Yayan merupakan anak purnawirawan TNI AL, tetapi disebut tidak memiliki keahlian atau pengalaman militer khusus.
Kemudian ada tiga warga Jawa Timur meninggal dunia pada Agustus 2026 dalam sejumlah kejadian terkait aktivitas sound horeg.
Anggota Komisi II DPR RI Eka Widodo mendesak pemerintah daerah merespons seruan MUI dan Muhammadiyah Jawa Timur untuk melarang sound horeg.
Ia juga meminta Kemendagri menerbitkan arahan agar larangan berlaku secara nasional demi keselamatan masyarakat.
1. Sosok Yayan asal Depok Jadi Tentara Bayaran Rusia, Anak Purnawirawan TNI, Tak Punya Keahlian Militer
Sosok delapan Warga Negara Indonesia (WNI) yang diduga menjadi tentara bayaran Rusia untuk berperang melawan Ukraina tengah menjadi sorotan.
Salah satu nama yang mencuat adalah Wahyu Oktavian Iskandar, pria asal Depok yang akrab disapa Yayan.
Yayan diketahui lahir pada 22 Oktober 1985 dan kini berusia 40 tahun.
Belakangan terungkap, Yayan merupakan anak seorang purnawirawan TNI Angkatan Laut (AL).
Namun, di balik keterlibatannya dalam perang Rusia-Ukraina, Yayan disebut tidak memiliki keahlian militer khusus.
Lantas, siapa sebenarnya sosok Yayan dan bagaimana kisahnya hingga bisa menjadi tentara bayaran Rusia?
Yayan sendiri tercatat sebagai warga RT 02/RW 06 Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat.
Ia tinggal di rumah milik orang tuanya di kawasan tersebut sejak kecil bersama dua kakak kandungnya.
Setelah dewasa, Yayan lebih banyak berkegiatan di luar kampungnya.
Ketua RT setempat, Saparudin membenarkan Yayan adalah warganya.
Ia tidak begitu mengenal sosok dari Yayan.
Baca selengkapnya.
2. Polda DIY Dituntut Minta Maaf Buntut Posting Tabung Oranye Tim Medis Diduga Semprotan Merica
Tabung cairan berwarna oranye viral usai aksi damai Aliansi Masyarakat Sipil yang berlangsung di simpang empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, pada Selasa (1/9/2026) malam
Sebab, dalam pernyataan dan unggahan yang dirilis media sosial resmi Polda DIY, polisi menyebut tabung cairan milik tim medis massa aksi sebagai cairan merica.
Belakangan diketahui cairan itu berisi antasida, obat untuk meredakan gejala sakit maag, perut kembung dan asam lambung berlebih.
Akun instagram Polda DIY (@poldajogja) mengunggah video dengan caption "FAKTA DI LAPANGAN".
Unggahan tersebut berisi video yang memperlihatkan sesorang menggunakan helm warna kuning dan rompi orange saat aksi massa sedang memegang spray, yang kemudian dilingkari diduga sebagai cairan merica.
"Berdasarkan rekaman visual dan bukti digital di lokasi, didapati adanya penggunaan tabung berisi cairan diduga merica atau spicy spray dari arah kerumunan massa saat terjadi gesekan akibat kesalahpahaman terkait penutupan jalan dengan warga setempat dalam aksi unjuk rasa dari Aliansi Mahasiswa UGM, Selasa 1 September 2026," tulis unggahan tersebut.
Akibat insiden tersebut, sebanyak 7 personel Polresta Yogyakarta mengalami gangguan kesehatan berupa sesak napas serta iritasi kemerahan pada kulit wajah akibat terpapar cairan tersebut," lanjutnya.
Narasi di akun Polda DIY tersebut mendapat respons beragam dari pengguna media sosial.
Kebanyakan netizen menyimpulkan bahwa oknum yang menyemprotkan pepper spray adalah sosok yang membawa botol oranye dalam video yang diunggah Polda.
Bahkan massa aksi kemudian diklaim sengaja menggunakan cairan merica untuk menyerang personel kepolisian.
Baca selengkapnya.
3. Puluhan Siswa SMAN 3 Nganjuk Diduga Keracunan MBG, Terungkap Makanan Mulai Basi, SPPG Disuspend BGN
Puluhan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Nganjuk, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (2/9/2026).
Rumah Sakit Bhayangkara Kabupaten Nganjuk menerima 26 siswa SMAN 3 Nganjuk yang diduga mengalami keracunan MBG.
Para siswa rata-rata mengeluhkan sakit perut, mual, muntah, menggigil, dan leukosit tinggi.
Kepala RS Bhayangkara Nganjuk, AKBP drg. Wahyu Ari Prananto, mengatakan dari 26 siswa, sebanyak 18 siswa diperbolehkan pulang atau rawat jalan.
"Siswa yang kami tangani berusia 15-16 tahun. Kami memberikan penanganan maksimal," ungkapnya kepada TribunJatim.com, Kamis (3/9/2026).
Wahyu menuturkan, delapan siswa sisanya masih mendapat perawatan di rumah sakit. Kemungkinan, empat di antaranya bisa rawat jalan lantaran kondisinya telah membaik.
"Yang empat siswa lain butuh perawatan lanjutan. Yang masih harus dirawat tensinya agak tinggi dan leukositnya agak tinggi," jelasnya.
Menu MBG Dicek Ternyata Mulai Basi
Tim dari RS Bhayangkara Kabupaten Nganjuk dikerahkan ke SMAN 3 Nganjuk, Rabu.
Di lokasi, tim melaksanakan pengecekan terhadap menu MBG yang diduga menjadi penyebab puluhan siswa keracunan.
Makanan yang disajikan berupa nasi goreng, tahu bulat, telur dadar, ayam suwir, acar, dan semangka.
Hasilnya, ditemukan dua item makanan mengalami pembusukan.
Baca selengkapnya.
4. Wakil Kepala BGN Kunjungi Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo, Minta Maaf atas Kasus Keracunan MBG
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Mayjen TNI (Purn.) Trenggono berkunjung ke Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat, (4/9/2026).
Trenggono menemui pengasuh ponpes dan menyampaikan permintaan maaf atas kasus keracunan ratusan santri setelah mereka menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami dari BGN, kemudian Ibu Menteri, langsung dari Kementerian PPA, kemudian dari Staf Kepresidenan hadir di sini dalam melihat dari dekat kejadian yang terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam,” kata Trenggono.
Menurut Trenggono, pengasuh ponpes telah berkata bahwa ada sekitar 740 santri yang terdampak. Dari jumlah itu, sebanyak 22 santri masih dirawat di rumah sakit, sedangkan yang lainnya sudah dipulangkan dan dalam keadaan baik.
“Kami sampaikan juga permohonan maaf kami atas mungkin kelalaian ataupun ketidakpatuhan petugas dapur dalam mengoperasikan dapur sehingga ada kejadian ini,” katanya.
Trenggono kemudian menyampaikan terima kasih kepada Bupati Sidoarjo Subandi yang menurutnya telah bertindak cepat sehingga kasus keracunan bisa tertangani dengan baik.
Dia mengaskan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bersangkutan telah dihentikan operasionalnya untuk sementara. Menurut Trenggono, pihaknya akan melakukan evaluasi dan investigasi.
"Kemudian, kepala dapur kita copot. Kita berhentikan. Nanti kita cek apakah ada hal-hal unsur lain yang kira-kira membuat kejadian fatal ini," kata dia.
Ketika ditanya awak media mengenai sudah adanya tersangka dalam kasus keracunan, Trenggono mengatakan belum.
Baca selengkapnya.
5. Warga Dilaporkan Meninggal, DPR Dorong Sound Horeg Dilarang Secara Nasional
Aktivitas sound horeg kembali menjadi sorotan setelah tiga warga di Jawa Timur dilaporkan meninggal dunia pada Agustus 2026 akibat dampak dari penggunaan perangkat suara berdaya tinggi tersebut.
Kondisi itu mendorong Anggota Komisi II DPR RI, Eka Widodo, mendesak pemerintah segera mengambil langkah tegas terhadap aktivitas sound horeg.
Legislator PKB itu meminta pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota merespons dorongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dan Muhammadiyah Jawa Timur yang meminta adanya larangan terhadap aktivitas sound horeg.
“Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus bergerak cepat merespons permintaan MUI dan Muhammadiyah untuk melarang sound horeg. Sudah banyak dampak buruk yang ditimbulkan oleh sound horeg,” kata Edo, sapaannya, kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).
Menurut Edo, sejumlah kejadian yang berkaitan dengan aktivitas sound horeg menunjukkan bahwa fenomena tersebut tidak lagi dapat semata-mata dipandang sebagai bentuk hiburan masyarakat.
Dia menyoroti penggunaan perangkat suara dengan intensitas tinggi yang disebut telah menimbulkan gangguan hingga berdampak pada keselamatan warga.
Salah satu peristiwa yang disoroti Edo adalah runtuhnya atap sebuah toko saat karnaval sound horeg melintas.
Runtuhnya atap tersebut mengenai pengunjung dan dilaporkan mengakibatkan korban meninggal dunia.
Edo menilai keselamatan masyarakat harus menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam menentukan kebijakan terkait aktivitas sound horeg.
“Kalau sudah ada dampak yang membahayakan keselamatan masyarakat, bahkan sampai menimbulkan korban meninggal dunia, pemerintah harus segera bertindak. Jangan sampai kita terus membiarkan aktivitas ini berlangsung dan baru bergerak setelah korban terus bertambah,” tegasnya.
Baca selengkapnya.
(Tribunnews.com)