15 Menit Api Karhutla Merangsek ke Rumah Fitri, Tangisnya Nyaris Pecah
Asmadi Pandapotan Siregar September 02, 2026 10:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Tangis Fitri nyaris pecah ketika melihat kobaran api semakin mendekati rumahnya di Jalan Bejo, Kelurahan Selindung, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, Rabu (2/9/2026).

Perempuan tersebut menyaksikan langsung kobaran api yang awalnya berada cukup jauh perlahan bergerak menuju permukiman warga.

Hanya dalam waktu sekitar 15 menit, api membesar dan menjalar cepat akibat hembusan angin kencang. Kobaran bahkan tampak setinggi pepohonan di sekitar lahan yang terbakar.

Fitri semakin panik ketika api mulai bergerak ke bagian belakang rumahnya. Kondisi semakin mencekam karena warga kesulitan mendapatkan air untuk membantu pemadaman.

"Waktu melihatnya panik, takut lah. Apalagi semakin lama api itu semakin dekat ke belakang rumah. Ku sama keluarga langsung berbondong-bondong mau bantu memadamkan api, tapi airnya tidak ada. Jadi kami harus cari air dulu, karena kalau tidak ada air kami mau memadamkan pakai apa," ujar Fitri kepada Bangkapos.com, Rabu (2/9/2026).

Ketakutan Fitri semakin menjadi ketika kobaran api berada begitu dekat dengan rumah. Ia melihat petugas pemadam kebakaran masih berjibaku menangani titik api lain yang lokasinya juga berdekatan dengan rumah warga.

Dalam situasi tersebut, Fitri mengaku hanya bisa pasrah. Air yang dibutuhkan untuk menyiram api pun sulit didapat.

"Pasrah juga rasanya, bagian belakang rumah dengan api paling 10 meter sudah seperti mau terbakar. Lihat api sebesar itu tentu takut. Mau ikut memadamkan, tapi air tidak ada. Damkar juga waktu itu masih sibuk memadamkan api di rumah yang lain, jadi saya sempat berkaca-kaca, sedikit menangis karena kepikiran yang macam-macam. Takut apinya sampai ke rumah, takut rumah ikut terbakar," katanya.

Baca juga: Api di Bawah Tanah Gambut, Petugas Ekstra Padamkan Karhutla di Selindung

Dari bekas kobaran api yang memakan pohon dan rerumputan hanya berjarak 9 langkah kaki pria dewasa.

Namun, perasaan takut tersebut tidak berlangsung lama. Melihat ibu dan suaminya ikut berusaha menyelamatkan rumah, Fitri kembali bergerak membantu.

Rumah Fitri di Jalan Bejo, Kelurahan Selindung, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, berada tak jauh dari kobaran api yang meluas pada Rabu (2/9/2026). Api yang membesar akibat angin kencang sempat bergerak hingga mendekati bagian belakang rumah.
Rumah Fitri di Jalan Bejo, Kelurahan Selindung, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, berada tak jauh dari kobaran api yang meluas pada Rabu (2/9/2026). Api yang membesar akibat angin kencang sempat bergerak hingga mendekati bagian belakang rumah. (Bangkapos.com/Erlangga/Erlangga)

"Ibu saya juga sudah dekat paling dengan api, ikut bantu cari air. Suami juga sibuk dan sendiri menyirami air di belakang rumah. Kebetulan ada sumur yang tidak terlalu jauh dari sini. Jadi melihat mereka begitu, saya ikut membantu. Yang penting bagaimana caranya api jangan sampai ke rumah," ujarnya.

Sebelum kobaran api sampai ke belakang rumahnya, Fitri sebenarnya sudah melihat asap tebal mengepul dari kejauhan pukul 12.00 WIB.

"Pukul 12.00WIB Sebenarnya dari sana asapnya sudah mengepul, cuma belum sampai ke sini. Kami lihat dari rumah, masih jauh. Karena penasaran dan dengar suara mobil-mobil pemadam, kami langsung keluar untuk melihat keadaan," katanya.

Fitri juga sempat mengetahui informasi kebakaran melalui media sosial. Namun, sebelum melihat informasi tersebut, asap dari lokasi kebakaran sudah lebih dulu terlihat.

"Sebelum lihat di media sosial pun kami sudah lihat asapnya dari sana. Kami cuma mengecek-ngecek dari gang, lihat dari sekitar rumah. Waktu itu apinya masih di sana, asapnya juga masih di sana, masih jauh," ujarnya.

Situasi berubah cepat.

Menurut Fitri, dari pertama kali melihat api hingga kobaran tersebut bergerak mendekati rumah warga hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

"Enggak sampai setengah jam. Sekitar 15 menit saja sudah langsung ke sini. Dari sana api langsung membesar, lari ke belakang sana, bahkan sampai dekat rumah orang. Karena anginnya kencang, apinya cepat sekali membesar," katanya.

Saat itu, polisi yang berada di sekitar lokasi juga meminta warga keluar dari rumah.

"Waktu kami keluar dari rumah, ada polisi juga datang ke sini. Kami dibilang jangan di dalam rumah, keluar saja. Jadi kami keluar, lihat-lihat keadaan dari pinggir sini," kata Fitri.

Ia mengatakan, tidak lama setelah warga berada di luar rumah, api justru bergerak semakin dekat.

"Pas sekitar 10 menit, langsung apinya ke belakang sini. Langsung besar. Anginnya kencang, jadi api langsung membesar dan bergerak ke arah sini," ujarnya.

Menurut Fitri, petugas pemadam sebenarnya lebih dahulu memusatkan pemadaman di titik yang lebih dekat dengan rumah warga lainnya.

"Damkar memadamkan kebakaran dirumah gang sebelah, sana dulu baru ke sini. Karena rumah di situ katanya sudah sedikit terbakar api. Karena angin kencang api langsung lari kerumah saya," jelasnya.

Melihat api semakin dekat, Fitri bersama warga lainnya kemudian berjaga di sekitar rumah.

"Saya nunggu juga di pinggir sini. Dari sana apinya lari ke sini. Jadi kami langsung panggil warga-warga untuk bantu-bantu, ada yang menyiram, ada yang mencari air,”katanya.

Api Cepat Membakar Lahan Kering

Fitri mengatakan lahan yang terbakar berada di sekitar kawasan yang sebagian dimanfaatkan untuk tanaman tebu dan sebagian lainnya merupakan kawasan hutan atau semak.

"Kalau yang ini tanam tebu, kalau yang ini hutan. Dulu hutan ini hijau, masih bagus seperti itu. Tapi karena musim panas, lama-lama mati semua, kering semua," katanya.

Kondisi tersebut menurutnya membuat api lebih cepat menjalar.

"Karena musim panas, rumput-rumput dan alang-alang semuanya kering. Jadi waktu terbakar, api cepat makan. Rumput-rumput kering itu langsung terbakar, apalagi anginnya kencang. Makanya apinya cepat sekali membesar dan lari ke mana-mana," ujarnya.

Fitri telah tinggal di kawasan tersebut selama lebih dari tiga tahun. Ia mengatakan, kebakaran lahan bukan kali pertama terjadi di sekitar permukiman.

"Sudah tiga tahun lebih saya tinggal di sini. Setiap tahun ada saja kebakaran seperti ini. Cuma kalau tahun-tahun sebelumnya bukan siang seperti sekarang. Dulu pernah malam dan tidak separah ini," ujarnya.

Pada kebakaran kali ini, Fitri mengaku tidak mengalami kerugian langsung karena lahan yang ditanami tebu bukan miliknya.

"Kalau kerugian dari kami sih tidak ada, karena ini bukan punya kami. Yang punya orang lain yang bertanam di sini, mereka yang mungkin merasa rugi karena tanamannya terbakar," katanya.

Pengalaman melihat api setinggi pohon bergerak mendekati rumah membuat Fitri berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi.

"Harapan ke depan semoga tidak terulang lagi. Semoga orang-orang juga merasa dan sama-sama menjaga. Jangan sampai membuat kejadian seperti ini lagi," katanya. (Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.