Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi kreatif Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Potensi tersebut ditopang kekayaan budaya, talenta, kreativitas, serta intellectual property (IP) yang dimiliki para pelaku industri kreatif.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya mengatakan, tantangan yang dihadapi industri kreatif saat ini tidak berhenti pada kemampuan menciptakan karya berkualitas. Karya tersebut juga perlu dikembangkan menjadi bisnis yang mampu memberikan nilai ekonomi dan bersaing di pasar global.
“Kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi konten global. Kita ingin menjadi content powerhouse yang mampu membawa budaya, karakter, dan cerita Indonesia menjadi karya kreatif yang memiliki daya saing global, termasuk musik, film, animasi, dan gim,” ujar Teuku Riefky.dalam acararangkaian IdeaFest 2026, dikutip Sabtu (5/9/2026).
Menurut dia, penguatan ekosistem menjadi salah satu kunci agar pelaku ekonomi kreatif mampu melakukan scale up. Dukungan itu mencakup akses pembiayaan, teknologi, pengembangan IP, hingga perluasan pasar.

Teuku Riefky menegaskan, keberhasilan ekonomi kreatif tidak cukup diukur dari seberapa dikenal sebuah karya di tingkat global. Eksposur tersebut harus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi kreator dan mendorong terciptanya bisnis yang berkelanjutan.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana karya Indonesia dikenal dunia, tetapi bagaimana eksposur tersebut menghasilkan manfaat ekonomi bagi kreator. Kita ingin karya kreatif Indonesia berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, dan menarik investasi,” tegasnya.
Dia menilai gerakan Nusantara Rising dapat menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, investor, dan pelaku ekonomi kreatif. Salah satu fokusnya adalah menjembatani kebutuhan pembiayaan pelaku kreatif yang telah memiliki karya dan model bisnis, tetapi masih membutuhkan dukungan untuk berkembang lebih besar.
Kolaborasi tersebut sejalan dengan Rindekraf 2026–2045 dan RPJMN 2025–2029. Pemerintah melibatkan 26 kementerian/lembaga untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Penguatan ekosistem tersebut diharapkan dapat mendorong investasi, ekspor, penciptaan lapangan kerja, serta kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Perhatian pemerintah terhadap sektor ini juga diperkuat melalui program Creative by Indonesia yang menjadi bagian dari upaya pengembangan ekonomi kreatif nasional.
Pemerintah ingin membangun rantai nilai ekonomi kreatif secara lebih menyeluruh, mulai dari proses penciptaan karya hingga menghasilkan pendapatan bagi kreator dan pelaku usaha.
“Kita ingin memperkuat rantai nilai ekonomi kreatif dari penciptaan karya, pengembangan IP, produksi, pembiayaan, distribusi hingga monetisasi. Dengan ekosistem yang kuat, kreativitas bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus soft power Indonesia di tingkat global,” katanya.
Upaya memperkuat industri kreatif tersebut turut menjadi bagian dari pelaksanaan IdeaFest 2026. Mengusung tema “ReHumanize”, acara tersebut digelar pada 4–6 September 2026 di Jakarta.
IdeaFest menghadirkan konferensi, IdeaTalks, diskusi kreatif, pameran, serta ruang interaksi yang mempertemukan kreator, pelaku industri, komunitas, dan masyarakat. Berbagai isu dibahas, mulai dari kreativitas, teknologi, bisnis, budaya, hingga perkembangan industri kreatif.