TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Seorang warga Mamuju Alwi curhat, beasiswa anak menjadi terancam akibat desis berubah dari tiga menjadi 8 secara tiba-tiba.
Desil merupakan daftar pengelompokan tingkat kesejahteraan keluarga yang diukut berdasarkan variabel sosial ekonomi.
Variabel yang dimaksud seperti kondisi individu, tempat tinggal, dan kepemilikan aset.
Ada 10 tingkatan desis dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Mulai dari desis 1 sangat miskin dengan tingkat penghasilan di bawah Rp800 ribu per bulan.
Baca juga: Komisi IV DPRD Sulbar Dorong Validasi Data Desil Agar Masyarakat Menerima Bansos Secara Adil
Sementara desis 10 merupakan kelompok masyarakat dengan tingkat penghasilan lebih dari Rp 20 juta per bulan.
Desil 10 merupakan kategori kelompok sosial ekonomi super kaya.
Alwi warga Sumare, hanya bekerja sebagai penjaga pos pengamanan di kantor Bupati Mamuju.
Ia mengaku heran karena desil keluarganya yang sebelumnya berada pada kategori tiga, kini tiba-tiba berubah menjadi desil delapan.
Perubahan data tersebut dikeluhkan karena dinilai tidak sesuai dengan kondisi ekonomi keluarganya.
Alwi mengatakan, ia memiliki empat orang anak, salah satunya sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Ia mengaku penghasilannya pun sekitar Rp.700 per bulan.
Ia bukan PPPK dan tidak memiliki kendaraan roda 4.
Pada DTSEN, ia adalah kelompok masyarakat dengan rata-rata pengasilan Rp 800 hingga Rp 1 juta.
Tiba-tiba status desilnya berubah menjadi kelompok dengan kesejahteraan lebih tinggi.
Ia mengaku khawatir dengan perubahan desil tersebut.
Karena akan berdampak terhadap peluang anaknya mendapatkan bantuan pendidikan atau beasiswa.
"Kemarin masih desil tiga, tapi sekarang tiba-tiba menjadi desil delapan," kata Alwi saat ditemui di pos satpan Kantor bupati Mamuju, jl. Soekarno Hatta
Ia mengaku hingga kini belum mengetahui penyebab perubahan kategori desil tersebut.
Menurut Alwi, keluhan serupa juga disampaikan sejumlah warga di wilayah Sumare.
Alwi menilai perubahan tersebut tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sebagian masyarakat.
Ia mengatakan, banyak warga di Sumare yang bekerja sebagai petani dengan penghasilan terbatas, namun mengalami kenaikan kategori desil tinggi.
Menurutnya, persoalan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua yang memiliki anak dan sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi
Pasalnya, kategori desil dapat menjadi salah satu faktor dalam proses penerimaan sejumlah program bantuan pendidikan yang mereka harapkan.
Terlebih, sebagian orang tua berharap bantuan atau beasiswa dapat membantu biaya kuliah anak mereka.
Menurut Alwi, perubahan data desil yang tidak sesuai kondisi masyarakat perlu mendapat perhatian pemerintah dan dilakukan pengecekan kembali.
Alwi berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi terhadap data kesejahteraan masyarakat agar kategori desil yang tercatat benar-benar sesuai dengan kondisi ekonomi warga.
Ia juga berharap masyarakat yang merasa data desilnya tidak sesuai dapat memperoleh solusi agar tidak menimbulkan dampak terhadap akses pendidikan dan program bantuan lainnya.(*)
Laporan wartawan tribun-sulbar.com Baiq Sukma Widiawati