TRIBUNNEWSMAKER.COM - Polemik antara Ruben Onsu dan Sarwendah masih berlanjut di tengah proses gugatan hak asuh anak yang tengah berjalan di pengadilan.
Sejumlah persoalan kembali menjadi sorotan, mulai dari isu kesehatan, biaya kebutuhan dan pendidikan anak, perbaikan materi gugatan, hingga ketidakhadiran Ruben dalam persidangan.
Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, turut memberikan penjelasan mengenai berbagai isu yang berkembang di publik.
Salah satunya terkait isu penyakit menular yang kembali mencuat setelah Sarwendah memperlihatkan hasil pemeriksaan kesehatannya dengan keterangan nonreaktif.
Minola mempertanyakan alasan hasil pemeriksaan kesehatan tersebut masih dipersoalkan oleh sejumlah pihak.
Ia mengatakan, hasil pemeriksaan Ruben maupun Sarwendah sama-sama menunjukkan keterangan nonreaktif.
"Jadi untuk penguatan-penguatan hal tersebut belum lagi mengenai masalah biaya-biaya yang perlu dipertanggungjawabkan," ujar Minola.
Menurutnya, masyarakat sebelumnya mempermasalahkan hasil tes Ruben yang disebut nonreaktif karena menganggap hasil yang seharusnya muncul adalah negatif.
"Karena sebagian netizen, sebagian masyarakat mungkin berasumsi hasilnya itu harusnya negatif. Nah, makanya saya challenge mereka untuk menunjukkan hasil tesnya kalau memang mereka juga tes. Apakah hasil tes mereka itu menyebutkan hasil rujukannya itu negatif? Ternyata kan juga nonreaktif nih," katanya.
Minola menegaskan, persoalan hasil pemeriksaan kesehatan tersebut tidak memiliki hubungan dengan materi gugatan yang diajukan Ruben.
"Artinya apa bedanya? Sama-sama nonreaktif kok jadi persoalan gitu loh," ujarnya.
Baca juga: Hak Asuh Anak Masih Bergulir, Ruben Onsu & Sarwendah Sidang Lanjutan 9 September, Ini Agendanya
Ia juga meminta agar persoalan kesehatan yang dinilai sensitif tidak terus dibicarakan di ruang publik karena dikhawatirkan dapat berdampak terhadap anak-anak.
Menurut Minola, pembahasan mengenai kondisi kesehatan orang tua secara terbuka dapat menimbulkan berbagai asumsi yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi kepentingan anak.
"Dan kenapa kok hobi sekali bicara tentang penyakit yang sensitif?" kata Minola.
Selain isu kesehatan, persoalan biaya pemeliharaan dan pendidikan anak juga menjadi bagian yang diperdebatkan kedua belah pihak.
Sebelumnya, Sarwendah menjelaskan bahwa dirinya menggunakan sistem reimbursement untuk memenuhi kebutuhan anak. Dalam mekanisme tersebut, ia terlebih dahulu mengeluarkan uang pribadi untuk berbagai keperluan anak, kemudian mengajukannya kepada Ruben untuk diganti.
Namun, pihak Ruben mempertanyakan rincian biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan anak-anak mereka.
Minola mengatakan pihaknya ingin mengetahui secara jelas berapa biaya tetap yang harus dikeluarkan setiap bulan untuk kebutuhan anak.
"Kita tunggu ya di dalam pembuktian nanti itu kan tergugat kan harus membuktikan apakah benar-benar biaya pemeliharaan dan biaya pendidikan anak-anak itu mencapai nilai yang Rp200 juta lebih kurang itu ya," ujar Minola.
Ia menyebut nominal tersebut perlu dibuktikan melalui pengeluaran yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Karena kalau misalnya biaya pendidikan dan pemeliharaan anak kan harusnya kan rutin dan harusnya kan itu fixed cost tiap bulannya ya," katanya.
Minola mengaku pihaknya hingga kini belum mendapatkan angka pasti mengenai kebutuhan anak setiap bulan.
"Kita juga bertanya untuk mengetahui berapa biaya anak-anak yang harus kami transfer setiap bulannya. Karena mereka belum memberikan informasi delapan bulan ini tentang berapa fix cost anak-anak ini," ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga meminta agar setiap pengeluaran dapat dibuktikan memang digunakan untuk kepentingan anak.
"Kita enggak tahu juga harus transfernya berapa karena tidak pernah ada angka yang pasti dan yang jelas," kata Minola.
Sementara itu, dari pihak Sarwendah, sistem reimbursement tersebut dinilai sudah berjalan. Setiap pengeluaran yang diajukan disebut telah dibaca dan kemudian dibayarkan oleh pihak Ruben.
(Tribunnewsmaker.com/ Listusista)