TRIBUNJATIM.COM - Aktivitas di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, untuk sementara diliburkan.
Keputusan tersebut diambil setelah ratusan santri mengalami keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan makanan bergizi gratis atau MBG.
Sejumlah santri sempat dilarikan ke beberapa rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Sebagian di antaranya telah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatan mereka membaik.
Namun, hingga Rabu (2/9/2026), puluhan santri masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
Baca juga: Bawa Bekal Ibu dari Rumah, Siswa SMAN 3 Nganjuk Ada yang Tak Keracunan Makan MBG
Pihak pesantren mencatat, dari sekitar 2.800 santri, lebih dari 1.000 orang mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, sekitar 450 santri mengalami gejala seperti mual dan pusing.
Pihak pesantren kemudian melakukan pemantauan di seluruh lingkungan pondok, termasuk ke setiap asrama.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada santri lain yang mengalami keluhan.
“Yang gejala kurang lebih 450 sekian. Yang lainnya tetap kita kontrol keliling pesantren dan di tiap asrama. Harapannya tidak ada yang bertambah lagi,” ujar Bidang Humas Manbaul Hikam, KH Bahron Nafi' dalam tayangan Saksi Kata '1.300 Santri Konsumsi MBG, Ratusan Diduga Keracunan hingga Manbaul Hikam Diliburkan' yang tayang di kanal YouTube TribunJatim.com, Rabu (2/9/2026).
Selain pengawasan, santri juga diberikan tambahan asupan makanan dan minuman untuk membantu menjaga kondisi tubuh.
Bahron meminta seluruh santri tetap tenang selama proses penanganan berlangsung.
"Semua santri yang terdampak maupun yang tidak sudah tertangani dengan baik," ujar Bahron.
Santri yang telah mendapatkan pemeriksaan dan dinyatakan membaik oleh tim medis diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.
Namun, mereka tidak langsung kembali ke pesantren.
Bahron menjelaskan, pesantren memberikan izin kepada santri untuk beristirahat di rumah masing-masing hingga kondisi mereka benar-benar pulih.
"Kalau sudah sehat, bisa kembali lagi. Harapannya mungkin satu minggu depan,” kata Bahron.
Sementara itu, posko kesehatan dari Dinas Kesehatan tetap disiagakan di lingkungan pesantren.
Keberadaan posko tersebut bertujuan memantau kondisi santri sekaligus memberikan penanganan apabila kembali ditemukan keluhan.
Baca juga: Guru Ungkap Awal Siswa SMAN 3 Nganjuk Keracunan usai Santap MBG, Ungkap Isi Menu
Bahron mengatakan, pihak pesantren masih melakukan koordinasi sebelum menentukan apakah program MBG akan kembali dilanjutkan.
Meski demikian, pesantren tetap menyatakan dukungan terhadap program pemerintah tersebut.
Menurut pengasuh, kejadian ini seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan MBG.
"Kejadian ini menjadi evaluasi bersama. Kita tetap mendukung program pemerintah, tapi pelayanan tetap harus diperhatikan," ujar Bahron.
Evaluasi dinilai perlu dilakukan mulai dari proses memasak hingga pengadaan bahan makanan.
Bahron juga menyebut hampir 10 guru yang ikut mengonsumsi makanan tersebut mengalami mual, meski tidak sampai harus dirawat di rumah sakit.
Program MBG sendiri baru berjalan sekitar dua bulan di pesantren tersebut.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 88 santri masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Sementara itu, ratusan pasien lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
Pihak pesantren menegaskan, santri yang masih mengalami mual, pusing, atau keluhan lainnya akan segera dibawa ke rumah sakit.
"Kalau masih ada keluhan, langsung kita bawa ke rumah sakit. Biar mendapat penanganan intensif dan segera mendapatkan perawatan," katanya.
Baca juga: Menu MBG yang Dimakan 566 Anak di Sidoarjo hingga Diduga Keracunan, Kepala SPPG: Katanya Aman
Dari hasil evaluasi pemerintah daerah, terdapat 170 dapur penyedia MBG yang tercatat dalam wilayah tersebut.
Dari jumlah itu, 31 di antaranya disebut belum memiliki izin.
Dapur yang belum mengantongi izin diminta menghentikan kegiatan sementara.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga meminta pengawasan diperketat agar program MBG tetap berjalan, tetapi dengan standar pelayanan dan keamanan pangan yang lebih baik.
"Kalau ada tata kelola yang kurang baik, harus kita benahi. Program yang baik tetap kita dukung,” ujar Bupati Sidoarjo, Subandi.
Di tengah penanganan para santri, pihak pesantren juga membantah kabar mengenai adanya korban meninggal dunia.
Hingga saat ini, tidak ada laporan santri yang meninggal akibat kejadian tersebut.
Pihak pesantren berharap seluruh santri segera pulih dan aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan setelah kondisi benar-benar aman.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com