Update Jelang Kick Off Super League: APPI Ungkap 25 Kub Masih Punya Tunggakan Gaji: Total Rp 14.7 M
Hasiolan Eko P Gultom September 03, 2026 08:12 PM

Update Jelang Kick Off Super League: APPI Ungkap 25 Kub Masih Punya Tunggakan Gaji: Total Rp 14.7 Miliar

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kompetisi sepak bola Indonesia Super League 2026/2027 dan Championship 2026/2027 segera bergulir.

Super League 2026/2027 dijadwalkan bergulir pada 4 September sedangkan Liga 2 Championship 2026/2027 dimulai pada 11 September 2026.

Namun, di tengah optimisme menyambut musim baru, persoalan klasik terkait kesejahteraan pemain kembali mencuat.

Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) mengungkap masih adanya tunggakan gaji pemain yang dilakukan sejumlah klub.

Bahkan, nilai tunggakan tersebut masih mencapai sekitar Rp14,7 miliar.

Data terbaru itu disampaikan Legal Officer APPI, Muhammad Agus Riza Hufaida, dalam podcast bersama Tribun Network, Kamis (3/9/2026).

Sebelumnya, pada Senin (31/8/2026), Riza membeberkan terdapat 28 klub dengan 303 pemain yang masuk dalam catatan kasus tunggakan gaji APPI. Nilai keseluruhannya mencapai Rp14,8 miliar.

Pernyataan tersebut kemudian memunculkan berbagai reaksi.

Sejumlah klub merespons, termasuk dengan mulai membuka komunikasi dengan APPI dan menyatakan keinginan menyelesaikan kewajiban mereka.

Dampaknya, jumlah klub yang tercatat dalam data APPI berkurang menjadi 25 klub, dengan sekitar 300 pemain. Meski demikian, nilai tunggakan hanya turun tipis dari Rp14,8 miliar menjadi sekitar Rp14,7 miliar.

"Kurang dari 24 jam sudah ada banyak yang merespons dan berkeinginan untuk membayar. Meskipun mungkin dalam jumlah yang kecil, belum masif. Tapi dalam waktu kurang dari 24 jam, contohnya Semen Padang akhirnya komunikasi berjalan dan mereka membayar," ujar Riza.

Kasus Semen Padang pun dinyatakan telah selesai setelah klub tersebut memenuhi kewajibannya.

Sementara kasus Waanal Brothers FC juga telah diklarifikasi APPI dan dinyatakan bukan persoalan tunggakan gaji, melainkan kasus pemain yang telah diselesaikan.

Adapun untuk RANS, proses penyelesaian masih berjalan. APPI belum memasukkannya sebagai kasus yang telah tuntas karena belum mendapatkan bukti tertulis sebagai dasar penyelesaian.

Gaji Pemain Jadi Pekerjaan Rumah

Bagi APPI, persoalan tersebut menjadi catatan serius menjelang dimulainya kompetisi musim 2026/2027.

Sebab, persoalan tunggakan gaji dinilai bukan masalah baru dan terus berulang setiap musim.

Riza bahkan mempertanyakan narasi "Liga Naik Kelas" apabila persoalan mendasar seperti pembayaran gaji pemain belum mampu diselesaikan secara konsisten.

"Kita hargai optimismenya dalam konteks 'Liga Naik Kelas'. Makanya kalau saya membuat pernyataan, 'Liga Naik Kelas?' pakai tanda tanya," ucapnya.

"Masalah yang sangat standar. Soal gaji saja ternyata sampai sekarang belum tertangani dengan baik. Dibuktikan setiap tahun, setiap mulai musim kompetisi selalu ada masalah ini. Jumlahnya bahkan tidak berkurang, stagnan dan bahkan cenderung bertambah,” terangnya.

Menurut Riza, gaji bukan sekadar kewajiban administratif klub kepada pemain. Pembayaran tersebut merupakan hak atas pekerjaan yang telah dilakukan pemain.

"Gaji ini adalah bentuk dari kerja keras pemain. Kerja keras yang memang menjadi pekerjaan mereka. Sehingga ketika keringatnya sudah kering, seharusnya sudah dibayar," tegas Riza.

Ia juga menyoroti sejumlah kasus lama yang menunjukkan bahwa persoalan tunggakan gaji dapat berlangsung bertahun-tahun.

Salah satunya kasus Gresik United pada 2017-2018 yang baru dapat dilunasi pada 2023-2024.

Selain itu, masih terdapat kasus yang melibatkan Kalteng Putra dan Persiwa Wamena.

Kondisi tersebut menjadi alasan APPI meminta persoalan pembayaran gaji tidak sekadar dipandang sebagai masalah yang menunggu proses hukum atau putusan.

"Soal gaji ini jangan hanya berbicara normatif. Artinya, misalnya, 'Oh, kita menunggu putusan.' Kita menunggu. Tidak seperti itu. Ini hak pemain. Hak ini sampai kapan pun menjadi hak pemain," jelasnya.

Bukan Hanya Tunggakan Musim 2025/2026

Riza memastikan angka Rp14,7 miliar yang dicatat APPI bukan hanya tunggakan gaji dari satu musim kompetisi terakhir.

Data tersebut merupakan akumulasi berbagai kasus yang ditangani APPI, termasuk perkara yang telah berlangsung selama beberapa musim.

Salah satu contohnya adalah Sriwijaya FC. APPI mencermati kasus klub tersebut karena persoalannya telah berlarut-larut sejak musim 2023 dan berlanjut hingga 2026.

"Ini total kasus yang ada di APPI. Bukan hanya musim kemarin," kata Riza.

Kasus serupa bahkan masih ditemukan dari periode yang jauh lebih lama. Riza mencontohkan Persiwa Wamena yang memiliki perkara sejak musim 2015-2016.

Salah satu kasus yang masih tercatat berkaitan dengan pemain bernama Etogo.

Hingga kini, perkara tersebut belum sepenuhnya selesai karena klub belum melaksanakan putusan National Dispute Resolution Chamber (NDRC).

"Masih ada sampai sekarang karena klubnya belum melaksanakan putusan NDRC. Nilainya sekitar Rp112 juta. Jadi sampai kapan pun itu akan tetap tercatat sampai diselesaikan," pungkas Riza.

 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.