Kemarau Bergeser Hingga Oktober 2026, BPBD Jember Terjunkan Tim Trail Patroli Krisis Air & Karhutla
Sudarma Adi September 02, 2026 08:15 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sri Wahyunik

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mengantisipasi masa musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung hingga Oktober 2026.

Sebelumnya, berdasarkan prediksi dari BMKG, puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026.

Namun prediksi keberlangsungan musim kemarau berubah, yakni akan terus berlangsung sampai September bahkan diprediksi hingga Oktober.

"Awalnya memang diprediksi puncak musim kemarau terjadi Agustus, namun sekarang ada pergeseran, yakni diprediksi sampai September bahkan bisa tembus ke Oktober. Karenanya, kami harus mengantisipasinya," ujar Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo, Rabu (2/9/2026).

Antisipasi Kekeringan dan Karhutla

Kekeringan atau krisis air bersih dan Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) merupakan dua bencana yang kini harus diantisipasi di musim kemarau, apalagi jika musim kemarau ini bakal terus berlangsung hingga Oktober 2026.

Baca juga: Raperda Perubahan APBD Jember 2026, Tambahan Rp223 Miliar Bukan Hanya Bayar Gaji Pegawai

"Daerah yang rawan krisis air bersih bisa bertambah kalau musim kemarau terus berlangsung," imbuh Edy.

Langkah antisipasi terkait kekeringan antara lain dengan melakukan patroli ke 31 Kecamatan yang sudah dipetakan berdasarkan zona.

BPBD membagi ke-31 kecamatan itu ke dalam tiga zona rawan kekeringan yakni merah, kuning, dan hijau.

Ada lima Kecamatan zona merah, tiga zona kuning, dan 23 zona hijau. Dari lima kecamatan yang masuk zona merah, ada satu kecamatan yang diketahui belum mengalami krisis air bersih yakni Kecamatan Tempurejo.

Sedangkan dari tiga kecamatan zona kuning, dua kecamatan yakni Silo dan Pakusari sudah mengalami krisis air bersih, tepatnya di Dusun Bunder Desa Sumberpinang Kecamatan Pakusari, dan Dusun Baban Timur Desa Mulyorejo Kecamatan Silo.

"Sedangkan Kecamatan Mayang yang juga masuk zona kuning belum terdampak, semoga aman," lanjut Edy.

Tetapi dua kecamatan di zona hijau malah sudah mengalami krisis yakni Kecamatan Bangsalsari dan Jelbuk. Krisis air di Kecamatan Banglsari terjadi di Desa Banjarsari, dan di Kecamatan Jelbuk terjadi di Desa Panduman.

"Alhamdulillah yang di Desa Panduman sudah selesai penanganan, karena pipa air bersih yang banyak bocor dan pompa air yang rusak sudah diperbaiki," tegas Edy.

Patroli ke keseluruan kecamatan itu dilakukan personel BPBD Jember memakai sepeda motor trail. Karena patroli dilakukan di daerah-daerah yang ditengarai berpotensi krisis air bersih, yang kebanyakan berada di daerah perbukitan.

"Jadi pasukan sepeda motor trail kami sebar terus untuk melakukan patroli, melakukan deteksi dini. Selain juga berdasarkan laporan dari masyarakat," imbuh Edy.

Karhutla

Kewaspadaan juga ditingkatkan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.  Berdasarkan data dari BPBD Jember,  selama musim kemarau 2026 telah terjadi tiga kali kebakaran hutan, dan 10 kali kebakaran lahan.

Kebakaran hutan itu terjadi di Hutan Watangan Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan (6,5 Ha), Desa Sumberlesung Kecamatan Ledokombo, dan Gunung Triangulasi Desa Tembokrejo Kecamatan Gumukmas (2 Ha).

Sedangkan kebakaran lahan antara lain terjadi di TPA Sampah Pakusari, di Balung, juga lahan di selatan GOR PKPSO Kaliwates.

Agar Karhutla ini tidak terus terulang, pihak BPBD mengajak para pemangku wilayah dan masyarakat melakukan mitigasi, antara lain tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah, atau membuang puntung rokok sembarangan.

"Kalau saya pribadi sepakat adanya sanksi hukum bagi para pelaku pembakaran hutan," tegas Edy.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.