Laporan wartawan TribunJatim.com, Ahmad Faisol
TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN - Perjalanan berat bakal dijalani oleh Bangkalan dalam Piala Soeratin Jatim KU-13.
Bangkalan Soccer Academy (BSA) Kelompok Umur (KU) 13 mewakili Kabupaten Bangkalan dalam Piala Soeratin Jawa Timur 2026 di Kabupaten Jember.
Dalam pertandingan babak penyisihan yang dimulai 2-6 September 2026, BSA berada dalam satu grup bersama Pordes FC Jember, Asyaabaab Sumenep, Golden Foot Kabupaten Malang, dan Watesnegoro Soccer School Mojokerto.
BSA melenggang ke tingkat provinsi setelah menyapu bersih 4 laga tanpa kekalahan di tingkat kabupaten dengan skor telak, di antaranya 11-0, 11-1, dan 6-1.
Meski demikian, Tim BSA KU-13 menatap Piala Soeratin Jatim sebagai bagian dari proses pengembangan siswa.
"Belum bisa dijadikan ukuran karena sifatnya pembinaan, anak-anak masih dalam proses pengembangan," ungkap Penanaggung Jawab BSA, Prof Dr Imam Syafi'i, MKes kepada TribunJatim.com, Rabu (2/9/2026).
Bagi BSA, ajang Piala Soeratin Jatim 2026 merupakan kesempatan ketiga mewakili Kabupaten Bangkalan. Dua kesempatan sebelumnya, BSA menurunkan KU-13 dan KU-15 meski kandas di tangan Surabaya dan tim bhayangkara pada babak 16 besar.
Baca juga: Bola Terpopuler: Hattrick Bruno Bawa MU Comeback hingga Persiga Tersingkir dari Piala Soeratin U-17
Untuk lolos ke babak 16 besar Piala Soeratin Jatim 2026, BSA harus lolos dari hadangan Pordes FC Jember, Asyaabaab Sumenep, Golden Foot Kabupaten Malang, dan Watesnegoro Soccer School Mojokerto.
"Sekarang ini juga banyak diikuti tim dari daerah yang sudah bagus kultur pembinaan sepakbolanya, seperti Surabaya dan Malang. Babak 16 besar dijadwalkan pada 8-10 September dan laga final pada 11-12 September," pungkas Guru Besar Bidang Kepelatihan Sepak Bola Usia Dini Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Unesa Surabaya itu.
Pemkab Bangkalan Fasilitasi 1 Bus Dishub
Tim BSA KU-13 diberangkatkan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Bangkalan, Moawi Arif dari Kantor Pemkab Bangkalan dengan dukungan satu unit kendaraan bus milik Dinas Perhubungan Bangkalan pada Selasa (1/9/2026).
"Saya mengapresiasi kepada seluruh klub yang sudah mengikuti proses seleksi Piala Soeratin tingkat kabupaten. Sekaligus mengucapkan selamat kepada BSA KU-13 yang mampu lolos sebagai pemenang dan saat ini menatap pertandingan-pertandingan di tingkat provinsi," ungkap Arif kepada Tribun Madura, Rabu (3/9/2026).
Dengan keberangkatan BSA ke Jember mewakili Bangkalan, Arif berharap bisa menjadi pelecut semangat dan gairah bagi para siswa akademi sepak bola yang ada di Kabupaten Bangkalan.
"Semoga anak-anak kita yang berlaga di Piala Soeratin Jatim, mampu membangunan teknik bersepakbola dan mental bertanding, serta terbangun sinergi antar pelatih dengan pemain. Sehingga tercipta sistem permainan yang maksimal," ungkap Arif.
Piala Soeratin merupakan kompeteisi sepak bola usia muda paling bergensi di Indonesia di bawah naungan PSSI. Sejak digelar pertama kali di tahun 1965, Tim Sepak Bola Bangkalan Perseba tercatat sebagai Juara Nasional di tahun 2009 setelah mengalahkan Persema Malang dengan skor 2-1.
"Semoga keberangkata tim BSA KU-13 menjadi spirit bahwa sejatinya Bangkalan punya sejarah dalam event Piala Soeratin. Artinya Bangkalan ini memang mempunyai potensi dalam persepakbolaan, Tim Futsal Bangkalan juga pernah mewakili Jawa Timur di tingkat nasional tahun 2025," jelas Arif.
Sektor pembinaan usia dini yang konsisten serta penerapan nilai disiplin dan sportivitas jangka panjang telah tumbuh subur di Kabupaten Bangkalan melalui akademi maupun assosiasi sekolah sepak bola. Di antaranya Mitra Bangkalan, DEKATE Bangkalan, RAKA Kwanyar, Putra Belya FC, Perkasa, hingga BSA.
Arif memaparkan, Dispora Kabupaten Bangkalan di awal tahun 2027 akan merumuskan bersama para stakeholder sepak bola untuk memberikan wadah, membuat sistem pertandingan yang sifatnya kompetisi sebagai upaya memberikan wadah berupa agenda pertandingan tahunan.
"Entah itu nanti formasinya apa per sekolah atau per kelompok umur. Atau mau membawa nama klub, nama kampung, tidak masalah. Terpenting statusnya belajar dan bermain bola anak-anak bisa terwadahi, itu sebenanrnya salah satu syarat yang sudah direkomendasikan oleh para ahli sport sicene dan para akademisi," papar Arif.
Ia menambahkan, ada beberapa indikator formulasi dalam upaya membangun, mengukur, dan mengakar-kuatkan kultur sepak bola sekaligus membangun prestasi olahraga di masa mendatang.
Pertama, lanjutnya, keberadaan sekolah-sekolah olaharaga atau sepak bola di Kabupaten Bangkalan yang saat sudah terbentuk. Kedua, peningkatan SDM pelatih yang memiliki lisensi kepelatihan sehingga pelatih mempunyai kompetensi. Ketiga, ketika kebudayaan olahraga semakin mengakar, maka secara kuantitatif bisa memilih lebih banyak untuk menetapkan kualitas pemain yang optimal.
"Keempat yaitu penetapan kalender tetap agenda event yang sifatnya berkelanjutan. Karena dalam sports science itu, akademisi merekomendasikan ada standarisasi jumlah bertanding dalam satu tahun, ada sekitar 24 pertandingan dalam setahun untuk menempa skill dan mental bertanding anak," pungkas Arif.
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com