MANGGAR, BABEL NEWS - Harga ayam potong di Pasar Lipat Kajang, Desa Baru, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kemarin, harganya terpantau mencapai Rp50.000 per kilogram.
“Sekarang udah Rp50 ribu per kilogram, sementara untuk yang bersih tanpa tulang (fillet) harganya Rp65 ribu per kilogram,” ujar Talib (50), salah satu pedagang ayam potong di Pasar Lipat Kajang, Rabu (2/9/2026).
Talib menyebutkan, kenaikan harga tersebut mulai terjadi sejak Minggu (31/8/2026) lalu.
Sebelum melonjak ke Rp50 ribu per kilogram, harga ayam potong masih bertahan di angka Rp45 ribu hingga Rp46 ribu per kilogram.
Talib menyebut, melonjaknya harga ayam potong berimbas pada daya beli dan perilaku berbelanja masyarakat. Ia mengaku banyak pelanggannya yang mengeluh dan mengurangi porsi belanjaan mereka demi menghemat pengeluaran harian.
“Pasti mengeluhlah pembeli. Yang awalnya biasa beli satu kilogram, sekarang cuma beli setengah kilogram. Permintaan berkurang jauh karena harganya tinggi,” ujar Talib.
Meski begitu, lanjut dia, penjualan ayam saat ini tidak terlalu sepi jika berkaca pada harga saat ini.
Hal tersebut lantaran menipisnya pasokan ikan segar di pasaran akibat angin kencang yang membuat sebagian besar nelayan mengurangi intensitas melaut.
Dengan demikian, warga beralih membeli ayam potong sebagai pengganti ikan untuk lauk.
“Sekarang ini berhubung harga dan pasokan ikan lagi enggak terlalu ada di pasar, penjualan ayam ada sedikit peningkatan naik. Tapi ya biasa kalau ikan enggak ada, orang larinya ke ayam,” tutur Talib.
Menurut Talib, melonjaknya harga ayam potong dipicu oleh menipisnya stok di peternak lokal Belitung maupun Belitung Timur.
Kondisi tersebut kian parah karena penyuplai dari luar daerah seperti Jakarta dan Pulau Bangka yang biasa menutupi kekurangan stok di Belitung Timur, juga sedang mengalami kenaikan harga dari tingkat produsen.
“Stok di Belitung memang lagi enggak terlalu ada, tipis sekali. Pasokan dari Jakarta memang mahal, terus dari Bangka pun mahal juga. Biasanya kalau di Belitung Timur kosong, kita terbantu pasokan dari Tanjungpandan, tapi sekarang sama-sama kosong,” tutur Talib.
Karena itu, Talib terpaksa memangkas volume dagangannya guna menghindari risiko kerugian akibat tak laku.
Jika pada kondisi normal ia mampu menjual hingga 100 kilogram ayam potong per hari, kini hanya berani menyetok sekitar 50 kilogram saja.
“Meredup, Mas. Pasokan kita pangkas hampir 50 persen. Sekarang paling bersihnya cuma berani ambil 50 kilogram sehari. Kasihan kalau enggak habis,” ujar Talib.
“Ekonomi kita ini kan sedang tidak baik-baik saja. Kasihan juga dengan pembeli karena mereka bukan cuma mau beli ayam, tapi mau beli sayur, sembako, dan kebutuhan lainnya. Kami terikat di situ, bukan cuma mikir barang kami harus laku,” katanya.
Talib meyakini kenaikan harga tersebut murni akibat kelangkaan ayam potong di tingkat distributor pusat, bukan karena permainan harga di tingkat pedagang kecil. (z1)