TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau belum selesai meski api di sejumlah lokasi sebelumnya sempat berhasil dipadamkan.
Kebakaran justru kembali berkobar di Sungai Guntung Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), dan Pematang Pudu, Kabupaten Bengkalis, sehingga helikopter water bombing kembali dikerahkan.
Di Sungai Guntung Hilir, api yang sebelumnya sudah padam kembali muncul dan membakar lahan.
Situasi serupa terjadi di Pematang Pudu. Lokasi tersebut sebelumnya juga telah padam dan hanya menyisakan asap tipis di bekas areal terbakar. Namun api kembali berkobar sehingga petugas harus kembali melakukan pemadaman.
Kepala BPBD dan Damkar Provinsi Riau Edy Afrizal mengatakan operasi water bombing kembali difokuskan ke sejumlah lokasi yang membutuhkan penanganan dari udara.
“Hari ini water bombing kita fokuskan ke Rantau Mempesai dan Sungai Guntung Hilir di Inhu. Sungai Guntung Hilir sebelumnya sudah sempat padam, tapi ternyata api muncul lagi,” kata Edy, Jum'at (4/9/2026).
Tidak hanya Inhu, helikopter water bombing juga dikerahkan ke Kabupaten Bengkalis. Pemadaman dari udara dilakukan di kawasan Pinggir dan Pematang Pudu.
Baca juga: Warga Pekanbaru Terdampak ISPA Sudah 706 Kasus, Begini Imbauan DPRD ke Pemerintah dan Masyarakat
Baca juga: Indonesia Didemo di Malaysia, Warga Negeri Jiran Tuntut Penyelesaian Kabut Asap Kalimantan
Pematang Pudu menjadi perhatian karena sebelumnya kondisi kebakaran di lokasi tersebut sudah mereda. Api telah padam dan petugas hanya menemukan asap tipis dari bekas lahan yang terbakar. Kondisi itu ternyata belum sepenuhnya aman.
“Di Pematang Pudu sebelumnya juga sudah padam. Tinggal asap tipis saja di bekas lokasi yang terbakar. Tapi sekarang apinya berkobar lagi, jadi harus kita tangani kembali,” ujar Edy.
Munculnya kembali api membuat proses penanganan harus dilanjutkan. Pemadaman tidak hanya mengandalkan personel di darat, tetapi kembali diperkuat melalui udara.
Di tengah penanganan kebakaran yang kembali berkobar di Inhu dan Bengkalis, petugas juga menghadapi titik api baru di wilayah lainnya.
Titik api terdeteksi di Desa Gemala Sari, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Tim pemadam telah bergerak melakukan penanganan agar kebakaran di lokasi tersebut tidak meluas.
Dengan kondisi itu, pada saat bersamaan petugas harus menangani kebakaran di beberapa wilayah. Sebagian merupakan lokasi lama yang kembali terbakar, sementara di Meranti muncul titik baru yang membutuhkan penanganan.
Menurut Edy, operasi udara bukan untuk menggantikan pemadaman dari darat. Helikopter water bombing digunakan untuk memperkuat kerja personel gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Manggala Agni dan BPBD.
“Tim darat tetap bekerja. Water bombing ini kita gunakan untuk membantu mereka, terutama di lokasi yang memang sulit ditangani hanya dari darat,” jelasnya.
Kondisi medan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi yang mendapat dukungan pemadaman udara.
Helikopter terutama diarahkan menuju kawasan yang sulit dijangkau petugas serta lokasi kebakaran yang berada jauh dari sumber air.
“Kalau aksesnya sulit dijangkau tim darat atau lokasinya jauh dari sumber air, water bombing kita arahkan ke sana supaya penanganannya lebih maksimal,” kata Edy. (Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)