BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu tantangan bagi Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Mandala di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
BPK yang bermarkas di Jalan Anang Acil Syofyan, Kelurahan Rantau Kanan, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin, itu selama ini harus membeli BBM secara eceran untuk menunjang operasional armadanya.
Kondisi tersebut terjadi setelah penerapan barcode bagi pembelian BBM bersubsidi, termasuk Biosolar dan Pertalite, di sejumlah SPBU.
Padahal, sebelumnya armada BPK Mandala dapat mengisi BBM di SPBU milik Pertamina di Kelurahan Bitahan, Kecamatan Lokpaikat.
Irsan, salah satu anggota BPK Mandala, mengatakan rata-rata unit kendaraan yang dimiliki pihaknya belum memiliki barcode untuk pembelian BBM bersubsidi.
"Kami rata-rata tidak memiliki barcode," ujar Irsan.
BPK Mandala saat ini memiliki tiga unit armada, yakni satu mobil tangki berkapasitas sekitar 4.500 liter dan dua unit pikap.
Untuk memenuhi kebutuhan BBM, seluruhnya dibeli secara swadaya.
Beruntung, BPK Mandala memiliki donatur tetap yang selama ini membantu biaya operasional armada maupun mesin pompa sedot portabel.
Namun, kebutuhan BBM untuk mesin pompa sedot juga menjadi persoalan tersendiri.
Baca juga: Banjarmasin Rebut Dominasi Kejurprov Anggar Kalsel 2026, Regenerasi Jadi Kunci
Mesin pompa tersebut menggunakan Pertalite yang juga dibeli secara eceran. Harga yang harus dikeluarkan tentunya lebih tinggi dibandingkan apabila dapat membeli langsung di SPBU.
"Untuk operasional kami membeli BBM secara eceran," katanya.
Puluhan Tahun Mengabdi, Masih Andalkan Mesin Lama
Di tengah keterbatasan tersebut, BPK Mandala tetap berupaya menjalankan tugas sosialnya membantu masyarakat ketika terjadi kebakaran.
BPK Mandala yang telah puluhan tahun eksis di Kabupaten Tapin hingga kini masih mengandalkan mesin pompa sedot portabel yang sudah lama digunakan.
Irsan mengatakan selama ini pihaknya juga belum pernah menerima bantuan mesin pompa sedot dari pemerintah.
Kondisi mesin yang sudah berumur tersebut membuat kebutuhan perawatan dan perlengkapan pendukung semakin besar.
Salah satunya selang pemadam yang kondisinya mulai banyak mengalami kebocoran karena terlalu lama digunakan.
Untuk mengganti selang pun tidak murah.
"Satu selang dengan panjang 20 meter itu harganya Rp2,5 juta. Kalau beli dua rol selang harganya Rp5 juta. Itu sama dengan membeli satu mesin pompa sedot," kata Irsan.
Kondisi tersebut menjadi dilema bagi BPK Mandala.
Di satu sisi mereka harus memastikan armada dan mesin pompa selalu siap digunakan ketika sewaktu-waktu masyarakat membutuhkan pertolongan.
Di sisi lain, kebutuhan operasional seperti BBM, selang hingga perawatan mesin harus dipenuhi secara swadaya dengan dukungan donatur.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para anggota BPK Mandala.
Mereka tetap berjibaku membantu masyarakat ketika terjadi kebakaran, dengan mengandalkan armada dan peralatan yang tersedia. (Banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)