MANGGAR, BABEL NEWS - Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Belitung Timur, Wiwiek Lestari, mengatakan, kenaikan harga ayam potong di Belitung Timur terjadi secara bertahap dalam beberapa hari terakhir.
Wiwiek menyebutkan, sebelum melonjak ke angka Rp50 ribu per kilogram, harga ayam potong segar di pasar tradisional masih sempat bertahan di kisaran Rp45 ribu-Rp46 ribu per kilogram.
“Kenaikan ini (harga ayam potong--red) terjadi secara global, terlihat dari tren kenaikan harga nasional sehingga memberi dampak ke daerah, seperti kenaikan harga pakan dan DOC yang terbatas,” kata Wiwiek kepada Pos Belitung, Rabu (2/9/2026).
Di sisi lain, Wiwiek menyebutkan, tekanan pada pasokan ayam potong kian terasa seiring tingginya permintaan di lapangan, salah satunya oleh pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Ketersediaan DOC menurun, sedangkan permintaan di lapangan tetap tinggi dikarenakan adanya program MBG,” ujarnya.
Selama ini, lanjut Wiwiek, ketersediaan ayam potong di Belitung Timur sebenarnya relatif mencukupi untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat.
Namun, ketika populasi di peternak lokal terpangkas akibat tingginya harga pakan, ketergantungan pasokan terhadap luar daerah otomatis meningkat drastis.
“Para pedagang kita sangat bergantung pada kiriman ayam hidup dari Bangka, Jakarta, maupun daerah Sumatra seperti Palembang dan Lampung,” tutur Wiwiek.
Oleh karena itu, Disperindag Kabupaten Belitung Timur saat ini tengah menyiapkan skema intervensi pasar untuk menekan harga ayam potong agar kembali stabil.
Salah satunya, menyiapkan operasi pasar khusus daging ayam yang akan digelar melalui koordinasi tim satuan tugas (satgas) pangan daerah.
“Langkah jangka pendek kita merencanakan intervensi operasi pasar ayam beku. Rencana tersebut sedang dipersiapkan bersama tim satgas dengan menggandeng stakeholder terkait, termasuk dinas ketahanan pangan dan pertanian,” ujar Wiwiek.
“Untuk jangka panjang, kita lakukan asistensi teknis kelompok ternak oleh para ahli untuk mengoptimalkan kapasitas panen, serta modernisasi peralatan pertanian dan peternakan guna meningkatkan produktivitas dalam daerah,” katanya.
Harga ayam potong di Pasar Lipat Kajang, Desa Baru, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kemarin, harganya terpantau mencapai Rp50.000 per kilogram.
“Sekarang udah Rp50 ribu per kilogram, sementara untuk yang bersih tanpa tulang (fillet) harganya Rp65 ribu per kilogram,” ujar Talib (50), salah satu pedagang ayam potong di Pasar Lipat Kajang, Rabu (2/9/2026).
Talib menyebutkan, kenaikan harga tersebut mulai terjadi sejak Minggu (31/8/2026) lalu.
Sebelum melonjak ke Rp50 ribu per kilogram, harga ayam potong masih bertahan di angka Rp45 ribu hingga Rp46 ribu per kilogram.
Talib menyebut, melonjaknya harga ayam potong berimbas pada daya beli dan perilaku berbelanja masyarakat. Ia mengaku banyak pelanggannya yang mengeluh dan mengurangi porsi belanjaan mereka demi menghemat pengeluaran harian.
“Pasti mengeluhlah pembeli. Yang awalnya biasa beli satu kilogram, sekarang cuma beli setengah kilogram. Permintaan berkurang jauh karena harganya tinggi,” ujar Talib.
Meski begitu, lanjut dia, penjualan ayam saat ini tidak terlalu sepi jika berkaca pada harga saat ini.
Hal tersebut lantaran menipisnya pasokan ikan segar di pasaran akibat angin kencang yang membuat sebagian besar nelayan mengurangi intensitas melaut.
Dengan demikian, warga beralih membeli ayam potong sebagai pengganti ikan untuk lauk.
“Sekarang ini berhubung harga dan pasokan ikan lagi enggak terlalu ada di pasar, penjualan ayam ada sedikit peningkatan naik. Tapi ya biasa kalau ikan enggak ada, orang larinya ke ayam,” tutur Talib.
Menurut Talib, melonjaknya harga ayam potong dipicu oleh menipisnya stok di peternak lokal Belitung maupun Belitung Timur.
Kondisi tersebut kian parah karena penyuplai dari luar daerah seperti Jakarta dan Pulau Bangka yang biasa menutupi kekurangan stok di Belitung Timur, juga sedang mengalami kenaikan harga dari tingkat produsen.
“Stok di Belitung memang lagi enggak terlalu ada, tipis sekali. Pasokan dari Jakarta memang mahal, terus dari Bangka pun mahal juga. Biasanya kalau di Belitung Timur kosong, kita terbantu pasokan dari Tanjungpandan, tapi sekarang sama-sama kosong,” tutur Talib.
Karena itu, Talib terpaksa memangkas volume dagangannya guna menghindari risiko kerugian akibat tak laku.
Jika pada kondisi normal ia mampu menjual hingga 100 kilogram ayam potong per hari, kini hanya berani menyetok sekitar 50 kilogram saja.
“Meredup, Mas. Pasokan kita pangkas hampir 50 persen. Sekarang paling bersihnya cuma berani ambil 50 kilogram sehari. Kasihan kalau enggak habis,” ujar Talib.
“Ekonomi kita ini kan sedang tidak baik-baik saja. Kasihan juga dengan pembeli karena mereka bukan cuma mau beli ayam, tapi mau beli sayur, sembako, dan kebutuhan lainnya. Kami terikat di situ, bukan cuma mikir barang kami harus laku,” katanya.
Talib meyakini kenaikan harga tersebut murni akibat kelangkaan ayam potong di tingkat distributor pusat, bukan karena permainan harga di tingkat pedagang kecil. (z1)