RSUZA Jadi Episentrum Gastroenterologi, Gelar ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 Bertaraf Internasional
Mursal Ismail September 05, 2026 02:36 AM

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Komitmen RSUD Dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh sebagai rumah sakit rujukan utama sekaligus pusat pendidikan dan pengembangan ilmu kedokteran di wilayah barat Indonesia kembali ditunjukkan melalui penyelenggaraan ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026.

Kegiatan yang digelar melalui Instalasi Endoskopi, Hepatologi dan Bronkoskopi RSUDZA bersama PGI-PPHI-PEGI Cabang Aceh tersebut berlangsung pada Jumat, 4 September 2026, di lingkungan RSUD Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Workshop yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai itu menghadirkan pakar endoskopi dan gastroenterologi dari Indonesia dan Malaysia.

Kehadiran para pakar tersebut menjadikan kegiatan ini tidak hanya sebagai forum ilmiah, tetapi juga momentum untuk memperkuat posisi Aceh dalam pengembangan kompetensi gastroenterologi dan endoskopi di Indonesia.

ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 dirancang untuk memberikan pembekalan komprehensif kepada para dokter mengenai berbagai aspek tindakan endoskopi. 

Mulai dari persiapan pasien, teknik selama prosedur, penggunaan teknologi pencitraan terkini, hingga tata laksana pascatindakan.

Baca juga: Tak Cukup Biaya Berobat di Malaysia, RSUZA Fasilitasi Pasien Asal Bireuen Perawatan Coiling Otak

Workshop ini menghadirkan sejumlah pembicara yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang gastroenterologi dan endoskopi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Para narasumber tersebut yakni:

Dr. Chiam Keng Hoong – Pantai Hospital Penang, Malaysia.
Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE – RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Dr. dr. Fauzi Yusuf, Sp.PD-KGEH, FACG, FACP, FINASIM – RSUD Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.
Dr. dr. Azzaki Abubakar, Sp.PD-KGEH, FINASIM – RSUD Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Kehadiran Dr. Chiam Keng Hoong dari Pantai Hospital Penang, Malaysia, menjadi salah satu daya tarik utama kegiatan.

Kehadiran pembicara internasional tersebut sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman antara praktisi endoskopi di Aceh dan pusat layanan gastroenterologi di kawasan regional.

Sementara itu, kehadiran pakar nasional dan konsultan gastroenterohepatologi dari RS Cipto Mangunkusumo dan RSUDZA memperkuat aspek akademik sekaligus aplikatif dalam workshop tersebut.

Baca juga: Merasakan Denyut Kehidupan di RSUZA, Jantungnya Aceh

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Instalasi Endoskopi dan Hepatologi RSUD Dr. Zainoel Abidin, Dr. dr. Azzaki Abubakar, Sp.PD-KGEH, FINASIM.

Dalam sambutannya, Dr. Azzaki menekankan bahwa perkembangan teknologi endoskopi saat ini menuntut dokter tidak hanya menguasai aspek teknis tindakan. 

Tetapi juga memahami seluruh rangkaian pelayanan endoskopi secara menyeluruh.

Mulai dari pemilihan pasien, persiapan sebelum tindakan, penguasaan anatomi dan teknik prosedural, interpretasi temuan endoskopi, penggunaan teknologi image-enhanced endoscopy, hingga pemantauan pasien setelah tindakan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kualitas pelayanan endoskopi.

“Endoskopi bukan hanya alat, tapi seni dan sains.

Workshop ini kita rancang untuk membahas tuntas mulai dari Upper GI, Lower GI, hingga ERCP dan teknologi terkini NBI Classification agar teman-teman sejawat memiliki bekal yang paripurna,” ujar Dr. Azzaki.

Baca juga: Tidak Seharusnya Ruang Inap RSUZA Terbengkalai

Menurutnya, pengembangan layanan endoskopi di RSUDZA harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Dengan demikian, teknologi yang tersedia dapat memberikan manfaat optimal bagi pasien sekaligus meningkatkan standar keselamatan dan mutu pelayanan.

Acara kemudian secara resmi dibuka oleh Direktur RSUD Dr. Zainoel Abidin yang pada kesempatan tersebut diwakili Wakil Direktur Penunjang, dr. Muhammad Fuad, Sp.PD-KHOM.

Dalam sambutan sekaligus pembukaannya, dr. Muhammad Fuad menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut serta kolaborasi antara RSUDZA, organisasi profesi, dan berbagai pihak yang mendukung pengembangan pendidikan kedokteran berkelanjutan di Aceh.

Menurutnya, kehadiran pakar internasional dari Malaysia di RSUDZA merupakan capaian penting sekaligus menunjukkan bahwa Aceh memiliki kapasitas untuk menjadi tuan rumah kegiatan ilmiah dengan standar internasional.

“Ini adalah investasi jangka panjang. Dengan peningkatan kompetensi dokter-dokter kita, masyarakat Aceh tidak perlu lagi berobat jauh-jauh ke luar daerah atau luar negeri untuk mendapatkan layanan endoskopi terbaik.

Semua bisa kita lakukan di RSUDZA,” tegas dr. Muhammad Fuad saat membuka acara.

ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 mengangkat empat materi utama yang menjadi bagian penting dalam praktik endoskopi modern.

Pertama, Upper GI Endoscopy, yang membahas persiapan pasien, langkah-langkah selama prosedur, hingga tata laksana pascatindakan.

Kedua, Lower GI Endoscopy, dengan pembahasan mengenai prinsip persiapan, teknik selama prosedur, aspek keselamatan, serta pemantauan pasien setelah tindakan.

Ketiga, Image Enhanced Endoscopy (IEE) dan NBI Classification, yang menjadi salah satu materi unggulan dalam workshop.

Keempat, ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography), yang membahas tahapan persiapan, pelaksanaan tindakan, hingga penanganan pasien setelah prosedur.

Keempat materi tersebut dipilih karena mencerminkan perkembangan endoskopi yang semakin kompleks dan membutuhkan kompetensi yang komprehensif.

Salah satu sesi yang mendapat perhatian dalam workshop adalah pembahasan mengenai Image Enhanced Endoscopy (IEE), khususnya Narrow Band Imaging (NBI).

Perkembangan teknologi pencitraan endoskopi memberikan kemampuan kepada dokter untuk mengevaluasi mukosa secara lebih detail dibandingkan pemeriksaan endoskopi konvensional.

NBI dapat membantu memperjelas pola permukaan mukosa dan vaskularisasi suatu lesi sehingga dokter dapat melakukan karakterisasi lesi dengan lebih baik.

Kemampuan tersebut penting dalam proses deteksi dini sekaligus membantu menentukan strategi tata laksana lesi saluran cerna.

Pembahasan mengenai NBI Classification juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperdalam kemampuan interpretasi temuan endoskopi. 

Dengan demikian, diharapkan ketepatan diagnosis dan pengambilan keputusan klinis dapat semakin meningkat.


Hal tersebut semakin penting mengingat penyakit saluran cerna, termasuk lesi prakanker dan kanker gastrointestinal, membutuhkan deteksi sedini mungkin untuk memberikan peluang terapi yang lebih optimal.

Selain aspek diagnostik, workshop juga memberikan perhatian terhadap perkembangan endoskopi terapeutik, salah satunya melalui pembahasan ERCP.

ERCP merupakan prosedur yang membutuhkan keterampilan khusus dan pengalaman memadai karena berkaitan dengan sistem bilier dan pankreas serta memiliki potensi komplikasi.

Melalui pembahasan yang mencakup tahap persiapan, pelaksanaan tindakan, dan perawatan pascatindakan, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih sistematis mengenai pelaksanaan prosedur secara aman dan efektif.

Penguatan kompetensi ERCP menjadi bagian penting dalam pengembangan layanan gastroenterologi di rumah sakit rujukan, terutama untuk menangani kasus gangguan saluran empedu dan pankreas yang membutuhkan intervensi endoskopi.

Penyelenggaraan ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan teoritis.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya continuous medical education serta peningkatan kualitas pelayanan pasien secara berkelanjutan.

Melalui forum seperti ini, dokter dapat memperoleh pembaruan mengenai perkembangan teknologi, teknik prosedural, standar keselamatan, serta berbagai pendekatan terkini dalam bidang endoskopi.

Kolaborasi antara RSUDZA, organisasi profesi, serta pembicara dari luar negeri juga menjadi sarana penting untuk membuka jejaring akademik dan profesional yang lebih luas.

Dengan pertukaran pengalaman tersebut, pengembangan layanan gastroenterologi di Aceh diharapkan tidak hanya mengikuti perkembangan nasional, tetapi juga mampu merespons dinamika perkembangan endoskopi di tingkat regional dan internasional.

Sebagai rumah sakit rujukan utama di Aceh, RSUDZA memiliki posisi strategis dalam memberikan pelayanan kesehatan sekaligus menjalankan fungsi pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

Penguatan Instalasi Endoskopi, Hepatologi dan Bronkoskopi menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung fungsi tersebut.

Berbagai kegiatan ilmiah yang menghadirkan pakar nasional dan internasional diharapkan dapat memperkuat ekosistem pendidikan kedokteran di RSUDZA.

Dalam jangka panjang, upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas pelayanan sekaligus mengurangi kebutuhan masyarakat Aceh untuk mencari layanan gastroenterologi di luar daerah.

ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 juga menunjukkan bahwa Banda Aceh memiliki potensi menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan ilmiah kedokteran berskala nasional maupun internasional.

Dengan dukungan fasilitas, sumber daya manusia, organisasi profesi, serta komitmen manajemen rumah sakit, RSUDZA diharapkan terus berkembang sebagai pusat unggulan layanan gastroenterohepatologi dan endoskopi di Sumatera.

Kegiatan ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 juga telah tervalidasi SKP Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sehingga memberikan nilai tambah bagi peserta dalam memenuhi kebutuhan pengembangan kompetensi profesional berkelanjutan.

Peserta kegiatan berjumlah 20 orang, terdiri atas 16 dokter spesialis penyakit dalam dari berbagai kabupaten/kota di Aceh dan empat dokter spesialis penyakit dalam dari Sumatera Utara.

Terselenggaranya kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari rangkaian kegiatan ilmiah dan pelatihan endoskopi yang dapat dilaksanakan secara berkesinambungan di RSUDZA.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pengembangan program KJSU bidang Gastroenterohepatologi Kementerian Kesehatan di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus menghadirkan perkembangan terbaru dalam bidang gastroenterologi dan endoskopi, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi antara RSUDZA dengan pusat-pusat gastroenterologi lainnya, baik di Indonesia maupun mancanegara.

Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan peningkatan kompetensi, RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh terus memperkuat langkahnya untuk menjadi salah satu pusat pengembangan gastroenterologi dan endoskopi di wilayah Sumatera dan Indonesia bagian barat.

ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 menjadi bukti bahwa dari ujung barat Indonesia, Aceh tidak hanya menjadi penerima perkembangan ilmu kedokteran, tetapi juga mampu menjadi bagian dari pusat pertukaran ilmu dan inovasi gastroenterologi bertaraf internasional. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.