TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Lembaran sejarah salah satu infrastruktur paling ikonik di Kota Bandung, Jawa Barat resmi berakhir.
Setelah 51 tahun setia melayani jutaan perantau sejak diresmikan pada Agustus 1975, kompleks Terminal Tipe A Cicaheum kini ditutup secara permanen dan dialihfungsikan menjadi Depo Utama Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung.
Asal-Usul Nama dan Awal Pembangunan
Sebelum berdiri bangunan terminal di atas lahan seluas 1,1 hektare, kawasan ini merupakan area basah dan lembap.
Nama "Cicaheum" berasal dari bahasa Sunda, ci (air) dan caheum/cauheun, merujuk pada tanaman rumput perairan (Panicum repens) yang tumbuh subur di wilayah tersebut.
Baca juga: Depo BRT Dibangun, Angkot Cicaheum Dilarang Ngetem dan Dialihkan ke Akses Khusus
Terminal Cicaheum berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Gedung Sate.
Waktu tempuh berkendara (mobil atau sepeda motor) berkisar antara 15 hingga 20 menit dalam kondisi lalu lintas normal.
Pembangunan fisik Terminal Cicaheum dimulai pada 1974 untuk mengurai kepadatan Kota Bandung ke arah timur.
Terminal Cicaheum kemudian resmi diresmikan oleh Wali Kota Bandung R. Otje Djundjunan pada 23 Agustus 1975.
Gerbang Utama Perantau dan Fenomena Populer
Memasuki era 1980-an hingga 1990-an, Cicaheum mencapai puncak keemasannya sebagai gerbang utama kedatangan warga dari Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali.
Beroperasi 24 jam dengan puluhan Perusahaan Otobus (PO), hiruk-pikuk dan dinamika sosial di terminal ini bahkan menginspirasi lahirnya serial televisi populer Preman Pensiun.
Fase Kemunduran hingga Alih Fungsi Moderen
Popularitas terminal perlahan merosot memasuki dekade 2010-an akibat maraknya kendaraan pribadi dan travel point-to-point.
Angka penumpang yang sempat menembus 1 juta orang per tahun pada 2012 anjlok drastis menjadi kisaran 160 ribu penumpang pada 2023.
Kini, demi modernisasi transportasi massal yang ramah lingkungan, era bus konvensional Cicaheum resmi digantikan oleh armada bus listrik BRT.
Seluruh operasional bus AKAP/AKDP telah dipindahkan sepenuhnya ke Terminal Leuwipanjang, sementara angkutan kota (angkot) dan koridor Trans Metro Bandung (TMB) dialihkan melayani rute via Terminal Antapani.(*)