Festival Babad Siti Kemantren Digelar di 14 Kemantren, Berpusat di Klenteng Poncowinatan Yogyakarta
Joko Widiyarso September 02, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Festival Babad Siti Kemantren kembali dilangsungkan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan.

Mengusung format jelajah budaya penanda keistimewaan, kegiatan ini dilaksanakan secara serentak di 14 kemantren mulai Senin (31/8/26) lalu.

​Festival hadir untuk mengajak masyarakat melihat Yogyakarta melalui 14 wajah kemantren yang kaya akan keberagaman tradisi, sejarah, warisan budaya, hingga cerita rakyat.

​Pembukaan Festival Babad Siti Kemantren dipusatkan di Klenteng Poncowinatan, Kemantren Jetis, yang mengusung tema Harmony in Culture. 

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Wawan Harmawan pun ambil bagian dalam program jelajah budaya di klenteng tertua di Yogyakarta itu.

Menurutnya, kegiatan semacam ini mampu memperkuat predikat Yogyakarta sebagai kota toleransi atau City of Tolerance, sekaligus kota budaya.

​“Yogya itu City of Tolerance, Yogya kota budaya. Nah, semua potensi itu kita eksplor kembali seperti di tempat ini, di klenteng tertua di Yogya," katanya.

​Wawan pun meyakini, konsep jelajah budaya memiliki potensi besar jika digarap secara serius oleh masyarakat, menjadi sebuah destinasi alternatif. 

Hal tersebut dinilai mampu memberi pilihan eksplorasi budaya yang lebih mendalam bagi para wisatawan selain kawasan Malioboro sebagai magnet utama.

"Makanya, kami membari apresiasi tinggi pada warga dan pemangku wilayah Cokrodiningratan, yang sudah berupaya menggerakkan kunjungan kampung wisata ke Klenteng Poncowinatan," ucapnya.

Tiap kemantren punya karakter  

​Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyampaikan, setiap kemantren memiliki karakter penanda keistimewaan tersendiri. 

Karakteristik tersebut mempertegas bahwa keistimewaan Yogyakarta menjadi identitas hidup, yang keberadaannya terus dirawat oleh masyarakat.

​“Festival ini tidak hanya menghadirkan rekonstruksi histori yang informatif. Tetapi juga mengubah sejarah dari sekadar catatan masa lalu menjadi pengalaman budaya yang tentu saja memikat," katanya.

"Melalui penyampaian yang kreatif, baik dalam wujud media visual, kemudian penulisan naratif, maupun bentuk interaksi publik lain, salah satunya lewat program Jelajah Budaya," urai Kadisbud.

Yetti mengungkapkan, di sudut-sudut kampung di Yogyakarta masih tersimpan ribuan cerita lisan yang belum tersentuh serta memerlukan pembuktian, validasi data, hingga telaah akademis.

Festival Babad Siti Kemantren pun hadir untuk menjawab tantangan itu, melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas wilayah, dan masyarakat.

​"Melalui eksplorasi 14 wajah keistimewaan ini, festival diharapkan mampu menegaskan kembali bahwa setiap kemantren di Kota Yogya punya karakter kebudayaan yang khas dan terus hidup," cetusnya. (aka)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.