zaman Belanda ini memang memiliki konstruksi khas zaman dulu.
Dibangun menggunakan susunan beton dan bata merah di atas Sungai Cibalok.
Bentuk susunan bata merah di bawah jembatan tua ini memiliki desain melengkung dengan jumlah tiga lengkungan beton.
Namun lebar jembatan tua ini tidak terlalu lebar untuk menyambungkan jalan raya di zaman sekarang.
Konon, karena desain lebar jembatan Belanda inilah nama 'Pengaduan' muncul dan disematkan ke jembatan tersebut oleh masyarakat.
Ini diceritakan oleh warga sekitar jembatan Belanda tersebut, Darman (56) berdasarkan cerita yang dia dengar sejak kecil.
"Ini namanya Jembatan Pengaduan, dari zaman saya kecil namanya Jembatan Pengaduan ini," kata Darman kepada TribunnewsBogor.com, Rabu (2/9/2026).
Dia mengatakan, lebar jembatan era Belanda ini terbilang sempit.
Sehingga jika truk ingin melintas tidak bisa melintas dua arah secara bersamaan, tapi harus melintas secara bergiliran.
Jika truk atau kendaraan besar dipaksakan tetap melintas kedua arah berbarengan, maka kedua kendaraan akan beradu.
Baca juga: Penampakan Jembatan Pengaduan Kota Bogor, Sudah Ada Sejak Era Belanda, Kini Memprihatinkan
"Gak tahu sih asal usulnya seperti apa, cuman denger-denger dari cerita orang tua mah kalau mobil besar gak bisa dua arah, katanya sok ngadu (suka beradu)," kata Darman.
"Karena jembatannya kecil jadi mobil gede gak bisa dua arah, kalau dipaksain beradu," imbuhnya.
Karena itu lah, jembatan tersebut kerap disebut warga Jembatan Pengaduan atau Pangaduan.
Darman mengatakan bahwa pada tahun 1970-an, Jembatan Pengaduan lama tersebut sempat masih digunakan oleh para pengendara Kota Bogor.
Namun pada tahun 1980-an, dibangun Jembatan Pengaduan yang modern di sampingnya yang lebih lebar dan bisa langsung dilintas kendaraan secara dua arah.
Terpantau, setelah adanya Jembatan Pengaduan yang baru ini, Jembatan Pengaduan lama dari zaman Belanda tersebut menjadi terbengkalai.
Permukaan badan jembatan lama sudah banyak terkelupas lapisan dindingnya hingga retak-retak.
Akar-akar pohon juga mencuat dari badan jembatan tua tersebut membuat beberapa bagian susunan bata kontruksi jembatan menjadi rusak.