TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Komisi V DPRD Riau mendorong pembangunan gedung nuklir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad menjadi salah satu kegiatan prioritas.
Pembangunan gedung tersebut dinilai penting untuk menunjang keberadaan peralatan kesehatan yang berasal dari pemerintah pusat.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi V DPRD Riau, Indra Gunawan Eet, usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Kesehatan dan RSUD Arifin Achmad di DPRD Riau, Jumat (4/9/2026).
Eet mengatakan, saat ini sejumlah kegiatan di RSUD Arifin Achmad didanai melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), termasuk berbagai kegiatan penunjang pelayanan rumah sakit.
Ia menyebutkan, pendapatan RSUD Arifin Achmad menunjukkan capaian yang cukup baik.
Bahkan, hingga caturwulan ketiga, pendapatan rumah sakit tersebut telah mencapai sekitar Rp79 miliar.
"Dan Alhamdulillah juga, capaian pendapatan RSUD Arifin Achmad ini juga melebihi target, bahkan hingga catur wulan tiga ini sudah sampai Rp79 miliar," ujar Eet.
Menurut Eet, capaian pendapatan tersebut salah satunya dapat dimanfaatkan untuk mendukung program pembangunan gedung nuklir yang dibutuhkan RSUD Arifin Achmad.
Ia menjelaskan, pembangunan gedung nuklir diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp16 miliar. Namun, kondisi efisiensi anggaran membuat kebutuhan tersebut cukup sulit untuk direalisasikan.
Eet mengingatkan, keberadaan gedung penunjang menjadi salah satu syarat penting agar RSUD Arifin Achmad dapat menerima bantuan peralatan kesehatan dari pemerintah pusat.
Ia mencontohkan pada 2025, RSUD Arifin Achmad tidak mendapatkan bantuan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Dinas Kesehatan dengan nilai sekitar Rp10 miliar lebih karena belum tersedianya gedung penunjang.
Baca juga: DPRD Riau Dorong Segera Pembentukan Perda Penanggulangan LGBT
"Karena tidak adanya gedung penunjang ini, alat-alat bantuan dari pusat dipending. Contoh tahun 2025 kan kita tidak dapat bantuan dari kegiatan DAK Dinas Kesehatan untuk RSUD Arifin Achmad sekitar Rp10 miliar lebih karena gedung penunjang tidak ada," katanya.
Karena itu, Eet meminta pemerintah tidak sembarangan mencoret program yang dinilai memiliki tingkat urgensi tinggi.
Menurutnya, pembangunan gedung nuklir harus menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan peluang mendapatkan bantuan peralatan dari pemerintah pusat.
"Kami minta kepada beberapa rumah sakit untuk mengutamakan kegiatan-kegiatan yang lebih prioritas. Tapi saya rasa gedung nuklir ini memang prioritas, karena bantuan dari pusat ini sudah dua tahun dia drop. Jangan sampai tahun 2027 di-drop lagi,"ujar engah sapaan akrabnya.
(Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution)