Denpasar (ANTARA) - Generasi Z (Gen Z) didorong untuk mengubah simpati menjadi aksi nyata (empati) dalam pelestarian alam, salah satunya melalui kegiatan penanaman mangrove yang dilakukan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Bali, Rabu.
Hal tersebut disampaikan oleh pegiat lingkungan sekaligus perwakilan generasi muda, I Komang Triska Ananda Dilivianugraha Priantara atau dikenal Ananda Priantara di hadapan 50 peserta yang terdiri dari kalangan mahasiswa Universitas Udayana.
"Selama ini generasi Z sering dikesalkan dengan sebutan generasi strawberry yang dianggap lembek dan instan. Padahal, sebenarnya generasi ini justru sangat sadar dan peduli terhadap isu lingkungan," katanya.
Ia mengutip riset dari lembaga konsultasi internasional McKinsey yang menyebutkan bahwa 83 persen anak muda saat ini mempertimbangkan dampak lingkungan yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan ketika mereka memilih jurusan maupun jalur karier.
Meskipun kesadaran telah terbangun secara masif di media sosial, tantangan terbesarnya adalah mengubah simpati menjadi empati. Menurutnya, simpati sekadar rasa kasihan, sedangkan empati menuntut keberanian untuk mengambil tindakan langsung di lapangan.
"Anak-anak muda yang sudah peduli ini membutuhkan wadah yang konkret. Oleh karena itu, kolaborasi pentaheliks seperti yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama para ahli dari Universitas Udayana ini menjadi wujud keberlanjutan (sustainability) yang nyata," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ananda juga membagikan pengalamannya menanam mangrove lima tahun lalu yang ia sebut sebagai bentuk mitigasi dan urgensi perlindungan kawasan pesisir.
Menanam mangrove, kata dia, bukan sekadar menanam pohon, melainkan membangun rasa memiliki (ownership) terhadap alam.
Ia juga mengaitkan aksi tersebut dengan kearifan lokal Bali, yakni filosofi Tri Hita Karana, agar tidak sekadar menjadi slogan pengingat, tetapi diimplementasikan dalam kehidupan nyata.
"Ketika teman-teman menanam (mangrove) di suatu tempat, itu akan menumbuhkan rasa memiliki. Kalau bagi masyarakat Bali, rasanya seperti 'taksu' atau ari-arinya ikut tertanam di sana, dan ini yang membedakan pergerakan kita," tuturnya.
Dia pun berharap kegiatan penanaman mangrove tersebut dapat melahirkan agen-agen perubahan dari kalangan mahasiswa dan peneliti muda Universitas Udayana.
"Tidak perlu banyak, butuh satu, dua, lima, atau sepuluh orang saja sebagai pemicu, itu sudah sangat masif untuk menggerakkan anak-anak muda kita melakukan aksi lingkungan," ucapnya.





