Kabut Asap Dongkrak Kasus ISPA di Kaltim, Kukar Catat 9.075 Kasus pada Agustus
Doan Pardede September 03, 2026 06:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah Kalimantan Timur menunjukkan tren peningkatan di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap.

ISPA adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan, seperti hidung, tenggorokan, hingga paru-paru.

ISPA dapat disebabkan oleh virus, bakteri, maupun paparan polusi dan asap yang mengiritasi saluran pernapasan, gejalanya antara lain batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, dan sesak napas.

Kenaikan paling signifikan tercatat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dengan 9.075 kasus sepanjang Agustus 2026.

Baca juga: Kasus ISPA di Kutai Kartanegara Melonjak Signifikan Akibat Kabut Asap Karhutla

Kukar sendiri berada tak jauh dari Kota Samarinda, dengan jarak sekitar 30–40 kilometer dan waktu tempuh rata-rata 1–1,5 jam melalui jalur darat, tergantung titik tujuan dan kondisi lalu lintas.

Dibandingkan sejumlah kabupaten/kota lainnya di Kaltim, wilayah yang saat ini dipimpin Bupati dr. Aulia Rahman Basri, M.Kes dan Wakil Bupati Rendi Solihin ini tergolong sangat luas, mencakup kawasan perkotaan, permukiman, perkebunan, hingga hutan dan lahan yang masih cukup luas. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak Juni 2026.

Pada Juni tercatat 3.703 kasus, kemudian meningkat menjadi 7.172 kasus pada Juli dan kembali melonjak menjadi 9.075 kasus sepanjang Agustus.

“Memang ada peningkatan kasus ISPA yang cukup signifikan. Kalau kita lihat dari Juni itu kemarin 3.703 dari data kita, kemudian mulai meningkat di bulan Juli 7.172, kemudian dari 1 sampai 31 Agustus kemarin ada 9.075,” ujar Ismi, Rabu (2/9).

Kasus ISPA ditemukan di seluruh kecamatan di Kukar dengan jumlah yang berbeda-beda.

Penyakit tersebut tidak hanya terjadi di wilayah yang berdekatan dengan lokasi karhutla.

Lima wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi selama Agustus adalah Loa Ipuh, Rapak Mahang, Sanga-Sanga, Loa Janan, dan Samboja.

“Kalau kita sebut lima besar di Agustus itu, Loa Ipuh, Rapak Mahang, Sanga-Sanga, Loa Janan, Samboja, itu lima besar,”jelas Ismi, yang juga mantan Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD A.M. Parikesit Tenggarong tersebut.

Menurut Ismi, tingginya kasus di sejumlah kawasan perkotaan juga dipengaruhi kepadatan penduduk dan tingginya aktivitas masyarakat. Tenggarong, misalnya, memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Meski paparan kabut asap di wilayah tersebut terjadi lebih belakangan dibandingkan kawasan yang menjadi lokasi karhutla, tingginya mobilitas masyarakat turut memengaruhi jumlah kasus.

Berdasarkan kelompok umur, kasus ISPA paling banyak ditemukan pada usia produktif dan usia sekolah. Kelompok usia produktif 18–59 tahun tercatat sebanyak 3.028 kasus, sedangkan kelompok usia sekolah 5–18 tahun mencapai sekitar 2.950 kasus. Adapun kasus pada kelompok balita tercatat sekitar 1.600 kasus.

“Rentang usia, kalau kita data memang yang paling terdampak itu di dua kelompok. Pertama usia produktif, 18–59 tahun, itu 3.028 kasus. Kemudian usia sekolah, 5–18 tahun, sekitar 2.950 kasus. Untuk balita 1.600 sekian,” jelas Ismi.

Meski peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan kondisi kabut asap, Ismi mengingatkan bahwa ISPA tidak semata-mata disebabkan oleh asap karhutla. Menurutnya, ISPA merupakan salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan di Kukar dan secara rutin berada di posisi pertama dalam daftar 10 penyakit terbanyak.

Kabut asap akibat karhutla menjadi salah satu faktor tambahan yang dapat memperbesar jumlah kasus. Selain itu, polusi kendaraan dan aktivitas masyarakat juga berpengaruh terhadap kualitas udara.

“Karena tadi saya bilang, penyebabnya bukan hanya kabut, tapi polusi kendaraan itu juga menjadi penyebab terbesar. Karena kan kita mobilitas ya, kayak naik motor, naik mobil juga benar-benar aman. Tapi karena ada kasus tambahan kabut asap ini, kasusnya jadi kelihatan meningkat, cukup signifikan,” ujar Alumnus Magister Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (Minat PPK) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dari sisi pelayanan, Dinkes Kukar memastikan ketersediaan obat-obatan untuk penanganan ISPA di seluruh puskesmas tetap terjaga. Warga yang mengalami gejala ISPA dapat mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan sesuai prosedur.

“Kalau di puskesmas kita obat-obatan siap, artinya tadi yang saya sebutkan misalnya di Loa Ipuh, Rapak Mahang, itu semua terlayani dan diberikan pengobatan sesuai dengan prosedur,” katanya.

Di tengah kondisi udara yang dipengaruhi kabut asap, Dinkes Kukar mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak ada keperluan mendesak. Warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah diminta menggunakan masker dan melakukan perlindungan diri.

Kasus ISPA Juga Naik di Kutai Timur

Tren peningkatan kasus ISPA juga terjadi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Kutim merupakan salah satu kabupaten terluas di Kalimantan Timur, dengan pusat pemerintahan berada di Sangatta.

Dari Kota Samarinda, Sangatta berjarak sekitar 150 kilometer dengan waktu tempuh darat rata-rata 3–4 jam, tergantung kondisi jalan dan lalu lintas.

Wilayah yang saat ini dipimpin Bupati Ardiansyah Sulaiman dan Wakilnya Mahyunadi ini didominasi kawasan hutan, perkebunan, pertambangan, dan permukiman yang tersebar cukup luas. 

Puskesmas Teluk Lingga, Kecamatan Sangatta Utara, mencatat lonjakan pasien ISPA dalam tiga bulan terakhir.

Pada Juni 2026 terdapat 285 pasien, kemudian meningkat menjadi 438 pasien pada Juli dan mencapai 503 pasien pada Agustus.

Jika dibandingkan dengan Juni, jumlah pasien pada Agustus bertambah 218 orang.

Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan peningkatan kasus juga terlihat secara konsisten sejak Mei hingga pertengahan Agustus 2026.

Kondisi cuaca panas ekstrem yang memicu karhutla di sejumlah wilayah Kutim dinilai turut memperburuk kualitas udara.

“Ini menjadi perhatian serius kami karena ancaman cuaca panas dan karhutla saling berkaitan langsung dengan saluran pernapasan warga,” ujar Yuwana yang juga mantan Direktur [RSUD Kudungga] Sangatta ini, Rabu (2/9).

Secara keseluruhan, Dinkes Kutim mencatat 2.586 kasus ISPA yang tersebar di berbagai wilayah hingga pekan ke-33 2026.

Baca juga: Bupati Mudyat Noor Ungkap Kondisi ISPA di Tengah Karhutla Penajam Paser Utara

Yuwana mengatakan paparan asap akibat kebakaran lahan dapat mengganggu sistem pernapasan masyarakat.

“Cuaca lumayan panas, lalu ditambah seringnya terjadi kebakaran lahan sehingga menyebabkan asap di mana-mana. Polusi udara ini langsung mengganggu pernapasan,” katanya.

Dinkes Kutim meminta masyarakat di wilayah terdampak membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika harus bepergian, warga dianjurkan menggunakan masker.

Masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak minum air putih, serta mengonsumsi sayur dan buah.

Mahulu Catat 653 Kasus dalam Sekitar 13 Hari

Di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), sebanyak 653 kasus ISPA tercatat di enam fasilitas kesehatan dalam kurun waktu sekitar 13 hari.

Mahulu merupakan salah satu kabupaten paling pedalaman di Kalimantan Timur, berada di kawasan hulu Sungai Mahakam dan berbatasan langsung dengan Malaysia.

Dari Kota Samarinda, perjalanan darat menuju Mahulu cukup jauh, sekitar 300–350 kilometer dengan waktu tempuh dapat mencapai 8–10 jam, tergantung kondisi jalan dan titik tujuan.

Wilayah yang saat ini dipimpin Bupati Angela Idang Belawan dan Wakilnya Suhuk, S.E. ini didominasi hutan dan bentang alam perbukitan, dengan permukiman yang tersebar di sepanjang aliran Sungai Mahakam.

Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Mahulu, dr Barce Tenda, mengatakan jumlah tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

“Kurang lebih ada 653 kasus dan itu artinya meningkat cukup signifikan dari hari ke hari,” kata Barce kepada TribunKaltim.co, Rabu (2/9).

Berdasarkan wilayah, Kecamatan Long Bagun mencatat kasus ISPA tertinggi dengan 239 kasus, disusul Long Hubung sebanyak 161 kasus.

Barce mengatakan tingginya jumlah kasus di kedua kecamatan tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan jumlah penduduk masing-masing wilayah. Menurutnya, ISPA merupakan diagnosis umum yang masih mencakup sejumlah diagnosis lebih spesifik.

Di tengah kondisi asap, Dinkes P2KB Mahulu mengingatkan masyarakat mengutamakan pencegahan, salah satunya dengan menggunakan masker yang telah dibagikan melalui fasilitas kesehatan.

“Kalau memang harus beraktivitas di luar, gunakanlah pelindung, terutama anak-anak, balita dan kelompok risiko tinggi harus mendapat proteksi dari orang tua atau orang terdekat,” ujarnya.

Masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum air putih dan mengonsumsi suplemen.

Warga yang memiliki riwayat asma atau penyakit pernapasan juga diminta lebih waspada agar tidak terpapar asap tanpa perlindungan.

Baca juga: Karhutla Kalbar Makin Kritis, Jarak Pandang Kurang dari 1 Km, 50.891 Kasus ISPA

Kasus ISPA di Paser Masih Terkendali

Sementara itu, Dinkes Kabupaten Paser mencatat fluktuasi kasus ISPA sepanjang Agustus 2026.

Kabupaten Paser merupakan wilayah paling selatan di Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Kalimantan Selatan.

Dari Kota Samarinda, wilayah yang saat ini dipimpin Bupati dr. Fahmi Fadli dan Wakilnya H. Ikhwan Antasari, S.Sos. ini berjarak sekitar 250 kilometer, dengan waktu tempuh perjalanan darat rata-rata 5–6 jam, tergantung kondisi jalan dan tujuan. 

Pada minggu kedua Agustus, jumlah kasus mencapai 918. Angka tersebut kemudian turun menjadi 851 kasus pada minggu ketiga atau berkurang 67 kasus.

Kepala Dinkes Paser, Amri Yulihardi, mengatakan kasus ISPA bersifat dinamis dan tidak hanya disebabkan oleh kabut asap akibat karhutla.

“Penyakit ISPA bukan hanya disebabkan oleh kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga ada faktor lain seperti bakteri dan virus,” terang pria yang pernah dinobatkan sebagai Camat berprestasi terbaik se-Kaltim tahun 2022 ini.

Menurutnya, ISPA merupakan penyakit yang hampir selalu ditemukan di masyarakat. Karena itu, Dinkes Paser meminta seluruh puskesmas meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus.

“Apalagi dengan kondisi karhutla saat ini, tentu ada dampak dari polusi asap. Kami sudah menginstruksikan seluruh puskesmas agar lebih siap siaga menghadapi kemungkinan lonjakan kasus,” tambahnya.

Amri memastikan kondisi saat ini masih terkendali. Pelayanan kesehatan tetap berjalan normal dengan sistem piket petugas secara bergiliran.

Dinkes Paser juga tengah menyiapkan surat edaran mengenai kewaspadaan dan antisipasi dampak karhutla.

Surat tersebut nantinya memuat imbauan penggunaan masker, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, anak-anak, dan lanjut usia.

“Kalau kabut asap semakin pekat, sebaiknya batasi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, gunakan masker,” ungkapnya.

Dampak Karhutla di PPU Belum Mengkhawatirkan

Berbeda dengan daerah lain, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyebut dampak karhutla terhadap gangguan kesehatan, termasuk ISPA, sejauh ini belum menjadi persoalan yang mengkhawatirkan.

PPU merupakan salah satu wilayah strategis di Kalimantan Timur karena menjadi lokasi utama Ibu Kota Nusantara (IKN).

Dari Samarinda, PPU berjarak sekitar 150 kilometer dengan waktu tempuh darat rata-rata 3–4 jam, tergantung tujuan dan kondisi perjalanan.

Wilayah PPU memiliki kawasan hutan, perkebunan, pertanian, hingga pesisir yang berdampingan dengan kawasan pengembangan IKN. 

Bupati PPU Mudyat Noor mengatakan kondisi tersebut tidak terlepas dari penanganan kebakaran yang dilakukan secara cepat oleh tim di lapangan. Api yang muncul segera ditangani agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas sehingga dampak terhadap kualitas udara dapat ditekan.

“Sampai saat ini kalau di Kabupaten Penajam Paser Utara, dampaknya mungkin tidak terlalu seperti yang terjadi di beberapa kabupaten yang lain,” ungkap anggota DPD Partai Nasdem Kalimantan Timur, yang juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Kaltim, periode 2009-2014 ini. Rabu (2/9).

Meski demikian, kata pemerintah daerah tetap meningkatkan kesiapsiagaan karena musim kemarau masih berlangsung.

Mudyat mengatakan penanganan tidak hanya dilakukan setelah kebakaran terjadi, tetapi juga diarahkan untuk mencegah api meluas dan menimbulkan dampak terhadap masyarakat.

Untuk saat ini, Pemkab PPU belum menjadikan pembagian masker sebagai langkah utama dalam menangani dampak karhutla. Hal tersebut karena setiap kejadian kebakaran dinilai masih dapat ditangani dengan cepat.

Pemerintah daerah tetap meminta masyarakat mengantisipasi potensi kebakaran selama musim kemarau. Pengendalian sumber api dinilai menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya asap dan dampak lanjutan terhadap kesehatan warga.

“Kesiapsiagaan itu menjadi faktor paling utama dalam rangka mencegah kejadian-kejadian yang terjadi pascakebakaran,” pungkas alumni jurusan Kehutanan (S-1) di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda ini.

Kualitas Udara Samarinda Masuk Kategori Sedang

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda menyebut kualitas udara Kota Tepian saat ini berada dalam kategori sedang.

Kota Samarinda merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Timur sekaligus salah satu pusat pemerintahan, perdagangan, dan aktivitas masyarakat di provinsi tersebut.

Kota ini berjarak sekitar 120 kilometer dari Balikpapan dengan waktu tempuh darat rata-rata 2,5–3 jam, tergantung kondisi lalu lintas. 

Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk lebih waspada saat beraktivitas di luar ruangan, salah satunya dengan menggunakan masker medis.

Plt Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan pemantauan kualitas udara terus dilakukan melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara milik BMKG yang berada di Bandara APT Pranoto, Kecamatan Samarinda Utara.

Berdasarkan data Selasa (1/9), kualitas udara Samarinda tercatat 17,5 mikrogram per meter kubik (μg/m⊃3;) dan masuk kategori sedang.

“Untuk kualitas udara di Kota Samarinda itu dalam kategori sedang,” ujar Suwarso.

Ia menjelaskan, kualitas udara dalam kategori tersebut masih dapat diterima meski polusi mulai terasa. Masyarakat secara umum masih dapat beraktivitas di luar ruangan.

“Itu kategorinya sedang, dapat diterima, namun polusi sedang mulai terasa. Kategori sedang, masih aman beraktivitas di luar,” katanya.

Meski demikian, Suwarso mengimbau kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta penderita asma dan penyakit jantung, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Ia mengatakan kualitas udara di Samarinda cenderung fluktuatif. Berdasarkan pemantauan dalam 24 jam terakhir, puncak polusi terjadi pada pukul 12.00 hingga 13.00 Wita dan sempat masuk kategori kuning atau tidak sehat.

Menyikapi kondisi tersebut, Suwarso memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas anak usia sekolah.

“Saran untuk anak usia sekolah, hindari olahraga di luar, upacara, pramuka di lapangan. Kemudian, kelasnya ditutup. Kalau ada AC, nyalakan. Gunakan masker medis N95,” pungkasnya.

Lonjakan ISPA di Kaltim

Kukar mencatat 3.703 kasus ISPA pada Juni, meningkat menjadi 7.172 kasus pada Juli, dan melonjak menjadi 9.075 kasus pada Agustus. Jumlah Agustus tersebut meningkat sekitar 145 persen dibandingkan Juni.

Di Kutim, tercatat 2.586 kasus ISPA hingga pekan ke-33 2026. Khusus Puskesmas Teluk Lingga, kasus meningkat dari 285 pasien pada Juni menjadi 438 pasien pada Juli dan 503 pasien pada Agustus.

Mahulu mencatat 653 kasus dalam sekitar 13 hari, dengan Long Bagun menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 239 kasus, disusul Long Hubung sebanyak 161 kasus.

Di Paser, kasus turun dari 918 pada minggu kedua Agustus menjadi 851 pada minggu ketiga. Sementara di PPU, dampak kesehatan akibat karhutla belum dinilai mengkhawatirkan karena penanganan kebakaran dilakukan secara cepat.

Rangkaian data tersebut menunjukkan peningkatan kasus ISPA di sejumlah wilayah Kaltim berlangsung bersamaan dengan kondisi cuaca panas, karhutla, dan memburuknya kualitas udara.

Meski kabut asap bukan satu-satunya penyebab ISPA, masyarakat tetap diminta membatasi aktivitas di luar ruangan saat kondisi udara memburuk serta menggunakan perlindungan seperti masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.