TRIBUNJAMBI.COM – Gelombang dugaan keracunan massal usai menyantap Makanan Bergizi Gratis atau MBG merebak secara beruntun di berbagai penjuru daerah dalam kurun waktu tiga hari terakhir.
Ratusan siswa hingga puluhan guru dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit setelah mengeluhkan mual, diare, hingga muntah usai mengonsumsi jatah makanan program tersebut.
Insiden yang menyasar sekolah-sekolah di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, hingga Jawa Timur ini memicu keprihatinan mendalam dan evaluasi total dari pemerintah.
Gejala Masif di SMAN 1 Lasem Rembang
Kasus dengan jumlah terdampak cukup besar melanda SMA Negeri 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Gejala keracunan terdeteksi secara masif saat proses belajar mengajar hendak dimulai.
Berdasarkan pendataan on the spot di tiap ruang kelas, tercatat sebanyak 725 murid dan 25 guru diduga kuat mengalami keracunan.
Sebanyak 17 orang (12 siswa dan 5 guru) harus dilarikan ke IGD puskesmas untuk penanganan dehidrasi dan pemberian cairan medis.
Akibat peristiwa mendadak ini, kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMAN 1 Lasem terpaksa dihentikan lebih awal.
Ratusan Pelajar di Tana Toraja Dilarikan ke RS
Di Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, suasana mencekam juga terjadi ketika 152 pelajar dan 20 guru dari tingkat SMP mendadak lemas, mual, hingga muntah usai menyantap santapan MBG.
Para korban langsung disebar ke sejumlah rumah sakit, termasuk RSUD Lakipada, guna mendapatkan penanganan darurat.
Baca juga: Ratusan Santri Sidoarjo Diduga Keracunan MBG, Dapur SPPG Kalitengah Di-Suspend
Baca juga: Dokter Tifa Respon Dakwaan Baru di Kasus Ijazah Jokowi: Yakin Kriminalisasi
Pemerintah Kabupaten Tana Toraja menegaskan fokus utama saat ini adalah memastikan pemulihan kesehatan para siswa dan guru, sembari berkoordinasi melakukan penyelidikan penyebab pasti kontaminasi.
Menu Udang dan Sayur Buat Siswa Melilit
Sementara itu di Jawa Timur, sebanyak 70 siswa SMP Negeri 1 Kabuh, Kabupaten Jombang, mengeluhkan sakit perut melilit yang hebat, muntah, serta diare usai mengonsumsi menu MBG berupa olahan udang dan sayuran.
Sebanyak 7 siswa (6 siswi dan 1 siswa) harus dirawat intensif di puskesmas dengan penanganan infus karena tidak mampu menahan rasa nyeri perut yang terjadi secara terus-menerus.
Menanggapi rentetan kasus yang juga sempat menembus angka 664 korban di Sidoarjo, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan permohonan maaf terbuka dan meluapkan kemarahannya atas kelalaian petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sudaryono menyoroti pelanggaran petunjuk teknis terkait label jam memasak dan batas maksimal waktu konsumsi pada wadah makanan (omprang).
"Omprangmu kau kasih jam 10.00 tapi kemudian kau kasih jam 11.00 lebih dan dimakan di atas jam 12.00. Nah jadi Anda ini berarti ini adalah kelalaian yang disengaja."
"Saya ulangi, ini kelalaian yang disengaja. Aturan sudah diberikan, juklak juknis sudah diberikan, cara sudah diberikan, tapi Anda lalai dalam melaksanakan ini, namanya kelalaian yang disengaja."
"Bukan hanya dicopot, bukan hanya dipecat, kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf kami tidak bisa bantu," tegas Sudaryono.
Baca juga: Gubernur Al Haris: Tangkap Pembakar Tahura Batang Hari
Baca juga: 12 Saksi Diperiksa Terkait Kasus Penipuan Rekrutmen Polri di Jambi yang Seret 2 Brigadir
Baca juga: Profil Singkat KH Ahmad Fudholi, Penceramah asal Banten yang Kecelakaan di Tol Tangerang-Merak