Klaim AS Soal Selat Hormuz Bikin Bingung, Data Kapal Justru Tunjukkan Fakta Berbeda
Amirullah September 04, 2026 06:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Perbedaan klaim antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali muncul terkait kondisi Selat Hormuz.

Perselisihan kali ini menyangkut jumlah kapal dan minyak yang masih dapat melewati jalur strategis di Teluk Persia tersebut.

Pemerintah AS menyatakan lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai meningkat dan puluhan kapal telah berhasil melintasi jalur tersebut dengan pengawalan militer.

Namun, data dari sejumlah perusahaan pemantau lalu lintas kapal justru menunjukkan jumlah kapal yang melintas jauh lebih sedikit.

Dikutip Serambinews.com melalui Aljazeera, Jumat (4/9/2026), perbedaan data tersebut membuat klaim mengenai siapa yang sebenarnya mengendalikan Selat Hormuz semakin sulit dipastikan.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia.

Sebelum perang AS-Israel dengan Iran dimulai sekitar enam bulan lalu, sekitar 100 kapal dan 20 juta barel minyak diperkirakan melewati selat tersebut setiap hari.

Namun, aktivitas pelayaran turun tajam sejak konflik berlangsung.

Baca juga: Donald Trump Pertimbangkan Akhiri Konflik Iran, tapi Pentagon Malah Siapkan Pasukan Tempur

AS Klaim Puluhan Kapal Lewati Selat Hormuz

Pemerintah AS mengatakan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz telah meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Dua pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa sekitar 40 kapal komersial yang membawa sekitar 18 juta barel minyak berhasil melewati selat pada Selasa (1/9/2026).

Kapal-kapal tersebut disebut melintas dengan pengawalan militer AS.

Jika angka tersebut benar, jumlah itu menjadi salah satu yang tertinggi sejak perang dimulai.

Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan angka yang hampir sama.

Trump mengatakan Angkatan Laut AS membantu sekitar 30 kapal melewati Selat Hormuz setiap malam.

Ia bahkan menyatakan jalur strategis tersebut berada di bawah kendali AS.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengatakan setidaknya 10 juta barel minyak berhasil melewati Selat Hormuz setiap hari.

Menurut Bessent, jumlahnya bahkan mencapai sekitar 15 juta hingga 17 juta barel pada Senin (31/8/2026).

Baca juga: Trump Sentil Inggris soal Perang Iran, Kini Ragukan Kemampuan Pertahankan Falkland

Data Pelacakan Kapal Justru Berbeda

Klaim tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan data dari perusahaan analisis maritim.

Menurut Kpler, hanya enam kapal yang tercatat melintasi Selat Hormuz pada Rabu (2/9/2026).

Pada Selasa tercatat 11 kapal, sedangkan pada Senin hanya lima kapal.

Dalam 10 hari terakhir, rata-rata jumlah kapal yang tercatat melintasi selat tersebut hanya sekitar 13 kapal per hari.

Angka tersebut jauh di bawah klaim AS yang menyebut 40 kapal komersial melintas pada Selasa.

Layanan pemantauan lainnya juga menunjukkan pola serupa.

Lloyd's List Intelligence mencatat rata-rata sekitar 12 transit kapal per hari pada periode 26 Agustus hingga 1 September.

Namun, perusahaan tersebut mengingatkan bahwa data terbaru kemungkinan belum sepenuhnya lengkap.

Hal itu terjadi karena sejumlah kapal diduga mematikan sistem identifikasi otomatis atau AIS sehingga keberadaannya sulit dilacak secara langsung.

Sebelum Perang, 20 Juta Barel Minyak Lewat Setiap Hari

Besarnya perbedaan angka tersebut menjadi penting karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia.

Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak diperkirakan melewati selat tersebut setiap hari.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia dalam kondisi normal.

Namun, sejak perang dimulai, aktivitas pelayaran mengalami penurunan tajam.

Data PortWatch menunjukkan jumlah kapal yang melewati selat tersebut turun menjadi rata-rata sekitar tujuh kapal per hari sejak Maret.

Situasi tersebut berdampak langsung terhadap perdagangan energi global.

Gangguan di Selat Hormuz dapat memengaruhi pasokan minyak dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga energi di berbagai negara.

Iran Tetap Klaim Menguasai Selat Hormuz

Iran memiliki versi berbeda mengenai situasi di Selat Hormuz.

Teheran mengakui sejumlah kapal masih dapat melewati jalur tersebut.

Namun, Iran menegaskan bahwa mereka tetap mengendalikan akses ke selat dan hanya mengizinkan kapal tertentu untuk melintas.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan sejumlah kapal memang berhasil dibawa melewati selat.

Namun, menurutnya, hal tersebut tidak berarti Iran kehilangan kendali.

Ghalibaf juga menuduh AS memberikan jaminan kepada kapal-kapal komersial bahwa mereka dapat melewati jalur tertentu di Selat Hormuz.

Iran memperingatkan kapal lain yang mencoba melintasi jalur tanpa izin dapat menghadapi risiko serangan.

Sehari setelah pernyataan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengatakan dua kapal tanker minyak mengalami kerusakan setelah menabrak ranjau ketika mencoba melewati jalur yang disebut Iran sebagai jalur ilegal.

Arab Saudi juga melaporkan bahwa sebuah kapal tanker minyak mereka terkena serangan Iran.

Dua pelaut asal Filipina dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.

Mengapa Data AS dan Pelacak Kapal Berbeda?

Perbedaan angka antara AS dan perusahaan pelacak kapal belum dapat dijelaskan secara pasti.

Direktur Intelijen dan Penelitian Maritim Lloyd's List Intelligence Bridget Diakun mengatakan sulit mengetahui penyebab kesenjangan tersebut tanpa mengetahui metode yang digunakan AS dalam menghitung jumlah kapal.

Salah satu kemungkinan adalah AS menghitung lebih banyak jenis kapal.

Perusahaan pelacak seperti Lloyd's umumnya memiliki kriteria tertentu dan dapat menyaring kapal berdasarkan ukuran maupun jenis muatan.

Sementara itu, perhitungan operasional militer AS kemungkinan mencakup kapal yang berada di bawah atau dekat pengawalan Angkatan Laut AS.

Jenis kapal tersebut dapat mencakup kapal pendukung, kapal tunda, kapal kecil, hingga kapal tradisional seperti dhow.

Dengan metode tersebut, jumlah kapal yang dihitung AS bisa lebih besar dibandingkan jumlah kapal komersial yang tercatat dalam sistem perusahaan pelacak.

Ada Kapal yang Sengaja Mematikan Pelacak

Faktor lainnya adalah keberadaan kapal yang tidak terdeteksi oleh sistem AIS.

AIS merupakan sistem yang digunakan kapal untuk mengirimkan informasi mengenai posisi, identitas, arah, dan kecepatan kapal.

Namun, kapal dapat mematikan transponder AIS.

Dalam kondisi seperti itu, kapal menjadi lebih sulit dilacak melalui sistem pemantauan biasa.

Eirik Hooper dari konsultan riset maritim Drewry mengatakan sebagian besar penyeberangan Selat Hormuz pada akhir Agustus dikategorikan sebagai "gelap" atau tidak diketahui rutenya.

Menurutnya, data AIS juga dapat mengalami perubahan setelah pergerakan kapal berhasil dikonfirmasi melalui sumber lain.

Militer AS memiliki akses terhadap sumber informasi yang lebih luas, termasuk satelit, pengamatan udara, sensor lain, serta data mengenai kapal yang berada dalam konvoi.

Karena itu, ada kemungkinan Washington mengetahui keberadaan kapal yang tidak terlihat dalam data pelacakan publik.

Selat Hormuz Jadi Perebutan Pengaruh

Perebutan klaim mengenai Selat Hormuz tidak hanya berkaitan dengan jumlah kapal.

Selat tersebut juga menjadi simbol kekuatan dan pengaruh kedua pihak dalam konflik yang telah berlangsung selama enam bulan.

AS ingin menunjukkan bahwa jalur tersebut masih dapat digunakan dan bahwa militernya mampu mengawal kapal melewati kawasan tersebut.

Sebaliknya, Iran ingin menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk mengatur akses dan mengancam kapal yang melintas tanpa izin.

Pusat Informasi Maritim Gabungan atau JMIC menyatakan lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal.

Meski terjadi peningkatan dibandingkan titik terendah sebelumnya, JMIC tetap menetapkan tingkat risiko di selat tersebut pada level "parah".

Salah satu risiko yang masih menjadi perhatian adalah kemungkinan adanya ranjau laut yang hanyut atau belum terpetakan.

Hal tersebut berbeda dengan klaim komandan CENTCOM AS Brad Cooper yang sebelumnya mengatakan militer AS telah membersihkan jalur transit Selat Hormuz dari ranjau.

Mantan Duta Besar AS Henry Ensher menilai klaim mengenai pembersihan ranjau tersebut kemungkinan ikut memicu siklus konfrontasi terbaru.

Menurutnya, AS dan Iran sebaiknya mengurangi pernyataan yang dapat semakin meningkatkan ketegangan.

Dengan kondisi tersebut, angka pasti mengenai jumlah kapal dan minyak yang melewati Selat Hormuz masih menjadi perdebatan.

Namun, data pelacakan kapal menunjukkan satu hal yang cukup jelas, yakni aktivitas pelayaran masih jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum perang.

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.