Wamenpar Ni Luh Kagumi Lukisan Kulit Kayu Karya Perempuan Kampung Asei Besar di Jayapura
Paul Manahara Tambunan September 03, 2026 05:29 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Usai membuka Festival Danau Sentani (FDS) XV, Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati mengikuti sejumlah rangkaian festival di Dermaga Kalkhote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (3/9/2026).

Ia menaiki perahu boat penari Isosolo, melihat proses pembuatan sagu serta ulat sagu, dan mengakhiri kunjungannya dengan menaiki kapal KM Foi Moi menuju Kampung Asei Besar untuk membeli kerajinan lukisan kulit kayu.

​Dalam kunjungan tersebut Wamenpar Ni Luh didampingi Gubernur Papua Mathius Fakhiri, Bupati Jayapura Yunus Wonda, anggota MRP Papua, Kepala Kampung Asei Besar.

Baca juga: Atraksi Tari Perahu dan Kuliner Sagu Warnai Pembukaan Festival Danau Sentani XV di Papua

Ni Luh mengungkapkan rasa kagumnya terhadap potensi wisata yang dimiliki Danau Sentani, khususnya seni lukis di atas kulit kayu.

Ia juga membeli sejumlah lukisan, tas ukiran, dan dompet sebagai buah tangan.

​"Saya berdiskusi dengan Gubernur mengenai penguatan desa-desa wisata kita, agar tidak hanya dikunjungi sejenak. Kita perlu menghadirkan atraksi berbasis pengalaman (experience-based), misalnya wisatawan bisa belajar tentang kearifan lokal di sini," ujarnya.

​Ia menambahkan bahwa Kemenpar siap berkolaborasi dan memberikan dukungan penuh karena pengembangan desa wisata menjadi salah satu program prioritas.

Penataan desa wisata tersebut nantinya akan dilakukan secara bersama-sama.

​Saat melihat banyaknya perajin dan pelukis perempuan di Kampung Asei Besar, Ni Luh mengaku sangat senang.

​"Saya senang sekali lukisan yang saya beli dilukis oleh perempuan dengan filosofi yang luar biasa. Kami di Kemenpar juga mendorong hadirnya desa wisata ramah perempuan, artinya ada keterlibatan aktif dari perempuan di desa wisata tersebut."

Baca juga: Festival Danau Sentani: Kerajinan Noken Karya Mama Tolikara Dilirik Pengunjung dan Gubernur Papua

"Kemarin saya juga sempat berbicara dengan Wamen PPPA yang ingin ke Papua, namun waktunya belum tepat," jelasnya.

​Menurutnya, perempuan perlu dilibatkan lebih jauh dalam pengelolaan desa wisata.

Saat ini, lebih dari 50 persen sektor pariwisata dikuasai oleh perempuan, sehingga mereka tidak boleh hanya menjadi penonton.

​"Saya pikir Gubernur memiliki perhatian yang sama dengan kita. Kita benar-benar ingin perempuan di desa wisata itu berdaya dan kuat. Sebab, dengan adanya perempuan yang mandiri secara ekonomi, kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut juga akan semakin meningkat," ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.