Rangga Aditya Dachlan, SH, LLM, MPhil, DPhil tercatat sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah merampungkan studi program sarjana dan master di bidang hukum, ia rupanya menempuh program gelar master kedua, bahkan dengan beasiswa, di University of Oxford, Inggris.
Tak sampai di situ, gelar master kedua Rangga bukan di bidang hukum, melainkan arkeologi, tepatnya pada bidang warisan arkeologi dan museum di Oxford dengan Jardine Scholarship.
Kiat Raih Beasiswa di Oxford
Rangga mengakui, lamaran beasiswanya mungkin tidak lazim lantaran sudah memiliki gelar master dan kini hendak menekuni master bidang arkeologi. Alumnus S1 Ilmu Hukum UGM sebelumnya sudah mengantongi Master, International Law and Law of International Organizations, University of Groningen, Belanda pada 2012.
Namun, tesisnya saat itu sudah menyoal warisan budaya takbenda, dengan judul "Cultural Appropriation in the Perspective of the Convention on the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage".
"Jadi saya ingin memperkaya pengetahuan di bidang studi arkeologi, studi museum, sebelum mengambil program PhD," tuturnya di sela peresmian beasiswa pascasarjana Jardine-UGM di Mandarin Oriental Hotel, Jl MH Thamrin, Jakarta, Senin (31/8/2026), ditulis Rabu (2/8/20260.
"Saya jelaskan bahwa saya akan mengambil PhD setelah ini dan saya ingin lanjut menjadi dosen di UGM," sambung dosen Fakultas Hukum UGM ini.
Diterima di Oxford baginya membuka mata karena bertemu banyak orang dengan pemikiran baru dan yang turut berkutat di bidang minatnya. Tak hanya lewat acara, mereka juga bisa bertukar obrolan saat jam makan.
"Jadi saya banyak bertemu para pemikir luar biasa. Ini pengalaman yang sangat merendahkan hati. Tentunya secara jejaring sangat bagus. Kita bisa bertemu yang terbaik di bidangnya," tuturnya.
Di samping banyak klub akademik, ia mengungkapkan, banyak juga klub nonakademik yang seru untuk diikuti. "Ada klub Quidditch (olahraga dari seri Harry Potter), dan ada akademik klub untuk setiap minat yang ceruk," imbuhnya.
Lanjut PhD
Seperti yang disampaikannya dalam proses seleksi program master dan beasiswa, Rangga kemudian melanjutkan studi program doktor di Oxford, tepatnya di program Socio-Legal Studies, pada 2019 hingga 2023.
Pada masa studi S3, ia menyusun disertasi berjudul "Unity in Spite of Diversity: Heritage as a Nation-Building Strategy in Indonesia".
Kualitas Apa yang Dicari di Seleksi Beasiswa?
Jardine Scholarship dikelola oleh Jardine Foundation, yayasan pendidikan dari perusahaan investasi Jardine Matheson. Director of Jardine Matheson Holdings Ltd, Anthony Nightingale, menuturkan, pihaknya terbuka bagi lulusan dari beragam latar bidang studi.
"Ketika kami mencari pelajar, kami happy mereka datang dari bidang apa pun. Contohnya, Pak Rangga berbicara mengenai mendapatkan beasiswa di bidang arkeologi," tuturnya.
"Menurutku ini tidak lazim, tetapi ini adalah contoh bagaimana ia dapat memaparkan dengan baik hari itu (saat seleksi), he made a good case. Karena itu, kami memberikan beasiswa di bidang tersebut," sambungnya.
Ia mengatakan, kebanyakan pelamar beasiswa Jardine lebih memilih bidang studi teknik, kesehatan, ilmu komputer, hingga kebijakan publik.
"Kami senang dengan semua bidang tersebut," tuturnya.
Terlepas dari itu, ia mengatakan pihak Jardine mencari pelajar dengan kemampuan akademik dan akan benar-benar memperoleh manfaat dari pemberian beasiswa ini.
"Kami juga mencari orang yang kami lihat akan berkontribusi untuk masyarakat dalam jangka panjang, dan, semoga, akan memegang peran kepemimpinan dalam apa pun bidang pilihannya," sambungnya.





