TRIBUNTRENDS.COM - Intensitas gempa susulan yang dirasakan warga di Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai berkurang dibandingkan hari-hari awal setelah gempa.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga mulai meninggalkan posko pengungsian. Mereka memilih kembali ke sekitar rumah dan mendirikan tenda secara mandiri di halaman rumah masing-masing.
Dikutip dari Tribun Flores pada 2 September 2026, camat Sambi Rampas Theofilus Tahu mengatakan, perubahan kondisi tersebut turut menyebabkan jumlah warga yang bertahan di sejumlah posko pengungsian mulai menurun.
Meski demikian, warga diminta tetap waspada mengingat sejumlah rumah masih mengalami kerusakan dan belum seluruhnya dapat ditempati.
Baca juga: Tanah Terbelah di Manggarai Timur Pasca Gempa Flores M 7,7, 14 Keluarga Terpaksa Mengungsi ke Kebun
Hingga kini, jumlah warga terdampak gempa di Kecamatan Sambi Rampas diperkirakan mencapai sekitar 13 ribu jiwa.
Sementara itu, enam orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Untuk kebutuhan logistik, sekitar 22 ton beras telah tersedia. Namun, Theofilus mengatakan bantuan tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan warga di seluruh wilayah terdampak.
Salah satu kendala utama adalah akses menuju sejumlah daerah terpencil yang masih sulit dilalui.
Bahkan, terdapat titik-titik tertentu yang belum dapat dijangkau menggunakan kendaraan roda dua.
Kondisi di setiap wilayah terdampak juga membuat kebutuhan warga tidak selalu sama.
Di Kelurahan Nanga Baras, misalnya, kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah ketersediaan air minum.
Upaya untuk mengangkut bantuan ke sejumlah wilayah juga terkendala kondisi medan yang sulit.
"Kemarin mobil tinggi dari Kementerian PUPR sudah coba masuk ke atas, tetapi tidak sampai. Medannya tidak sanggup," ujar Theofilus.
Sementara untuk wilayah pedalaman, distribusi bantuan harus dilakukan dengan cara khusus. Warga bahkan diminta turun dari wilayah tempat tinggal mereka untuk mengambil bantuan karena kendaraan tidak dapat menjangkau lokasi tersebut.
Di tengah berkurangnya intensitas gempa susulan, Theofilus mulai mengkhawatirkan kondisi warga apabila musim hujan tiba.
Persoalan tenda menjadi salah satu perhatian utama. Sebab, sebagian rumah warga masih rusak sehingga belum memungkinkan untuk ditempati kembali.
"Pokoknya saat ini kita mengantisipasi ketika musim hujan datang. Kendala kita di tenda. Takut nanti pas musim hujan, rumah-rumah yang rusak itu belum bisa dihuni," katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera diantisipasi agar warga yang masih tinggal di tenda tidak menghadapi persoalan baru ketika hujan turun.
Meski kondisi mulai berangsur membaik, warga tetap diminta tidak lengah.
Theofilus mengajak masyarakat untuk terus menjaga kewaspadaan dan saling membantu selama masa pemulihan.
Ia juga berharap bencana yang melanda wilayah tersebut dapat segera berlalu sehingga masyarakat bisa kembali menjalani kehidupan secara normal.
"Berdoa agar musibah ini cepat berlalu dari kita semua. Setelah itu tetap waspada dan saling menguatkan satu sama lain," ungkap Theofilus Tahu.
(TribunTrends.com)