334 Siswa hingga Guru di Agam Sumbar Keracunan, Pilu Ibu 3 Anaknya Terkapar Usai Santap MBG
Ilham Fazrir Harahap September 03, 2026 10:54 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Ratusan korban yang terdiri atas siswa, guru, ibu menyusui, hingga balita dilarikan ke fasilitas kesehatan usai menyantap paket program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jumlah korban dugaan keracunan makanan di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, melonjak hingga mencapai 334 orang per Rabu (2/9/2026).

Camat Palupuh, Nong Rianto Dt. Maruhun, memaparkan bahwa mayoritas korban berasal dari lingkungan sekolah dasar.

Rinciannya mencakup 274 siswa SD dan 19 guru SD se-Kecamatan Palupuh.

“Kemudian 40 siswa dari SMPN 1 Palupuh, dan dua orang guru sekolah tersebut,” ucapnya saat dikonfirmasi Tribun Padang.

Baca juga: Motor Ojol di Medan Ditarik Debt Collector yang Keluarkan Senjata Api,Modus Minta Dorong Motor Mogok

Kendati lonjakan kasus terjadi secara bersamaan, pihak kecamatan belum berani menyimpulkan penyebab pasti insiden ini.

“Kita belum bisa memastikan karena mengonsumsi MBG, tapi 334 orang data yang kita himpun memang keracunan sejak kemarin,” ungkapnya.

3 Anak Wini Terkapar

Salah satu cerita pilu datang dari Wini, seorang ibu rumah tangga yang menyaksikan ketiga buah hatinya jatuh sakit secara bersamaan.

Baca juga: DUDUK Perkara Dugaan Perundungan Siswa di MIS Miftahul Jannah, Awalnya Saling Menghina

Wini, warga Jorong Mudiak Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuah menceritakan momen mencekam saat kondisi kesehatan anak-anaknya mendadak memburuk. 

Gejala pusing hingga diare parah mulai menyerang ketiga anaknya pada Selasa (1/9/2026) siang.

Ketakutan Wini semakin memuncak ketika melihat respon tubuh anak ketiganya yang masih balita berusia 3,5 tahun. 

Balita tersebut mengalami muntah-muntah, mencret, hingga suhu tubuhnya mendadak panas tinggi usai mengonsumsi hidangan MBG yang dibagikan pada Senin (31/8/2026).

"Anak balita saya yang umur 3,5 tahun itu badannya panas, muntah, dan mencret. Tadi malam langsung dibawa berobat dan dikasih obat," ujar Wini saat menceritakan kondisi keluarganya, Rabu (2/9/2026).

Santap Lahap Menu MBG Tanpa Curiga

Wini mengungkapkan bahwa saat makanan program MBG disajikan di rumah, sama sekali tidak ada kejanggalan pada rasa maupun aroma hidangan. 

Ketiga anaknya bahkan menyantap makanan tersebut dengan sangat lahap hingga nasi di piring habis tak tersisa.

Menu yang dikonsumsi keluarganya saat itu terdiri dari olahan telur puyuh dan tempe. Tidak ada keluhan atau ucapan bahwa makanan tersebut terasa aneh atau tidak enak dari anak-anaknya sewaktu menyantapnya.

Baca juga: Dampak Abu Vulkanik Bagi Kesehatan Pengungsi Erupsi Gunung Sinabung dan Cara Melindungi Diri

Namun, beberapa jam setelah hidangan itu masuk ke pencernaan, dampak mematikan mulai terasa. Anak pertamanya yang berada di jenjang SMP mengalami mencret hebat, sedangkan anak keduanya yang duduk di bangku SD merasakan pusing kepala tak tertahankan yang disertai diare.

Meskipun ketiga anaknya mengalami gejala keracunan, mereka tidak dirawat inap. Setelah mendapatkan penanganan awal dan peracikan obat dari puskesmas terdekat, ia memilih melakukan rawat jalan di rumah.

Kondisi Mulai Membaik dan Penanganan Korban Massal

Perjuangan Wini merawat ketiga anaknya perlahan membuahkan hasil positif. Memasuki Rabu (2/9/2026) siang, kondisi kesehatan seluruh buah hatinya dilaporkan sudah mulai membaik dan demam pada balitanya telah turun.

"Kini kondisi anak saya sudah mulai membaik. Sekarang masih mencret, tapi tidak seperah malam kemarin sewaktu baru berobat," kata Wini.

Pengalaman pahit yang dialami keluarga Wini ternyata juga dirasakan oleh puluhan tetangga di lingkungan tempat tinggalnya. Wilayah Jorong Mudiak Palupuh menjadi salah satu kantong pemukiman dengan jumlah korban terdampak yang sangat signifikan.

Wini menyebutkan, di sekitar area pemukimannya saja sudah ada puluhan tetangga yang mengalami gejala serupa akibat dugaan keracunan dari makanan program MBG tersebut. 

“Di dekat rumah juga banyak yang kena. Di jorong ini saja ada sekitar 48 orang yang kena," ungkapnya.

Ratusan Warga Terdampak dan Penghentian Dapur SPPG

Berdasarkan data terkini dari pihak Kecamatan Palupuh, total korban yang berjatuhan akibat dugaan keracunan makanan ini membengkak hingga mencapai 334 orang. Para korban tersebar di tiga nagari, yakni Nagari Nan Limo, Pasia Laweh, dan Nagari Koto Rantang.

Jumlah korban tidak hanya berasal dari kalangan siswa SD, TK, dan SMP, tetapi juga menyasar belasan guru sekolah, ibu menyusui, hingga anak balita. 

Korban yang mengalami gejala berat terpaksa dirujuk ke rumah sakit di Bukittinggi karena Fasilitas Puskesmas Palupuh mengalami overload.

Imbas dari peristiwa tragis ini, Pemerintah Kabupaten Agam bersama dinas terkait langsung mengambil langkah tegas. 

Dapur pengolah makanan yakni Yayasan Affa Adicitta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh resmi dihentikan operasionalnya untuk sementara waktu.

Dinas Kesehatan Kabupaten Agam bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kini tengah turun ke lokasi untuk mengambil sampel makanan guna melakukan investigasi mendalam. 

Hasil uji laboratorium diperkirakan baru akan keluar dalam kurun waktu satu minggu ke depan untuk memastikan penyebab pasti musibah ini.

(Tribun-Medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.