Sedih..., Orang Utan Sempurna yang Sesak Napas di Tengah Karhutla Akhirnya Mati
GH News September 04, 2026 05:09 PM
Jakarta -

Seekor orang utan jantan dewasa bernama Sempurna mati dengan dugaan terdampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebelumnya, dia ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar).

Sempurna ditemukan warga di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 07.00 WIB.

Kepala Balai KSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, menyampaikan duka cita atas kematian Sempurna. Dia juga mengapresiasi warga yang telah melaporkan keberadaan orangutan tersebut sehingga dapat segera ditangani.

"Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa," kata Murlan dalam keterangan yang diterima detikKalimantan, Kamis (3/9/2026) malam dikutip dari detikKalimantan.

Saat ditemukan, orang utan tersebut berada di dalam parit kering di area perkebunan kelapa sawit milik warga. Kondisinya sangat lemah hingga tidak mampu berdiri dan hanya dapat bergerak secara terbatas.

"Sempurna juga mengalami kesulitan bernapas," ujar Murlan.

Masyarakat kemudian melaporkan temuan tersebut kepada petugas. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) langsung melakukan evakuasi.

Tim memberikan pertolongan pertama berupa terapi oksigen dan cairan melalui intravena sebelum membawa Sempurna ke pusat rehabilitasi YIARI sekitar pukul 11.30 WIB.

Namun, kondisi Sempurna terus memburuk. Sekitar pukul 14.00 WIB, napas Sempurna semakin dangkal. Saturasi oksigennya juga tidak terdeteksi. Tim kemudian melakukan resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR).

"Upaya penyelamatan tersebut tidak berhasil. Sempurna dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB," ujar Murlan.

Untuk mengetahui kondisi kesehatan sekaligus faktor yang diduga menyebabkan kematian, BKSDA bersama tim melakukan nekropsi pada 1 September 2026. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya perubahan patologis pada sejumlah organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal.

Pada paru-paru ditemukan kongesti dan atelektasis parsial, terutama pada bagian kaudoventral kedua lobus paru-paru. Berdasarkan riwayat kondisi klinis dan hasil pemeriksaan tersebut, perubahan pada paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap yang berpotensi mengganggu fungsi paru-paru.

Kondisi tersebut kemudian diduga menyebabkan hipoksia akut, yakni kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen. Gangguan tersebut selanjutnya diduga berkontribusi terhadap gangguan fungsi kardiovaskular hingga menyebabkan kematian Sempurna.

"Pemeriksaan lebih lanjut juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya," kata dia.

Murlan mengatakan, laporan masyarakat menjadi bagian penting dalam penyelamatan satwa liar, terutama ketika satwa ditemukan sakit, terluka, atau terdampak karhutla.

"Peran masyarakat sangat penting. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas," ujarnya.

BKSDA Kalbar juga mengingatkan masyarakat tidak menangani sendiri satwa liar yang ditemukan dalam kondisi sakit, terluka, maupun terdampak karhutla. Warga diminta segera menghubungi petugas agar satwa dapat memperoleh penanganan yang tepat.

"Untuk wilayah Kabupaten Ketapang, laporan dapat disampaikan melalui Call Center BKSDA Kalbar di 0811-576-767atau 0811-567-0041," dia menyampaikan imbauan.

Saksikan Live DetikSore:
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.