Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati resmi membuka ajang budaya Festival Danau Sentani (FDS) XV di Dermaga Kalkhote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Kamis (3/9/2026).
FDS XV yang dijadwalkan berlangsung hingga 5 September 2026 ini turut dihadiri Gubernur Papua Mathius Fakhiri, Bupati Jayapura Yunus Wonda, Duta Besar Seychelles Nico Barito, Anggota DPR RI Yan Mandenas, Anggota DPD RI Carel Suebu, Ketua Umum IKIA DPD RI, jajaran Forkopimda Provinsi Papua, para ondofolo (tokoh adat), ratusan siswa, serta masyarakat setempat.
Rangkaian acara hari pertama diawali dengan penampilan 50 penari yang membawakan Tari Yospan Kolosal.
Wamenpar Ni Luh Enik Ermawati dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial semata. Menurutnya, festival harus mampu memberikan manfaat nyata secara ekonomi maupun sosial bagi masyarakat dan para pelaku seni. Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menunjukkan bahwa budaya yang ditampilkan adalah milik mereka sebagai para penjaganya.
Baca juga: Atraksi Tari Perahu dan Kuliner Sagu Warnai Pembukaan Festival Danau Sentani XV di Papua
"Tokoh masyarakat dan pemerintah daerah perlu menghadirkan festival yang lebih masif lagi," ujar Wamenpar.
Kementerian Pariwisata kembali menghadirkan program Kharisma Event Nusantara (KEN). Dari ribuan acara di seluruh Indonesia, tahun ini telah dikurasi sebanyak 125 event.
"Selamat kepada Kabupaten Jayapura karena FDS kembali masuk dalam kalender KEN," lanjutnya.
Wamenpar menekankan pentingnya keterlibatan UMKM serta pelaku seni budaya daerah dalam agenda KEN agar perputaran ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat lokal.
Sebagai catatan, pada tahun 2025 program KEN mengkurasi 110 acara yang mencatatkan perputaran ekonomi mencapai Rp6 triliun dan mendatangkan 10 juta wisatawan, baik lokal, nasional, maupun mancanegara, serta melibatkan lebih dari 10 ribu pelaku usaha.
Baca juga: Jadwal Kapal Pelni KM Wilis Terbaru 4-10 September 2026, Cek Kapan Sandar di Kupang dan Makassar
Ke depan, Wamenpar berharap FDS dapat berjalan beriringan dan berkolaborasi dengan festival dari daerah lain, seperti Biak dan Kota Jayapura. Ia juga mendorong penerapan experience-based tourism, di mana wisatawan tidak hanya menonton, tetapi juga terlibat langsung dalam atraksi budaya, seperti belajar memasak papeda atau berdagang.
Sementara itu, Gubernur Papua Mathius Fakhiri menyampaikan bahwa FDS XV dilaksanakan setelah melalui rangkaian pra-event pada 25–29 Agustus, dengan puncak acara pada 3–5 September 2026. Gubernur mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Jayapura, masyarakat adat, pelaku seni, dan berbagai komunitas yang terlibat.
Fakhiri mengatakan Tema FDS 'Budayaku adalah Hidupku' menjadi pengingat identitas dan jati diri, sekaligus fondasi untuk membangun masa depan.
Baca juga: Tim Hukum Maniap Kogoya Desak Kemendagri Hentikan Proses Penerbitan SK Definitif Wakil Bupati Nduga
“Karena itu, FDS harus dimaknai sebagai ruang untuk mengenal dan mewariskan budaya. Tradisi masyarakat Sentani seperti Isosolo, panen ulat sagu, dan pangkur sagu, hingga cerita rakyat serta kuliner tradisional menunjukkan betapa kayanya budaya di Tanah Papua," tutur Mathius.
Gubernur juga menyambut baik kehadiran berbagai sanggar seni dan menegaskan bahwa festival ini menunjukkan Papua adalah rumah bersama. Berbagai pertunjukan serta keterlibatan UMKM dalam acara ini diharapkan dapat terus mendorong penguatan ekonomi masyarakat sesuai dengan visi dan misi Provinsi Papua.(*)