Denpasar (ANTARA) - Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud) Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga mengingatkan masyarakat bahwa kerusakan ekosistem mangrove tidak hanya mengancam keselamatan jiwa manusia dari bencana alam, tetapi juga memicu kepunahan berbagai biota laut.

​"Yang dipertaruhkan (jika mangrove rusak) adalah harkat, martabat, dan jiwa kita semua. Mangrove adalah benteng pertama yang menahan dampak gempa tektonik, likuifaksi, maupun tsunami agar daratan tidak amblas," katanya di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Bali, Rabu.

​Ia menjelaskan, Fakultas Pertanian Unud dalam tiga tahun terakhir telah menggeser fokus penelitian ke tanaman pesisir dengan melibatkan puluhan peneliti dari bidang proteksi dan budi daya tanaman.

​Langkah strategis tersebut diambil mengingat 85 persen fungsi ekologis kehidupan justru bersumber dan berada di kawasan pesisir dan lautan.

​Lebih lanjut, Dewa memaparkan bahwa mangrove memiliki peran krusial dalam menyerap karbon biru (blue carbon). Karbon dioksida yang bersumber dari aktivitas ekosistem laut seperti fitoplankton, akan diserap secara optimal oleh mangrove yang terdiri dari jenis bakau, api-api, hingga prapat.

​Di samping fungsi penyerapan emisi karbon dan mitigasi bencana tektonik, mangrove juga menjadi pusat kehidupan bagi sekitar 65 persen individu lautan.

​"Berbagai biota laut seperti ikan, udang, dan kepiting bakau sangat bergantung pada ekosistem ini. Ketika mangrove mati, siapa yang akan menyerap karbon? Komunitas laut itu pun juga akan sirna dan punah," ujar ahli ekologi tersebut.

​Melihat vitalnya fungsi tersebut, dia mengimbau masyarakat dan berbagai pihak untuk mengubah paradigma pelestarian lingkungan pesisir.

"Penanaman bibit mangrove dinilai belum cukup apabila tidak dibarengi dengan perawatan dan perlindungan secara berkelanjutan," kata Dewa.